Senin, 02 Februari 2026

nth Term

 

مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍۗ وَاللّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَاۤءُۗ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ ۝٢٦١Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti (orang-orang yang menabur) sebutir biji (benih) yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.










































































































Rabu, 07 Januari 2026

materi 8 januari 2026

1. The head teacher wants answers to the following questions:

Do learners feel safe in the school environment?

Are learners satisfied with the school facilities (classrooms, toilets, library)?

Your task is to investigate these questions using a sample of the learners in the school.

a. What data will you collect?
b. How will you choose your sample?
c. How will you collect the data?

Give reasons for your answers.


2. A school canteen is used by students every day. You are doing a survey to find out what students think about the food and service. You want to talk to a sample of 80 students. The survey must be done during lunchtime.

a. What factors might affect a student’s opinion of the canteen?
b. Describe how you can choose a sample. Take account of the factors you identified in part a. Give any advantages and disadvantages of your method.











 https://almanhaj.or.id/12414-hadits-yang-paling-mulia-tentang-sifat-sifat-wali-wali-allah-2.html

https://www.instagram.com/p/DTKu33rEwcD/

https://www.instagram.com/p/DS_n2qUCWx3/

Senin, 29 Desember 2025

KEHEBATAN SHALAWAT NARIYAH

Jangan remehkan tugas sederhana—di sanalah kemuliaan sering disembunyikan.

Assalamualaykum wr wb


RAHASIA MBAH HASYIM MENGAJI SELAMA 120 TAHUN


40 TAHUN MENGAJI KEPADA IMAM BUKHARI, 


40 TAHUN MENGAJI KEPADA IMAM SYAFI'I, 


40 TAHUN MENGAJI KEPADA IMAM JUNAIDI DAN IMAM GHAZALI


================


Alkisah :


Ketika Mbah Hasyim nyantri di Bangkalan Madura beliau diberi tugas mengurusi kuda milik Mbah Kholil hingga kesempatan untuk ngajipun tidak banyak. 


Suatu hari Mbah Kholil kedatangan tamu seorang Kyai dari Jawa


Ketika tamu tersebut ditanya keperluannya apa, tamu tersebut langsung mengutarakan keperluannya kepada Mbah Kholil.


Tamu: “Mbah, saya datang kesini pertama niat silaturrahim dan yang kedua saya hendak menikahkan putri saya mengingat dia sudah cukup dewasa kiranya saya harus mencarikan jodoh untuknya 


Apalagi usia saya juga sudah di ambang pintu ajal yang tak lama lagi Allah pasti memanggil saya 


Untuk itu saya mohon petunjuk dan izin Kyai untuk mencarikannya”.


Tanpa berfikir panjang Mbah Kholil langsung memanggil Mbah Hasyim yang ada di belakang rumah beliau yang sedang ngurusi kuda. 


Mbah Hasyim yang mendengar suara gurunya memanggil spontan langsung lari menghadap sang guru.


Mbah Hasyim: “Iya Kyai Njenengan manggil saya?”


Mbah Kholil: “Iya”.

Tanpa banyak tanya lagi Mbah Hasyim langsung diam merunduk, lalu Mbah Kholil berkata kepada tamu beliau. Ini dia calon menantumu yang akan meneruskan perjuanganmu nanti 


Tamu pun terkejut tegang dan tak habis fikir sambil bergumam dalam hatinya, masa iya sih santri seperti ini akan mengurus pesantrenku? Sepertinya saya tidak yakin bila anak ini banyak ilmunya.


Mbah Hasyim sendiri pun terkejut, sambil bergumam dalam hatinya, masa iya ya Mbah Kholil tega akan menjodohkan saya dengan putrinya ulama’ yang begitu mulia, santrinya banyak dan berwibawa


Mbah Kholil lalu menyambung dawuhnya apa yang keduanya pikirkan.


Mbah Kholil: “Sudahlah kamu (tamu) pulang saja dan siapkan selamatannya di rumahmu. Tiga hari lagi aqad nikah dilaksanakan. 


