Minggu, 08 Oktober 2023
Jumat, 06 Oktober 2023
Rabu, 14 Juni 2023
Hancurnya Peradaban Manusia
Agar
sukses menjadi manusia harus punya 4 hal ini, punya rasa simpati, punya rasa
malu, punya kerendahan hati, dan punya rasa benar salah. Kalau ada 4 hal ini dalam
diri kita berarti sudah sukses jadi manusia. Yang pertama Simpati ini ciri khas
manusia yaitu saling menyayangi, simpati itu kan kasih sayang, kemanusiaan jadi
manusia yang sejati itu punya rasa simpati, kalau ada saudaranya sakit
saudaranya susah saudaranya sengsara dia membantu ini ciri manusia, di luar
manusia tidak. Sekumpulan bebek itu kalau ada satu bebek sakit yang lain tidak
mikirin untuk menyembuhkan, bebek itu kalau mati tidak akan ada bebek lain yang
berbelasungkawa. Jadi manusia yang tidak ada rasa simpati sama sekali itu seperti
hewan, makanya kalau manusia kehilangan rasa simpati ini derajatnya turun,
bahkan dalam Al- Quran disebutkan bahwa dia bisa lebih rendah daripada
binatang.
Ciri
pertama kita sukses jadi manusia adalah punya
rasa simpati. Simpati itu sering digambarkan posisikan dirimu di posisi dia,
yang sedang sakit itu sebenarnya dia tapi aku ikut merasakan sakitnya, sehingga
aku bersimpati padanya. Yang galau dia tapi aku ikut merasakannya kasihan dia, sudah
umur berapa dia kasihan bolak-balik galau terus itu namanya simpati. Yang bisa
seperti itu hanya manusia, binatang dan makhluk yang lain tidak bisa. Diantara
kesuksesan kita jadi manusia SIMPATI. Ciri kedua adalah
malu atau segan, ini kalau dalam hadist banyak yang menyindir bahwa manusia itu
cirinya malu, kalau kamu tidak punya malu lakukan apapun yang kamu inginkan. Kuncinya
jadi manusia antara lain malu, kalau punya rasa malu berarti masih manusia.
Sebenarnya
tidak ada orang yang tahu kalau saya ambil gelasnya dua, yang satu saya taruh
di tas dan yang satu saya bawa botol sendiri lalu saya isikan mumpung belum ada
yang datang, ini tidak ada yang tahu tapi malu, ini berarti masih manusia. Kalau
sudah tidak punya malu kehilangan kualifikasi kemanusiaan, harus punya malu.
Malu untuk hal-hal yang buruk, jadi kalau tidak punya malu kata nabi kan
lakukan apapun, kuncinya cuma rasa malu. Malu ini nanti jadi dasar lahirnya
kebenaran dan keadilan. Kalau orang sudah malu berbuah jahat, orang malu berbuat
salah, itu kan lahirnya kebenaran. Saya bisa sebenernya membuat dia sengsara
dan susah, aku punya kuasa, aku harus adil, malu aku kalau ketahuan menyakiti
orang lain, itu harus punya rasa malu.
Selama
rasa malu, rasa segan ini masih ada, kita masih manusia. Akan Tetapi kalau
sudah tidak punya malu, perlu introspeksi diri lagi. Ini tadi kan perbuatan
jahat, tapi aku kok tidak malu ya, nah itu kamu coba instropeksi diri, sebenarnya
yang saya lakukan ini kalau ketahuan memalukan, tapi aku sendiri tidak malu. Sebenarnya
kamu harusnya malu dan malu adalah salah satu diantara kualifikasi kita
jadi manusia. Ciri ketiga yaitu rendah hati dan kerelaan,
hanya manusia yang mempunyai sifat murah hati, rendah hati, mendahulukan
temannya dan membela yang lain. Jadi, mengutamakan orang lain ini sumbernya kesusilaan
dan lawannya adalah egois. kalau kita hanya ingin enak sendiri, ingin menang
sendiri, ingin selalu diunggulkan, itu biasanya kita terus jadi sombong. Silahkan
dicek sebenarnya kalau kita ini manusia yang sejati, maka harus punya
kerendahan hati.
