Sabtu, 14 Februari 2026

300 Koin Emas

Apa yang kau nikmati akan berlalu, tetapi apa yang kau ikhlaskan akan menunggumu.

Assalamualaykum wr wb

Suatu hari, Akbar ingin menguji kecerdikan para pembantunya. Ia memberikan sebuah kantong berisi 300 koin emas, lalu berkata:

“Siapa yang mampu membelanjakan koin ini dengan tiga cara:

  • Sepertiga dibelanjakan dan langsung mendapat balasan di dunia, bahkan lebih banyak.

  • Sepertiga dibelanjakan dan balasannya didapat di akhirat.

  • Sepertiga lagi dibelanjakan, tetapi balasannya tidak jelas—apakah di dunia atau di akhirat.”

Semua orang terdiam. Mereka bingung memikirkan maksudnya. Hingga akhirnya, Birbal maju dan berkata, “Hamba sanggup, Baginda.”

Pertama, Birbal menggunakan 100 koin emas untuk menghadiri pesta pernikahan seorang saudagar kaya. Ia memberikan koin itu sebagai hadiah atas nama Sultan Akbar. Saudagar itu sangat bahagia karena merasa dihormati oleh rajanya. Sebagai balasan, ia memberi hadiah kepada Birbal dengan jumlah yang jauh lebih banyak.
Inilah bagian yang dibelanjakan dan langsung mendapat balasan di dunia, bahkan lebih.

Kedua, Birbal menggunakan 100 koin emas untuk membantu fakir miskin, anak yatim, dan orang terlantar. Ia tidak menerima balasan apa pun di dunia.
Namun, ia yakin balasannya akan Allah berikan di akhirat.

Ketiga, Birbal menggunakan 100 koin emas terakhir untuk menonton pertunjukan musik dan hiburan bagi dirinya sendiri. Ia merasakan kesenangan, tetapi tidak ada keuntungan nyata yang tersisa setelahnya.
Balasannya tidak jelas—hanya kesenangan sementara yang segera berlalu.

  • Memberi dengan mengharap balasan dunia, biasanya akan mendapat balasan dunia.

  • Memberi dengan ikhlas, balasannya Allah simpan sebagai pahala yang kekal.

  • Membelanjakan untuk kesenangan diri semata, sering kali hanya memberi kebahagiaan sesaat, tanpa bekas yang abadi.

Harta yang kau beri dengan harapan, kembali sebagai balasan; harta yang kau beri dengan keikhlasan, kembali sebagai keabadian.

Wassalamualaykum wr wb

BERUSAHA JADI ORANG NORMAL

Mimpi Gigi Tanggal

 


Ucapan yang baik adalah sedekah yang tidak terlihat, tetapi terasa.

Assalamualaykum wr wb

Suatu ketika, Akbar bermimpi semua giginya copot, kecuali satu. Ia terbangun dengan gelisah. Mimpi itu terasa aneh dan membuat hatinya tidak tenang. Ia pun memanggil para ahli tafsir mimpi di istana dan meminta penjelasan.

Para ahli itu berkata, “Wahai Baginda, mimpi itu berarti semua keluarga Baginda akan meninggal lebih dulu, dan Baginda akan hidup seorang diri.”

Mendengar itu, Akbar tidak senang. Tafsir itu memang mungkin benar, tetapi terasa kasar dan menyakitkan. Lalu ia memanggil sahabatnya yang terkenal bijak, Birbal.

Birbal berkata dengan tenang, “Baginda, mimpi itu adalah kabar baik. Artinya, Baginda akan diberi umur paling panjang dibandingkan keluarga Baginda.”

Maknanya sama, tetapi cara menyampaikannya berbeda. Yang satu terdengar menakutkan, yang lain terasa menenangkan.