Dan kamu Hasyim kembali ke belakang!”


Mbah Hasyim pun kembali ke tempat tugasnya dengan hati yang risau, pikiran kacau balau dan perasaan galau,


“Bagaimana saya bisa menjalani ini semua, kenapa guru tidak memberi tau sebelumnya atau paling tidak menawarkannya?” 


Gundah gulana bimbang ragu dan bingung terus berkecamuk dalam fikiran Mbah Hasyim. 


Di saat-saat seperti itulah tiba-tiba Hidayah Allah ditampakkan...


Bersambung.... 


SHALAWAT NARIYAH 


اللَّهُمَّ صَلِّ صَلاَةً كَامِلَةً وَسَلِّمْ سَلاَمًا تَامًّا عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍنِ الَّذِيْ تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقَدُ وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ وَتُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ وَتُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ وَحُسْنُ الْخَوَاتِيْمِ وَيُسْتَسْقَى الْغَمَامُ بِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ فيْ كُلِّ لَمْحَةٍ وَ نَفَسٍ بِعَدَدِ كُلِّ مَعْلُوْمٍ لَكَ


Allahumma sholli sholaatan kaamilatan wasallim salaaman. Taamman ‘ala sayyidina Muhammadinilladzi tanhalu bihil ‘uqodu wa tanfariju bihil kurobu. Wa tuqdhoo bihil hawaaiju wa tunaalu bihir roghooibu.


Wa husnul khowatiimi wa yustasqol ghomaamu biwajhihil kariimi wa ‘ala aalihi washohbihi fii kulli lamhatin wa nafasin bi’adadi kulli ma’lu mi lak


Artinya : “Ya Allah, limpahkanlah shalawat yang sempurna dan curahkanlah salam kesejahteraan yang penuh kepada junjungan kami Nabi Muhammad, 


Yang dengan sebab Nabi SAW 

Semua kesulitan dapat terpecahkan, Semua kesusahan dapat dilenyapkan, Semua keperluan dapat terpenuhi, Semua yang didambakan terkabul serta husnul khatimah dapat diraih, dan berkat diri nabi Muhammad yang mulia yang mulia hujanpun menjadi turun, 


Dan juga terlimpahkan kepada keluarganya serta para sahabatnya, di setiap detik dan hembusan nafas sebanyak bilangan semua yang diketahui oleh Engkau.”

Wassalamualaykum wr wb

Saat manusia meragukanmu, bisa jadi Allah sedang memilihmu.

JANGAN LUPA BERPRASANGKA BAIK

Minggu, 28 Desember 2025

Ketika Sayap Tak Lagi Dipercaya

“Mengikuti keramaian sering membuat kita lupa tujuan.”

Assalamualaykum wr wb
Ada sebuah kisah tentang seekor burung gagak yang terlalu sering berjalan di atas tanah. Karena kebiasaan itu, ia kehilangan kemampuannya untuk melangkah dengan baik, namun juga tidak lagi mampu terbang sebagaimana ia diciptakan. Ia tidak benar-benar menjadi pelari, tetapi juga kehilangan jati dirinya sebagai makhluk yang seharusnya terbang.

Kisah ini mengingatkan kita pada kehidupan manusia. Banyak dari kita yang mudah terombang-ambing oleh komentar orang lain—komentar yang sering kali datang dari mereka yang tidak sungguh-sungguh mengenal diri kita. Orang lain hanya melihat dari luar, sementara kitalah yang paling memahami diri kita secara mendalam: kekuatan, keterbatasan, tujuan, dan jalan hidup kita sendiri.

Namun sering kali, demi mendapatkan validasi, pujian, atau sekadar agar tidak ditolak, kita mengorbankan pemahaman kita terhadap diri sendiri. Kita mulai menyesuaikan diri dengan harapan orang lain, hingga perlahan-lahan menjauh dari jati diri kita. Akibatnya, seperti burung gagak tadi, kita tidak sungguh-sungguh menjadi apa pun: tidak optimal pada potensi asli, dan gagal dalam peran yang dipaksakan.