Binatang
tidak bisa dituntut rendah hati, kalau kita kadang-kadang saat sedang jalan di
depan kok di belakang ada orang tua terus kita minggir dan mempersilakan orang
yang lebih tua jalan duluan itu bisa, tapi bebek tidak bisa. Tidak ada bebek yang
sedang jalan terus ada bebek yang lebih tua terus dia minggir memberi jalan, tidak
ada hewan yang bisa begitu, yang bisa begitu manusia. Maka rendah hati,
menundukkan diri, tidak menyambungkan diri itu nanti kunci lahirnya moralitas kesusilaan.
Kalau kita tidak mampu merendahkan diri, ya kita menyebutnya sombong, selalu ingin
menang, ingin menaklukkan yang lain, ya kita perlu instropeksi lagi tentang
kemanusiaan kita. Kemudian ciri keempat rasa benar dan salah
yaitu kemampuan untuk memilih yang benar dan menghindari yang salah. Kemampuan
untuk nyaman dengan kebenaran dan tidak nyaman dengan kesalahan, itu ciri
manusia. Kalau manusia itu merasa nyaman dengan kesalahan, merasa tidak salah
padahal dia salah itu perlu di instropeksi lagi. perlu muhasabah lagi. Karena
cirinya manusia itu rasa benar dan rasa salah.
Memang
manusiawi kadang-kadang kita salah, tapi jangan sampai hilang rasa bersalah. Begitu
kamu kehilangan rasa bersalah, hidupmu akan bermasalah. Orang yang bohong
sekali itu, dia akan merasa sangat bersalah, tapi bohong dua kali rasa
bersalahnya tinggal separuh, bohong tiga kali mungkin tinggal seperempat,
bohong empat kali dia tidak akan ada rasa apa-apa. Sudah kemarin-kemarin bohong
sukses dan aman-aman saja, lama-lama terbiasa kamu bohong maka sense of
guilty-nya lama-lama bisa mati. Ketika sudah tidak berasa apa-apa meskipun kamu
salah, berarti kamu sudah kehilangan salah satu komponen besar dalam dirimu
sebagai manusia, yaitu rasa bersalah. Kadang-kadang mungkin tuntutan situasi
tidak sengaja membuat kita bersalah, tapi tetep saja kalau bisa rasa bersalahmu
jangan sampai mati. Cara agar rasa bersalah itu tidak sampai mati adalah jangan
dimaklumi, begitu kamu maklumi besok kamu tidak akan malu, tidak akan segan
lagi melakukan kesalahan lagi, terus kamu ulang-ulang sampai kamu mati rasa,
sudah kalau sudah mati rasa, maka rasa kemanusiaan juga akan mati. Kamu dengan
santainya menyakiti orang lain karena sudah biasa, kemarin juga begitu nah maka
hidupkan perasaan benar salah ini, bersyukurlah kalau benar dan perbaiki diri
kalau salah.
Jadi, kalau kalian menyebut diri kalian manusia, coba dicek masih hidupkah rasa simpati itu, masih adakah rasa malu, masih bisakah kamu rendah hati, dan masih terasakah kalau kamu benar atau salah. Selama ini masih ada Alhamdulillah, kalau ada satu komponen yang hilang cepat-cepat diperbaiki, manusia akan hancur peradabannya kalau 4 hal ini hilang. Ketika orang tidak saling bersimpati saling menyerang, ketika orang sudah tidak punya malu, ketika setiap orang ingin yang egois (mengunggulkan diri dan kepentingannya), ketika orang sudah tidak peduli lagi mana yang benar dan mana yang salah, maka kalau ini tidak diperbaiki lama-lama peradaban akan hancur. Jadi, mungkin tidak perlu menunggu kiamat, sebenarnya nanti yang menghancurkan peradaban manusia itu adalah manusia itu sendiri. Jadi, apapun yang terjadi tetaplah jadi manusia.