Dari kisah ini, kita belajar tentang retorika: kebenaran memang harus disampaikan, tetapi cara menyampaikannya harus tepat. Kata-kata yang sama bisa melukai atau menguatkan, tergantung bagaimana kita mengemasnya. Karena itu, dalam hidup, bukan hanya apa yang kita katakan yang penting, tetapi juga bagaimana kita mengatakannya.

Hati manusia lebih mudah dibuka oleh kata yang menenangkan daripada kata yang memenangkan.

Wassalamualaykum wr wb


BERUSAHA JADI ORANG NORMAL


Senin, 02 Februari 2026

nth Term

 

مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍۗ وَاللّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَاۤءُۗ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ ۝٢٦١Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti (orang-orang yang menabur) sebutir biji (benih) yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.










































































































Rabu, 07 Januari 2026

materi 8 januari 2026

1. The head teacher wants answers to the following questions:

Do learners feel safe in the school environment?

Are learners satisfied with the school facilities (classrooms, toilets, library)?

Your task is to investigate these questions using a sample of the learners in the school.

a. What data will you collect?
b. How will you choose your sample?
c. How will you collect the data?

Give reasons for your answers.


2. A school canteen is used by students every day. You are doing a survey to find out what students think about the food and service. You want to talk to a sample of 80 students. The survey must be done during lunchtime.

a. What factors might affect a student’s opinion of the canteen?
b. Describe how you can choose a sample. Take account of the factors you identified in part a. Give any advantages and disadvantages of your method.











 https://almanhaj.or.id/12414-hadits-yang-paling-mulia-tentang-sifat-sifat-wali-wali-allah-2.html

https://www.instagram.com/p/DTKu33rEwcD/

https://www.instagram.com/p/DS_n2qUCWx3/

Senin, 29 Desember 2025

KEHEBATAN SHALAWAT NARIYAH

Jangan remehkan tugas sederhana—di sanalah kemuliaan sering disembunyikan.

Assalamualaykum wr wb


RAHASIA MBAH HASYIM MENGAJI SELAMA 120 TAHUN


40 TAHUN MENGAJI KEPADA IMAM BUKHARI, 


40 TAHUN MENGAJI KEPADA IMAM SYAFI'I, 


40 TAHUN MENGAJI KEPADA IMAM JUNAIDI DAN IMAM GHAZALI


================


Alkisah :


Ketika Mbah Hasyim nyantri di Bangkalan Madura beliau diberi tugas mengurusi kuda milik Mbah Kholil hingga kesempatan untuk ngajipun tidak banyak. 


Suatu hari Mbah Kholil kedatangan tamu seorang Kyai dari Jawa


Ketika tamu tersebut ditanya keperluannya apa, tamu tersebut langsung mengutarakan keperluannya kepada Mbah Kholil.


Tamu: “Mbah, saya datang kesini pertama niat silaturrahim dan yang kedua saya hendak menikahkan putri saya mengingat dia sudah cukup dewasa kiranya saya harus mencarikan jodoh untuknya 


Apalagi usia saya juga sudah di ambang pintu ajal yang tak lama lagi Allah pasti memanggil saya 


Untuk itu saya mohon petunjuk dan izin Kyai untuk mencarikannya”.


Tanpa berfikir panjang Mbah Kholil langsung memanggil Mbah Hasyim yang ada di belakang rumah beliau yang sedang ngurusi kuda. 


Mbah Hasyim yang mendengar suara gurunya memanggil spontan langsung lari menghadap sang guru.


Mbah Hasyim: “Iya Kyai Njenengan manggil saya?”


Mbah Kholil: “Iya”.

Tanpa banyak tanya lagi Mbah Hasyim langsung diam merunduk, lalu Mbah Kholil berkata kepada tamu beliau. Ini dia calon menantumu yang akan meneruskan perjuanganmu nanti 


Tamu pun terkejut tegang dan tak habis fikir sambil bergumam dalam hatinya, masa iya sih santri seperti ini akan mengurus pesantrenku? Sepertinya saya tidak yakin bila anak ini banyak ilmunya.


