Minggu, 15 Februari 2026

Sebuah Garis di Lantai Istana

Kemenangan paling mulia adalah ketika engkau unggul tanpa melukai siapa pun.

Assalamualaykum wr wb

Suatu hari, Sultan menggambar sebuah garis di lantai istana. Lalu ia berkata kepada para penasihatnya, “Siapa di antara kalian yang bisa memendekkan garis ini tanpa menyentuh atau menghapusnya?”

Semua orang terdiam. Mereka berpikir keras, tetapi tidak ada yang berani mencoba, karena syaratnya tidak boleh menyentuh garis tersebut.

Kemudian, seorang penasihat yang cerdik maju. Ia tidak menyentuh garis Sultan sama sekali. Ia justru menggambar garis lain di sampingnya—sejajar, tetapi lebih panjang.

Ia lalu berkata, “Wahai Sultan, sekarang garis Paduka menjadi lebih pendek.”

Semua yang hadir pun tersadar. Garis Sultan tidak dihapus, tidak disentuh, tetapi terlihat lebih pendek karena ada garis lain yang lebih panjang.

Dari peristiwa itu, Sultan memahami sebuah pelajaran penting: untuk mengalahkan orang lain, tidak selalu harus menjatuhkan atau merusaknya. Cukup dengan memperbaiki diri dan membuat kebaikan yang lebih besar, maka dengan sendirinya kita akan unggul.

Inilah makna dari berlomba-lomba dalam kebaikan—fastabiqul khairat—bukan tentang siapa yang berhasil menjatuhkan, tetapi siapa yang berhasil memperbanyak kebaikan.

Cara elegan mengalahkan adalah dengan menjadi lebih baik, bukan membuat orang lain lebih buruk.

Wassalamualaykum wr wb


BERUSAHA JADI ORANG NORMAL

Letak Tengah Dunia

Kadang jawaban terbaik adalah cermin, agar penanya melihat keterbatasannya sendiri.

Assalamualaykum wr wb

Suatu hari, seorang Kasim di istana berusaha menjatuhkan Birbal. Ia memuji-muji Birbal di hadapan Akbar, tetapi sebenarnya ingin mempermalukannya dengan pertanyaan yang mustahil dijawab.

Sultan pun memanggil Birbal dan memberikan tiga pertanyaan:

  1. Di mana letak tengah dunia?

  2. Berapa jumlah bintang di langit?

  3. Berapa jumlah laki-laki dan perempuan di dunia?

Birbal meminta izin keluar sebentar. Ia kembali membawa palu, paku, dan seekor domba.

Untuk pertanyaan pertama, Birbal berjalan ke suatu titik di halaman istana, lalu menancapkan paku ke tanah dan berkata,
“Di sinilah tengah dunia. Jika tidak percaya, silakan ukur sendiri.”

Untuk pertanyaan kedua, ia menunjuk domba yang dibawanya dan berkata,
“Jumlah bintang di langit sama dengan jumlah bulu domba ini. Jika ragu, silakan hitung sendiri.”

Semua orang terdiam.

Lalu untuk pertanyaan ketiga, Birbal berkata,
“Saya sebenarnya tahu jumlah laki-laki dan perempuan. Tetapi saya bingung, para Kasim ini harus dihitung sebagai laki-laki atau perempuan. Jika semua Kasim disingkirkan, barulah saya bisa memastikan jumlahnya.”

Mendengar itu, semua orang terdiam, dan Sultan pun memahami maksudnya.

Pelajarannya, Birbal menunjukkan bahwa ada pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa dibuktikan secara pasti. Ia menjawabnya bukan dengan angka, tetapi dengan kecerdikan—menunjukkan bahwa tidak semua hal bisa diverifikasi, dan kadang jawaban terbaik adalah menyadarkan penanya akan keterbatasan pertanyaannya sendiri.

Kebijaksanaan bukan selalu tentang memberi jawaban pasti, tetapi tentang memahami batas antara kenyataan dan spekulasi.

Wassalamualaykum wr wb


BARUSAHA JADI ORANG NORMAL

Jumlah Seluruh Burung di Negeri Ini

Banyak orang lelah bukan karena bekerja terlalu keras, tetapi karena memikirkan terlalu banyak hal yang tidak perlu.

Assalamualaykum wr wb

Suatu hari, Sultan berjalan-jalan bersama Tirto. Di tengah perjalanan, mereka melihat sekawanan burung terbang melintas. Karena iseng, Sultan bertanya,

“Menurutmu, berapa jumlah seluruh burung di negeri ini?”

Tirto menjawab dengan tenang, “Sekitar 95.000 ekor, Tuanku.”