Wallahu a'lam…
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Senin, 15 Mei 2023
Karakter Nabi Adam
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Nabi Adam di dalam Al-Quran Allah sebutkan sebanyak 25 kali seperti jumlah nabi dan rasul yang dicatat dalam Alquran.
Kalau kita ambil dari akar kata Adam bisa
diartikan Campuran. Sebelum Adam, ada makhluk yang sudah Allah ciptakan
terlebih dahulu yaitu Malaikat. Malaikat adalah makhluk yang karakternya taat
maka disebutlah Malaikat yang tinggal di Alam Malakut (Alam Ketaatan). Kemudian
ada makhluk lain kebalikan dari Malaikat, yaitu syaitan dan binatang yang
bergerak berdasarkan intuisinya saja. Lalu Allah campurkan semua karakter tadi,
ada karakter Malaikat, Syaitan dan binatang, maka manusia nanti bisa jadi lebih
hina daripada binatang bahkan lebih hina daripada Syaitan dan juga manusia bisa
lebih mulia daripada Malaikat. Percampuran inilah yang disebut dengan kata adama.
Jadi Manusia adalah makhluk baru yang punya karakter baru hasil percampuran
dari karakter Malaikat, Syaitan dan Binatang. Lalu dimana tempat
percampurannya? tempat percampurannya itulah ada di dalam jiwa manusia.
Di dalam jiwa manusia, Allah sudah menanamkan
potensi baik dan buruk. Potensi baik ini mewakili sifat malaikat dan potensi
buruk mewakili sifat syaitan dan binatang. Kemudian Allah campurkan jadi satu
dalam jiwa manusia sebagaimana yang telah Allah sampaikan dalam firmannya:
وَنَفْسٍ
وَمَا سَوَّاهَا (7) فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا (8) قَدْ أَفْلَحَ
مَنْ زَكَّاهَا (9)
“Demi jiwa dan penyempurnaan (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu.”(QS. as-Syams [91]: 7-9).
Potensi baik dan buruk itu masuk ke dalam
diri manusia melalui data. Data yang masuk itu tentang apa? apakah tentang Syaitan,
apakah tentang binatang, atau tentang Malaikat, karena data yang masuk itulah
yang akan mempengaruhi seseorang. Apakah yang dominan data baik atau
sebaliknya. Maka dalam penggunaan kata Adam yang pertama dalam Al - Quran ada di
surat kedua Al-Baqarah ayat 31 di sana dibahan tentang soal pengajaran .
وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ
كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ
هَؤُلَاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
Artinya, “Dia mengajarkan Adam semua nama-nama (benda), kemudian
menampilkan semuanya di hadapan malaikat, lalu mengatakan, ‘Sebutkanlah
kepada-Ku nama-nama semua benda itu jika kamu memang benar orang-orang yang
benar,’” (Surat Al-Baqarah ayat 31).
“Dan Dia mengajarkan Adam”, disinilah kita tahu bahwa proses mengajar itu adalah Transfer Knowledge yaitu memasukkan pengetahuan / memasukkan data dari pendengaran (Auditory), penglihatan (Visual), dari perasaan (Kinestetik), maka Allah masukan data itu berupa segala macam ilmu. Dari sinilah bisa kita simpulkan bahwa Manusia adalah Makhluk Pembelajar. Karena dia belajar, dan dengan belajar itulah dia akan terbentuk menjadi apa dia kedepannya dari apa yang dia pelajari. Sementara binatang bukanlah makhluk pembelajar, mereka hanya menggunakan insting saja. Makanya kandang burung tidak pernah berinovasi kecuali dibuatkan oleh manusia. Akan tetapi manusia terus berkembang karena adanya Transfer Knowledge atau pengetahuan-pengetahuan baru. Itulah yang membuat manusia menjadi makhluk yang mulia. Jadi, Allah menjadikan manusia lebih mulia karena pengetahuannya akan tetapi juga manusia bisa menjadi hina karena pengetahuannya.