Mbah Hasyim sendiri pun terkejut, sambil bergumam dalam hatinya, masa iya ya Mbah Kholil tega akan menjodohkan saya dengan putrinya ulama’ yang begitu mulia, santrinya banyak dan berwibawa


Mbah Kholil lalu menyambung dawuhnya apa yang keduanya pikirkan.


Mbah Kholil: “Sudahlah kamu (tamu) pulang saja dan siapkan selamatannya di rumahmu. Tiga hari lagi aqad nikah dilaksanakan. 


Dan kamu Hasyim kembali ke belakang!”


Mbah Hasyim pun kembali ke tempat tugasnya dengan hati yang risau, pikiran kacau balau dan perasaan galau,


“Bagaimana saya bisa menjalani ini semua, kenapa guru tidak memberi tau sebelumnya atau paling tidak menawarkannya?” 


Gundah gulana bimbang ragu dan bingung terus berkecamuk dalam fikiran Mbah Hasyim. 


Di saat-saat seperti itulah tiba-tiba Hidayah Allah ditampakkan...


Bersambung.... 


SHALAWAT NARIYAH 


اللَّهُمَّ صَلِّ صَلاَةً كَامِلَةً وَسَلِّمْ سَلاَمًا تَامًّا عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍنِ الَّذِيْ تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقَدُ وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ وَتُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ وَتُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ وَحُسْنُ الْخَوَاتِيْمِ وَيُسْتَسْقَى الْغَمَامُ بِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ فيْ كُلِّ لَمْحَةٍ وَ نَفَسٍ بِعَدَدِ كُلِّ مَعْلُوْمٍ لَكَ


Allahumma sholli sholaatan kaamilatan wasallim salaaman. Taamman ‘ala sayyidina Muhammadinilladzi tanhalu bihil ‘uqodu wa tanfariju bihil kurobu. Wa tuqdhoo bihil hawaaiju wa tunaalu bihir roghooibu.


Wa husnul khowatiimi wa yustasqol ghomaamu biwajhihil kariimi wa ‘ala aalihi washohbihi fii kulli lamhatin wa nafasin bi’adadi kulli ma’lu mi lak


Artinya : “Ya Allah, limpahkanlah shalawat yang sempurna dan curahkanlah salam kesejahteraan yang penuh kepada junjungan kami Nabi Muhammad, 


Yang dengan sebab Nabi SAW 

Semua kesulitan dapat terpecahkan, Semua kesusahan dapat dilenyapkan, Semua keperluan dapat terpenuhi, Semua yang didambakan terkabul serta husnul khatimah dapat diraih, dan berkat diri nabi Muhammad yang mulia yang mulia hujanpun menjadi turun, 


Dan juga terlimpahkan kepada keluarganya serta para sahabatnya, di setiap detik dan hembusan nafas sebanyak bilangan semua yang diketahui oleh Engkau.”

Wassalamualaykum wr wb

Saat manusia meragukanmu, bisa jadi Allah sedang memilihmu.

JANGAN LUPA BERPRASANGKA BAIK

Minggu, 28 Desember 2025

Ketika Sayap Tak Lagi Dipercaya

“Mengikuti keramaian sering membuat kita lupa tujuan.”

Assalamualaykum wr wb
Ada sebuah kisah tentang seekor burung gagak yang terlalu sering berjalan di atas tanah. Karena kebiasaan itu, ia kehilangan kemampuannya untuk melangkah dengan baik, namun juga tidak lagi mampu terbang sebagaimana ia diciptakan. Ia tidak benar-benar menjadi pelari, tetapi juga kehilangan jati dirinya sebagai makhluk yang seharusnya terbang.

