Senin, 27 Juli 2020
Rabu, 22 Juli 2020
Kisah Seorang Ahli Puasa di Bulan Dzulhijjah
Dalam kitab An-Nawâdir karya Syaikh Syihabuddin
Ahmad ibn Salamah al-Qalyubi diceritakan, suatu kali Abu Yusuf Ya’qub bin Yusuf
bercerita tentang salah seorang sahabatnya yang unik.
Ia orang yang wara’ dan taqwa meski orang-orang
mengenal karibnya itu sebagai orang fasik dan pendosa.
Sudah dua puluh tahun Abu Yusuf melakukan tawaf di
sekitar Ka’bah bersamanya. Tak seperti Abu Yusuf yang berpuasa terus menerus
(dawâm), sahabatnya ini sehari puasa sehari berbuka.
Memasuki 10 hari bulan Dzulhijjah, sahabat Abu Yusuf
ini menunaikan puasa secara sempurna kendati ia berada di padang sahara yang
tandus.
Bersama Abu Yusuf, ia masuk kota Thurthus dan
menetap di sana untuk beberapa lama.
Di tempat gersang inilah, persisnya di sebuah
kawasan reruntuhan bangunan, ia wafat tanpa seorang pun yang tahu kecuali Abu
Yusuf.
Abu Yusuf pun keluar mencari kain kafan dan alangkah
kagetnya tatkala dirinya kembali menyaksikan kerumunan orang berkunjung,
mengafani, sekaligus menshalati jenazah sahabatnya tersebut di tempat yang
semula tak berpenghuni.
Karena begitu ramainya, Abu Yusuf sampai tak bisa
masuk lokasi reruntuhan bangunan itu.
Para pelayat menyebut-nyebut almarhum sebagai orang
yang zuhud dan termasuk dari kekasih Allah (waliyyullah).
“Subhanallah, siapa yang mengumumkan kematiannya
hingga orang-orang berbondong-bondong bertakziah, menshalati, dan menangisi
kepergiannya?” Kata Abu Yusuf.
--------
Setelah melalui perjuangan keras, Abu Yusuf akhirnya
berhasil menghampiri jenazah sahabatnya tersebut dan terperanjat saat melihat
kain kafan yang tak biasa. Pada kain itu tercantum tulisan berwarna hijau:
“Inilah
balasan orang yang mengutamakan ridha Allah ketimbang ridha dirinya sendiri;
orang yang rindu menemui-Ku dan karenanya Aku pun rindu menemuinya.”
Selepas melaksanakan shalat jenazah dan
mengebumikannya, rasa kantuk berat menghampiri Abu Yusuf hingga akhirnya ia
tertidur.
Dalam mimpi inilah Abu Yusuf menyaksikan sahabatnya
yang ahli puasa tersebut menunggang kuda hijau serta berpakaian hijau dengan
sebuah bendera di tangannya.
Di belakangnya ada seorang pemuda tampan berbau
harum.
Di belakang pemuda ini, ada dua orang tua diikuti di
belakangnya lagi satu orang tua dan satu pemuda.
“Siapa mereka?” tanya Abu Yusuf.
“Pemuda tampan itu adalah Nabi kita Muhammad Saw.
sedangkan dua orang tua itu adalah Abu Bakar dan Umar, sementara orang tua dan
pemuda itu adalah Utsman dan Ali.
Dan akulah pemegang bendera di depan mereka,” jelas
almarhum sahabatnya dalam mimpi itu.
“Hendak ke manakah mereka?” Abu Yusuf kembali
bertanya.
“Mereka ingin meziarahiku,” jawab sahabatnya.
Abu Yusuf pun merasa sangat kagum, “Bagaimana kau
bisa mendapatkan kemuliaan semacam ini?”
“Sebab
aku memprioritaskan ridha Allah dibanding ridha diriku sendiri dan aku berpuasa
pada 10 hari Dzulhijjah,” jawab sahabatnya.
Abu Yusuf pun bangun dari tidur, lalu sejak itu ia
tak pernah meninggalkan amalan puasa itu hingga akhir hayat.
Anjuran memperbanyak amal shalih pada 10 hari
pertama Dzulhijjah termaktub dalam beberapa hadits, salah satunya yang telah di
sebutkan di atas.