Ilmu yang mereka pilih akan mempengaruhi karakternya.
Karena dalam tubuh manusia itu sudah masuk banyak informasi dan bercampurnya semua
data, maka itulah perlu yang namanya aturan. Berkumpulnya data dalam pikiran
manusia ini tentulah membutuhkan saringan. Dimana saringan ini berasal? dari
apa yang sudah diketahui sebelumnya. Misalkan kalau sebelumnya yang masuk
data-data negatif, maka ketika ada data positif masuk pasti ditolak dikarenakan
ada perbedaan data. Jika data itu berlawanan dengan kebiasaan, maka otak akan
memfilter data apakah ini? kok beda. Karena itulah penting sekali muncul yang namanya aturan.
Aturanlah yang berfungsi untuk mengatur segala sesuatunya itu. Ketika
manusia itu memiliki aturan, maka manusia akan menjadikan aturan itu sebagai pedoman
dia untuk mengolah data.
Ketika sudah ada aturan, maka mulai ada
konsekuensi dalam setiap tindakannya. Ada reward ataupun punishment. Malaikat tidak
memerlukan aturan khusus karena dia adalah makhluk yang selalu taat, begitu
juga dengan syaitan karena memang sudah tugasnya untuk berbuat jahat, binatang juga
tidak memiliki aturan. Untuk konsekuensi, reward, ataupun, punishment hanya
terjadi pada manusia. Itulah Adam, dan kita sebagai anak cucu Adam, sudah Allah
berikan kelebihan-kelebihan yang tidak Allah berikan kepada makhluk yang lain.
Sesuai dengan firman Allah SWT.
۞ وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِيْٓ اٰدَمَ وَحَمَلْنٰهُمْ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنٰهُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ وَفَضَّلْنٰهُمْ عَلٰى كَثِيْرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيْلًا ࣖ
Artinya : Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.
Kita patut bersyukur, karena Allah sudah karena sebagai anak cucu adam kita diberikan kelebihan-kelebihan yang tidak Allah berikan kepada mereka. Dengan kelebihan-kelebihan itulah manusia mampu menjadi khalifah. Jadi apa yang telah di anugerahkan oleh Allah kepada nabi Adam diteruskan oleh kita sebagai anak cucu Adam. Karakter yang dicontohkan oleh Nabi Adam ini tentunya akan terus ada. Sepanjang masih ada manusia, maka sepanjang itupula lahir manusia-manusia mulia berikutnya.
Wallahu a'lam…
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Rabu, 22 Maret 2023
Sejarah Puasa
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Puasa yang sekarang kita lakukan ini tidak sama dengan puasa ketika pertama kali disyariatkan, dalam satu riwayat dijelaskan dulu puasa itu ketika pertama kali disyariatkan orang itu berpuasa, lalu ketika adzan maghrib maka kemudian mereka makan mereka boleh makan apa saja sampai mereka tertidur. Kalau sudah tidur maka tidak boleh makan sampai hari berikutnya itu puasanya orang dulu semacam itu. Jadi kalau puasa kemudian adzan magrib, sudah makan apa aja selama masih bangun dan tidak tertidur dia boleh makan apa saja, tapi kalau sudah tertidur maka kemudian tidak bisa lagi makan karena apa berarti makanan yang dia makan sebelum dia tidur dianggap makanan penutupnya.