Sultan tersenyum, lalu menguji, “Bagaimana kalau jumlahnya lebih banyak?”

Tirto menjawab, “Kalau lebih banyak, berarti ada burung dari negeri lain yang sedang berkunjung ke sini.”

“Kalau lebih sedikit?” tanya Sultan lagi.

“Berarti burung-burung kita sedang bepergian ke luar negeri, Tuanku.”

Jawaban itu membuat Sultan terdiam, lalu tersenyum kagum.

Sesungguhnya, Tirto tahu pertanyaan itu bukan pertanyaan penting. Bukan tentang benar atau salah angkanya, tetapi tentang menyikapi hal yang memang tidak membawa manfaat nyata. Ia tidak membuang energi untuk hal yang tidak relevan dengan kehidupan.

Dari kisah itu, ada pelajaran berharga: dalam hidup, banyak hal yang sebenarnya tidak penting, tetapi sering menyita pikiran kita. Kita sibuk memikirkan urusan orang lain, gosip, atau hal-hal yang tidak memberi dampak pada diri kita.

Padahal, hidup ini terbatas. Energi kita berharga. 

Orang bijak bukanlah orang yang tahu semua hal, tetapi orang yang tahu hal mana yang layak untuk dipikirkan—dan mana yang sebaiknya dilepaskan.

Wassalamualaykum wr wb


BERUSAHA JADI ORANG NORMAL

Cincin Sang Raja

Kebenaran tidak selalu membutuhkan bukti—kadang cukup menunggu hati yang bersalah mengkhianati dirinya sendiri.

Assalamualaykum wr wb

Suatu hari, cincin kesayangan Akbar hilang dari istana. Cincin itu sangat berharga karena merupakan warisan dari ayahnya. Akbar yakin bahwa pencurinya adalah salah satu orang yang ada di dalam istana, namun ia tidak tahu siapa pelakunya. Maka semua penghuni istana dikumpulkan. Dengan wajah marah, Akbar berkata, “Aku tahu cincinku dicuri oleh salah satu dari kalian. Tapi siapa?”

Kemudian, Birbal maju dan berkata dengan tenang, “Baginda, pencurinya mudah dikenali. Orang yang mencuri cincin itu adalah orang yang jenggotnya terkena cat tembok istana.”

Mendengar itu, salah satu orang tanpa sadar langsung mengusap jenggotnya, seolah ingin membersihkan sesuatu. Birbal segera menunjuknya dan berkata, “Dialah pencurinya.”

Akbar terkejut. “Bagaimana kau bisa tahu?” tanya Baginda.

Birbal menjawab, “Orang yang bersalah hidup dalam ketakutan. Ketika ia mendengar sesuatu yang menyinggung dirinya, rasa takutnya membuatnya bereaksi tanpa sadar. Bukan cat di jenggotnya yang membuktikan, tapi ketakutannya sendiri yang mengungkapkan kebenaran.”

Sejak saat itu, Akbar semakin yakin bahwa, 

Kesalahan mungkin bisa disembunyikan oleh kata-kata, tetapi sulit disembunyikan dari hati yang gelisah.

Wassalamualaykum wr wb


BERUSAHA JADI ORANG NORMAL

Sumur Tetangga

Keadilan tidak selalu menang dengan kekuatan, tetapi selalu menang dengan kecerdasan.

Assalamualaykum wr wb

Suatu hari, seorang petani berselisih dengan tetangganya. Petani itu telah membeli sebuah sumur dari tetangganya, tetapi ketika ia hendak mengambil air untuk mengairi ladangnya, tetangganya melarang.

“Sumurnya memang sudah kamu beli,” kata tetangga itu, “tetapi airnya masih milikku.”

Perselisihan itu pun dibawa menghadap Akbar. Sang Sultan merasa bingung. Bagaimana mungkin sumurnya sudah dijual, tetapi airnya tidak boleh diambil?

Kemudian Sultan memanggil Birbal, penasihatnya yang terkenal cerdik.

Setelah mendengar masalah itu, Birbal berkata kepada si penjual sumur,
“Jika benar air di dalam sumur itu masih milikmu, maka engkau tidak berhak menyimpannya di dalam sumur yang sudah menjadi milik petani ini.”

Semua orang terdiam.

Birbal melanjutkan,
“Karena sumur itu milik petani, sementara air itu milikmu, berarti engkau sedang menitipkan airmu di dalam sumur miliknya. Maka, engkau harus membayar sewa kepada petani setiap hari atas penggunaan sumurnya.”

Mendengar keputusan itu, si penjual tidak bisa membantah. Ia akhirnya mengalah.