Meskipun disebutkan kata “sepuluh hari”, puasa jika dimulai 1 Dzulhijjah cukup dijalankan
sembilan hari.
Karena tanggal 10 Dzulhijjah (juga hari tasyriq: 11,
12, 13 Dzulhijjah) adalah hari terlarang untuk berpuasa.
Sebagaimana pendapat An-Nawawi sebagaimana dikutip
Al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi bahwa yang dimaksud dengan ayyamul ‘asyr
(10 hari) adalah 9 hari sejak tanggal 1 Dzulhijjah.
Selasa, 21 Juli 2020
Kisah Rahasia di Balik Foto Habib Sholeh Tanggul, Jember
Mengenang Haul Beliau hari ini yang ke 44
Beliau adalah Al-Imam Al-Qutub Habib Sholeh bin
Muhsin Al-Hamid Tanggul, Jember.
Sosoknya sangat berwibawa, jama’ahnya jutaan, dan
masyhur bukan hanya di Nusantara tapi juga di Timur Tengah.
Maqom kewaliannya sudah sampai pada tingkatan Wali
Qutb, (pemimpin para wali pada masanya).
Tamunya mulai dari rakyat kecil paling pelosok desa
hingga para pejabat tinggi negara, bahkan sampai Raja Arab Saudipun pernah
meminta bantuannya.
Al
Kisah :
Sayyid Alawi bin Abbas Al-Maliki Makkah adalah
ulama’ besar yang jadi rujukan hampir semua ulama pada masanya. Beliau juga
salah satu penasehat Raja Saudi. Saat itu, Raja memiliki anak cacat sejak
lahir. Anak itu tidak punya lubang dubur, karena lubang duburnya ada di
pinggang.
Tentu saja, sang raja sudah datang ke pengobatan
dimana saja. Tapi belum membuahkan hasil yang memuaskan.
Akhirnya Sayyid Alawi menyarankan agar sang raja
mengundang seorang habib yang penuh karomah dari Indonesia bernama Habib Sholeh
Bin Muchsin Al-Hamid atau akrab disapa Habib Sholeh Tanggul.
Sang raja akhirnya mengirimkan utusan untuk meminta
Habib Sholeh Tanggul berkenan datang ke Arab Saudi. Habib Sholeh akhirnya
bersedia dan berangkat bersama utusan sang raja.
Sang raja sudah menyiapkan jamuan istimewa kepada
tamunya yang dikenal keramat ini.
Sebelum bertemu langsung dengan raja, terlebih dulu
Habib Sholeh ngobrol santai dengan Sayyid Alawi, baru kemudian menghadap sang
raja.
Anak sang saja sudah siap duduk di kursi
kebesarannya.
Maka dihampirilah anak itu kemudian ditepuk-tepuk
belakangnya sambil berkata: “Bekher
Ente, Bekher Ente, InsyaAllah Bekher.”
Setelah mengucapkan itu, Habib Sholeh berkata kepada
Sayyid Alawi Al-Maliki: “Ayo Habib, kita
pergi dari sini, Ana pingin ke tempat antum saja.”
Sang Raja Arab yang mendengar ucapan itu agaknya
tersinggung dan berkata:
”Ya Habib Alawi, inikah yang antum bilang habib
keramat itu, tidak ada salam tidak ada perbincangan, malah mau pergi begitu
saja.”
Sayyid Alawi tetap bersikap santai dan tenang saja.
Selang beberapa saat, anak raja yang duduk di kursi
tadi berteriak.
“Allahu Akbar, Allahu Akbar. Lubang yang ada di
pinggang ketutup berubah ke belakang sebagaimana manusia normal Lainnya.
Oh iya, tadi belakang saya ditepuk-tepuk sama Habib
Sholeh itu.”
Akhirnya sang Raja menawarkan satu peti berisi emas
kepada Habib Sholeh.
“Simpan saja emasmu, Ana lebih kaya dari ente. Kalau
perlu ana yang kasih ente,” jawab Habib Sholeh.
“Habib, Ana punya anak perempuan. Kalau mau putri
ana, akan saya nikahkan denganmu lalu antum aku beri jabatan tinggi di sini,”
kata sang raja.