Kisah ini mengingatkan kita pada kehidupan manusia. Banyak dari kita yang mudah terombang-ambing oleh komentar orang lain—komentar yang sering kali datang dari mereka yang tidak sungguh-sungguh mengenal diri kita. Orang lain hanya melihat dari luar, sementara kitalah yang paling memahami diri kita secara mendalam: kekuatan, keterbatasan, tujuan, dan jalan hidup kita sendiri.

Namun sering kali, demi mendapatkan validasi, pujian, atau sekadar agar tidak ditolak, kita mengorbankan pemahaman kita terhadap diri sendiri. Kita mulai menyesuaikan diri dengan harapan orang lain, hingga perlahan-lahan menjauh dari jati diri kita. Akibatnya, seperti burung gagak tadi, kita tidak sungguh-sungguh menjadi apa pun: tidak optimal pada potensi asli, dan gagal dalam peran yang dipaksakan.

Karena itu, perjalanan hidup seharusnya diawali dengan pengenalan diri, lalu dilanjutkan dengan keberanian untuk menjadi diri sendiri. Ketika kita telah memahami siapa diri kita dan apa tujuan hidup kita, saat itulah kita perlu berdiri teguh di jalan yang kita yakini.

Al-Qur’an mengingatkan,
“Jika engkau mengikuti kebanyakan manusia di muka bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka hanya mengikuti persangkaan belaka dan tidak lain hanyalah berdusta.”

Pesannya jelas: tidak semua suara layak diikuti, dan tidak semua penilaian orang lain harus menjadi arah hidup kita.

Wassalamualaykum wr wb

“Kau diciptakan untuk terbang, bukan untuk memenuhi selera penonton.”

JANGAN LUPA BERPRASANGKA BAIK

“Seteguk Air dan Nilai Sebuah Kekuasaan”

 

Syukur bukan tentang memiliki segalanya, tetapi menyadari betapa berharganya hal-hal yang kita anggap sepele.

Assalamualaykum wr wb

Suatu hari, Khalifah Harun Al-Rasyid, penguasa besar di masanya yang dikenal cinta ilmu, bertemu dengan seorang sufi bernama Ibnu Sam’an. Dalam pertemuan itu, sang khalifah meminta nasihat darinya.

Ibnu Sam’an lalu berkata dengan tenang,
“Wahai Amirul Mukminin, seandainya minuman yang ada di hadapanmu ini dihalangi darimu, padahal engkau sangat haus, maukah engkau menebusnya dengan seluruh kerajaan yang engkau miliki?”

Harun Al-Rasyid menjawab jujur,
“Ya, tentu saja.”

Ibnu Sam’an melanjutkan,
“Baik. Sekarang bayangkan setelah engkau minum, engkau ingin buang air kecil, tetapi air seni itu tertahan dan tidak bisa keluar. Rasa sakitnya amat menyiksa. Maukah engkau menebus agar bisa buang air kecil dengan seluruh kerajaanmu?”

Sang khalifah kembali menjawab,
“Ya, tentu saja.”

Ibnu Sam’an pun menutup nasihatnya dengan kalimat yang mengguncang,
“Kalau begitu, wahai Amirul Mukminin, apa arti kerajaan yang engkau banggakan, jika nilainya bahkan tidak sebanding dengan seteguk air dan kemampuan buang air kecil?”

Harun Al-Rasyid terdiam. Ia menyadari bahwa nikmat yang selama ini dianggap sepele—air minum dan kesehatan tubuh—ternyata nilainya jauh lebih besar daripada kekuasaan dan harta yang ia miliki.

Kisah ini mengajarkan bahwa Allah telah menganugerahkan nikmat yang sangat mahal kepada manusia, namun sering kali kita lalai mensyukurinya. Padahal, satu nikmat kecil saja, jika dicabut, mampu membuat manusia rela menukar apa pun yang ia punya.

Wassalamualaykum wr wb

Kebahagiaan sejati lahir dari kesadaran, bukan dari kekuasaan.

JANGAN LUPA BERPRASANGKA BAIK