Karena itu, perjalanan hidup seharusnya diawali dengan pengenalan diri, lalu dilanjutkan dengan keberanian untuk menjadi diri sendiri. Ketika kita telah memahami siapa diri kita dan apa tujuan hidup kita, saat itulah kita perlu berdiri teguh di jalan yang kita yakini.

Al-Qur’an mengingatkan,
“Jika engkau mengikuti kebanyakan manusia di muka bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka hanya mengikuti persangkaan belaka dan tidak lain hanyalah berdusta.”

Pesannya jelas: tidak semua suara layak diikuti, dan tidak semua penilaian orang lain harus menjadi arah hidup kita.

Wassalamualaykum wr wb

“Kau diciptakan untuk terbang, bukan untuk memenuhi selera penonton.”

JANGAN LUPA BERPRASANGKA BAIK

“Seteguk Air dan Nilai Sebuah Kekuasaan”

 

Syukur bukan tentang memiliki segalanya, tetapi menyadari betapa berharganya hal-hal yang kita anggap sepele.

Assalamualaykum wr wb

Suatu hari, Khalifah Harun Al-Rasyid, penguasa besar di masanya yang dikenal cinta ilmu, bertemu dengan seorang sufi bernama Ibnu Sam’an. Dalam pertemuan itu, sang khalifah meminta nasihat darinya.

Ibnu Sam’an lalu berkata dengan tenang,
“Wahai Amirul Mukminin, seandainya minuman yang ada di hadapanmu ini dihalangi darimu, padahal engkau sangat haus, maukah engkau menebusnya dengan seluruh kerajaan yang engkau miliki?”

Harun Al-Rasyid menjawab jujur,
“Ya, tentu saja.”

Ibnu Sam’an melanjutkan,
“Baik. Sekarang bayangkan setelah engkau minum, engkau ingin buang air kecil, tetapi air seni itu tertahan dan tidak bisa keluar. Rasa sakitnya amat menyiksa. Maukah engkau menebus agar bisa buang air kecil dengan seluruh kerajaanmu?”

Sang khalifah kembali menjawab,
“Ya, tentu saja.”

Ibnu Sam’an pun menutup nasihatnya dengan kalimat yang mengguncang,
“Kalau begitu, wahai Amirul Mukminin, apa arti kerajaan yang engkau banggakan, jika nilainya bahkan tidak sebanding dengan seteguk air dan kemampuan buang air kecil?”

Harun Al-Rasyid terdiam. Ia menyadari bahwa nikmat yang selama ini dianggap sepele—air minum dan kesehatan tubuh—ternyata nilainya jauh lebih besar daripada kekuasaan dan harta yang ia miliki.

Kisah ini mengajarkan bahwa Allah telah menganugerahkan nikmat yang sangat mahal kepada manusia, namun sering kali kita lalai mensyukurinya. Padahal, satu nikmat kecil saja, jika dicabut, mampu membuat manusia rela menukar apa pun yang ia punya.

Wassalamualaykum wr wb

Kebahagiaan sejati lahir dari kesadaran, bukan dari kekuasaan.

JANGAN LUPA BERPRASANGKA BAIK

“Kesalahan dalam Meminta”

 

“Mintalah ampunan, bukan penderitaan.”

Assalamualaykum wr wb

Suatu hari, Rasulullah ﷺ mengunjungi seorang sahabat yang sedang sakit parah. Tubuhnya tampak kurus, lemah, dan tak berdaya, seakan penyakit itu telah menguras seluruh tenaganya. Melihat keadaan sahabatnya, Rasulullah ﷺ—dengan petunjuk dari Allah—bertanya dengan lembut,
“Apakah engkau pernah berdoa kepada Allah dengan permintaan yang tidak biasa?”