Karena kemudian Qais bin Shirmah sepanjang hari dia sudah kerja di ladang maka kemudian akhirnya beliau mengantuk ketika istrinya lagi mencari makanan beliau tertidur, ketika istrinya balik sudah membawa makanan dia mendapati suaminya Qais bin Shirmah sudah tidur. Waduh celaka ini Qais bin Shirmah, suamiku belum makan banyak malah sudah tidur kalau sudah tidur tidak lagi boleh makan tidak boleh lagi minum, maka kemudian akhirnya pada saat itu Qais bin Shirmah bangun dan ketika saat itu sudah tidak bisa makan dan akhirnya dia melanjutkan hari berikutnya dengan berpuasa dengan bermodal tadi malam minum air putih. padahal dia harus kerja di ladang kembali. Sampai akhirnya pingsan Qais bin Shirmah ketika sedang di landang, maka ketika peristiwa itu sampai ke telinga Rasulullah tidak lama setelah itu turunlah satu ayat untuk kemudian merubah bagaimana puasa kita, yaitu adalah ketika puasa itu diberikan kepada kita, maka kemudian sampai kemudian ketika waktu adzan Maghrib datang kemudian waktu sampai fajar Shodiq itu datang kita masih boleh makan dan itu disebabkan kejadian nyata yang pernah menimpa kepada Qais bin Shirmah.
Wallahu a'lam…
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Senin, 20 Maret 2023
Selasa, 24 Januari 2023
“Mengapa Bulan Rajab menjadi bulan Istimewa?”
Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa di bulan-bulan mulia pasti didalamnya selalu memuat kisah-kisah istimewa. Begitu pula dengan bulan Rajab.
Para sejarawan Islam menyebutkan bahwa salah satu peristiwa besar yang terjadi pada bulan Rajab ini adalah karena awal mula Nur Nubuwah (Cahaya Kenabian) Rasulullah shallallahu alaihi wasallam diletakkan di rahim ibundanya, Siti Aminah pada bulan Rajab
Syekh Yusuf bin Isma’il an-Nabhani dalam kitabnya, Al-Anwârul Muḫamamdiyah (yang disarikan dari kitab Mawâhibul Laddûniyah) menjelaskan,
Ketika hendak menitipkan Nabi Muhammad dalam rahim Siti Aminah pada malam Jumu'ah di bulan Rajab, Allah swt memerintahkan Malaikat Ridwan (penjaga pintu surga) untuk membuka pintu Surga Firdaus sebagai bentuk penghormatan.
Saat itu pula, terdengar seruan malaikat yang terdengar di langit dan bumi,
“Perhatian..., sesungguhnya cahaya suci Nabi Muhammad saw, pada malam ini sudah berada dalam rahim Aminah. Dialah Muhammad saw, sosok manusia yang mempunyai akhlak mulia yang sempurna yang akan diutus sebagai pembawa kabar gembira sekaligus peringatan. (Yusuf bin Isma’il an-Nabhani, Al-Anwârul Muḫamamdiyah, [Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyah, 1997], h. 15)
Jika merujuk pendapat ulama yang mengatakan Nabi lahir pada bulan Rabi’ul Awwal, maka jelas Nabi Muhammad saw berada dalam kandungan ibunya selama 9 bulan dimulai dari bulan Rajab.
Menurut Syekh Az-Zurqani dalam Syarah Mawâhibul Laddûniyah, ini adalah pendapat yang shahih. (Az-Zurqani, Syarah Al-Mawahibul Ladduniyah, [Maktabah Syamilah Online], juz I, h. 257)
Dalam hadits Ibnu Ishaq dijelaskan, Siti Aminah pernah menceritakan kisah saat dirinya sedang mengandung janin Nabi Muhammad, Ada suara tanpa terlihat rupanya yang berkata padanya, “Sungguh engkau sedang mengandung seorang pemimpin umat.”
Lantas Aminah menimpali, “Aku tidak merasa bahwa diriku sedang hamil, juga tidak merasakan berat sebagaimana yang dirasakan oleh wanita hamil pada umumnya. Hanya saja, aku merasa janggal karena aku tidak mengalami datang bulan (yang menjadi salah satu ciri-ciri wanita hamil).” (Yusuf bin Isma’il an-Nabhani, h. 15)
Wallahu a'lam…