Dari peristiwa itu, tampak bahwa kecerdikan bukan untuk menipu, tetapi untuk menegakkan keadilan. Terkadang, menghadapi orang yang curang tidak cukup hanya dengan kebaikan—tetapi juga dengan kecerdasan dan ketegasan, agar kebenaran tetap menemukan jalannya.

Kebenaran mungkin diam, tapi kecerdikan akan membuatnya berbicara.

Wassalamualaykum wr wb


BERUSAHA JADI ORANG NORMAL

Sabtu, 14 Februari 2026

300 Koin Emas

Apa yang kau nikmati akan berlalu, tetapi apa yang kau ikhlaskan akan menunggumu.

Assalamualaykum wr wb

Suatu hari, Akbar ingin menguji kecerdikan para pembantunya. Ia memberikan sebuah kantong berisi 300 koin emas, lalu berkata:

“Siapa yang mampu membelanjakan koin ini dengan tiga cara:

  • Sepertiga dibelanjakan dan langsung mendapat balasan di dunia, bahkan lebih banyak.

  • Sepertiga dibelanjakan dan balasannya didapat di akhirat.

  • Sepertiga lagi dibelanjakan, tetapi balasannya tidak jelas—apakah di dunia atau di akhirat.”

Semua orang terdiam. Mereka bingung memikirkan maksudnya. Hingga akhirnya, Birbal maju dan berkata, “Hamba sanggup, Baginda.”

Pertama, Birbal menggunakan 100 koin emas untuk menghadiri pesta pernikahan seorang saudagar kaya. Ia memberikan koin itu sebagai hadiah atas nama Sultan Akbar. Saudagar itu sangat bahagia karena merasa dihormati oleh rajanya. Sebagai balasan, ia memberi hadiah kepada Birbal dengan jumlah yang jauh lebih banyak.
Inilah bagian yang dibelanjakan dan langsung mendapat balasan di dunia, bahkan lebih.

Kedua, Birbal menggunakan 100 koin emas untuk membantu fakir miskin, anak yatim, dan orang terlantar. Ia tidak menerima balasan apa pun di dunia.
Namun, ia yakin balasannya akan Allah berikan di akhirat.

Ketiga, Birbal menggunakan 100 koin emas terakhir untuk menonton pertunjukan musik dan hiburan bagi dirinya sendiri. Ia merasakan kesenangan, tetapi tidak ada keuntungan nyata yang tersisa setelahnya.
Balasannya tidak jelas—hanya kesenangan sementara yang segera berlalu.

  • Memberi dengan mengharap balasan dunia, biasanya akan mendapat balasan dunia.

  • Memberi dengan ikhlas, balasannya Allah simpan sebagai pahala yang kekal.

  • Membelanjakan untuk kesenangan diri semata, sering kali hanya memberi kebahagiaan sesaat, tanpa bekas yang abadi.

Harta yang kau beri dengan harapan, kembali sebagai balasan; harta yang kau beri dengan keikhlasan, kembali sebagai keabadian.

Wassalamualaykum wr wb

BERUSAHA JADI ORANG NORMAL

Mimpi Gigi Tanggal

 


Ucapan yang baik adalah sedekah yang tidak terlihat, tetapi terasa.

Assalamualaykum wr wb

Suatu ketika, Akbar bermimpi semua giginya copot, kecuali satu. Ia terbangun dengan gelisah. Mimpi itu terasa aneh dan membuat hatinya tidak tenang. Ia pun memanggil para ahli tafsir mimpi di istana dan meminta penjelasan.

Para ahli itu berkata, “Wahai Baginda, mimpi itu berarti semua keluarga Baginda akan meninggal lebih dulu, dan Baginda akan hidup seorang diri.”

Mendengar itu, Akbar tidak senang. Tafsir itu memang mungkin benar, tetapi terasa kasar dan menyakitkan. Lalu ia memanggil sahabatnya yang terkenal bijak, Birbal.

Birbal berkata dengan tenang, “Baginda, mimpi itu adalah kabar baik. Artinya, Baginda akan diberi umur paling panjang dibandingkan keluarga Baginda.”

Maknanya sama, tetapi cara menyampaikannya berbeda. Yang satu terdengar menakutkan, yang lain terasa menenangkan.

Dari kisah ini, kita belajar tentang retorika: kebenaran memang harus disampaikan, tetapi cara menyampaikannya harus tepat. Kata-kata yang sama bisa melukai atau menguatkan, tergantung bagaimana kita mengemasnya. Karena itu, dalam hidup, bukan hanya apa yang kita katakan yang penting, tetapi juga bagaimana kita mengatakannya.

Hati manusia lebih mudah dibuka oleh kata yang menenangkan daripada kata yang memenangkan.

Wassalamualaykum wr wb


BERUSAHA JADI ORANG NORMAL