Sahabat itu terdiam sejenak, lalu teringat doanya di masa lalu. Ia berkata,
“Wahai Rasulullah, dahulu aku pernah berdoa: ‘Ya Allah, jangan Engkau siksa aku di akhirat karena dosa-dosaku. Jika Engkau hendak menyiksaku, maka jadikan siksaan itu di dunia saja.’”

Doa itu ternyata dikabulkan. Penyakit berat yang kini menimpanya adalah buah dari permintaannya sendiri.

Rasulullah ﷺ terkejut dan menegurnya dengan penuh kasih,
“Subhanallah, engkau tidak akan sanggup menanggungnya. Tidakkah lebih baik jika engkau berdoa:
Rabbanaa aatinaa fid-dunyaa hasanah, wa fil-aakhirati hasanah, wa qinaa ‘adzaaban-naar?”

Seakan Rasulullah ﷺ ingin menegaskan: bukankah Allah Maha Kuasa untuk memberi kebaikan sekaligus di dunia dan di akhirat? Mengapa manusia sering berdoa dengan permintaan yang setengah-setengah, bahkan memberatkan diri sendiri, seolah-olah Allah harus memilih antara satu kebaikan dan kebaikan lainnya?

Kisah ini mengajarkan bahwa sering kali pikiran kitalah yang membuat hidup terasa sempit. Kita sendiri yang memberi syarat-syarat aneh dalam doa, membebani diri dengan nazar dan harapan yang tidak proporsional, seakan kebaikan Allah itu terbatas.

Padahal, Allah Maha Luas rahmat-Nya. Yang dibutuhkan adalah mindset yang benar: berani berharap pada kebaikan yang utuh, tanpa merendahkan diri dengan prasangka bahwa kita hanya layak menderita.

Wassalamualaykum wr wb

“Doa yang salah bukan ditolak, tetapi bisa memberatkan diri sendiri.”

JANGAN LUPA BERPRASANGKA BAIK

Pelajaran dari Kutub Selatan

 

“Masalah kecil menjadi mematikan ketika diberi porsi berlebihan.”

Assalamualaykum wr wb

Seorang admiral dari Amerika Serikat yang dikenal sebagai penjelajah Kutub Selatan pernah menuliskan pengalamannya selama ekspedisi di wilayah paling ekstrem di bumi. Suhu di sana bisa mencapai 80 derajat di bawah nol, kondisi yang sedikit saja kesalahan—salah pakaian, salah perlengkapan—dapat langsung mengancam nyawa.

Namun, hal yang paling mengherankan bagi sang admiral bukan hanya ganasnya alam, melainkan perilaku manusia di dalamnya. Di tengah ancaman kematian yang nyata, para awak justru sering terlibat konflik akibat hal-hal yang sangat sepele. Mereka bertengkar karena ada yang melewati jatah waktu tidur, jengkel karena suara kunyahan teman saat makan, atau berselisih karena kebiasaan kecil yang sebenarnya tidak berarti apa-apa.

Sang admiral menyaksikan bagaimana masalah-masalah kecil mampu merampas kejernihan akal, bahkan pada orang-orang yang seharusnya sangat disiplin dan terlatih. Padahal, setiap detik hidup mereka berada di ujung bahaya. Ironisnya, justru hal-hal remeh itulah yang diberi porsi perhatian terlalu besar, sementara persoalan paling utama—bagaimana bertahan hidup—sering terabaikan.

Dari pengalaman itu, sang admiral menarik satu pelajaran penting: bukan semua masalah layak dibesarkan. Ada persoalan yang memang ada, tetapi ada pula masalah yang jauh lebih besar dan lebih mendesak yang sering kita anggap sepele. Ketika fokus kita salah, hal kecil bisa menghancurkan ketenangan, bahkan di saat hidup sedang dipertaruhkan.

Wassalamualaykum wr wb

“Hidup terancam bukan hanya oleh badai, tapi oleh fokus yang keliru.”

JANGAN LUPA BERPRASANGKA BAIK