Kelembutan dalam berkata adalah bentuk tertinggi dari kebijaksanaan.
Assalamualaykum wr wb
Rasulullah ﷺ adalah tempat bertanya bagi umatnya dalam berbagai persoalan kehidupan, termasuk urusan rumah tangga yang paling pribadi sekalipun. Kelembutan dan keterbukaan beliau membuat para sahabat, baik laki-laki maupun perempuan, merasa nyaman menyampaikan masalah mereka.
Suatu hari, datang seorang perempuan—mantan istri Rifa’ah al-Quradhi—menghadap Rasulullah ﷺ untuk meminta penjelasan hukum. Ia mengadu bahwa dirinya telah ditalak tiga oleh suaminya, kemudian menikah lagi dengan laki-laki lain, namun merasa rumah tangga barunya tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Saat itu, di dekat Rasulullah ﷺ terdapat beberapa sahabat, di antaranya Abu Bakar R.A. dan Sa'id bin al-Ash. Karena topik yang disampaikan bersifat pribadi, Sa’id merasa kurang nyaman dan memilih keluar. Ia bahkan sempat mengisyaratkan agar Abu Bakar juga turut menjaga perasaan perempuan tersebut.
Namun Rasulullah ﷺ tetap bersikap tenang dan bijak. Beliau tidak memperkeruh suasana, bahkan tersenyum dengan penuh kelembutan. Dengan bahasa yang halus dan kiasan yang santun, beliau menjelaskan bahwa seorang perempuan yang telah ditalak tiga tidak dapat kembali kepada suami pertama, kecuali setelah menjalani pernikahan yang sah dengan suami kedua secara sempurna.
Penjelasan Rasulullah ﷺ, meskipun disampaikan dengan ungkapan kiasan yang ringan, mengandung makna hukum yang jelas dan mendalam. Cara beliau berbicara menunjukkan kebijaksanaan: menyampaikan hal sensitif tanpa melukai, mengajarkan hukum tanpa mengeraskan suasana.
Kisah ini menggambarkan betapa Rasulullah ﷺ mampu memadukan kejelasan hukum dengan kelembutan sikap. Bahkan dalam persoalan yang sangat pribadi, beliau tetap menjaga kehormatan, perasaan, dan martabat orang yang bertanya.
Wassalamualaykum wr wb
Hati yang tenang akan melahirkan ucapan yang menenangkan.
BERUSAHA JADI ORANG NORMAL