“Simpan saja putri ente. Ana punya syarifah di
rumah. Ana gak butuh jabatan dari Ente. Ana sudah punya jabatan dari Allah
SWT.” jawab Habib Sholeh.
Mendengar pembicaraan ini, Sayyid Alawi Al-Maliki
akhirnya menyarankan Habib Sholeh agar mau menerima emas tadi.
“Wahai Habib Sholeh, di Hadromaut kita punya
saudara-saudara yang susah. Ambil saja dan kasihkan kepada saudara-saudara kita
di sana.”
Akhirnya Habib Sholeh berkenan menerima saran Sayyid
Alawi.
Kemudian hadiah itu dibagikan kepada saudara-saudara
di Hadramaut.
Karena kisah ini, Habib Sholeh Tanggul di Hadramaut
sana dikenal sebagai habib yang paling kaya di Indonesia karena sering membantu
saudara-saudara yang ada di Hadramaut.
===========
Keajaiban
dibalik foto Habib Sholeh
Ada salah satu warga yang tinggal di daerah Ampel
Surabaya.
Saat itu, orangnya sangat membutuhkan biaya besar
untuk kebutuhan keluarganya.
Di rumahnya terpajang foto Habib Sholeh Tanggul dan
setiap ia melihat foto tersebut selalu berdo’a memohon kepada Allah dengan
berkah Habib Sholeh, agar ia mendapatkan uang yang ia butuhkan untuk
keluarganya.
Do’a itu dilakukannya berkali-kali.
Rupanya do'a orang ini terdengar secara batiniyah
oleh Habib Sholeh Tanggul. Sampai pada suatu hari, Habib Sholeh didatangi tamu
para pejabat pemerintah utusan Menteri Adam Malik.
Mereka datang dengan membawa hadiah untuk Habib
Sholeh berupa sejumlah uang yang cukup banyak.
“Coba
ambil uang yang kalian bawa itu sejumlah sekian juta dan serahkan kepada si
fulan yang rumahnya di daerah Ampel Surabaya,”
kata Habib Sholeh Tanggul.
“Atas karunia yang diberikan Allah itu, berikanlah
sebagian untuknya. Hanya itu saja, selebihnya kalian bawa kembali,” lanjut
Habib Sholeh.
Kemudian Habib Sholeh meminta kepada putranya, yaitu
Habib Muhammad bin Sholeh Al-Hamid untuk menulis alamat dan surat untuk orang
yang dituju sekitar Ampel Surabaya itu
Tidak lama kemudian, utusan Menteri Adam Malik itu
bergegas menuju rumah orang yang dimaksud Habib Sholeh.
Sampai di lokasi rumahnya, mereka langsung
menyerahkan sejumlah uang sebagaimana yang dimaksud Habib Sholeh.
“Ini
dari Habib Sholeh Tanggul. Ini juga sekaligus ada surat dari beliau,”
kata utusan itu.
Melihat dan mendengar apa yang disampaikan utusan itu,
orang yang selalu berdo’a itu menangis
histeris luar biasa dan tersungkur sujud syukur kepada Allah SWT. “Alhamdulillah.. Ini berkah cucu
Rasulullah,” katanya penuh bersyukur.
Orang itu kemudian penasaran dengan surat dari Habib
Sholeh. Lalu dibukanya surat itu, yang berisi sebuah pesan yang mengagetkan :
“Uang
inilah yang kau butuhkan sebagaimana permintaanmu kepada Allah di saat
memandang gambarku,” tulis Habib Sholeh Tanggul dalam
suratnya yang pendek itu.
Subhanallah…
Itulah karomah seorang kekasih Allah. Yang Kasih
sayangnya kepada sesama sungguh luar biasa. Hidupnya digunakan untuk
kemanfaatan umat seluas-luasnya.
Kisah ini disampaikan Al-Habib Abu Bakar bin Abdul
Qadir Mauladdawilah Malang yang bersumber dari kisah putra Habib Sholeh Tanggul,
yakni Habib Muhammad bin Sholeh Al-Hamid Tanggul.
Lahu Al Fatihah……
Selasa, 14 Juli 2020
KISAH SANG PENGGEMBALA
Disana ia menemui
seorang Badui yang sedang mengembala kambing. Dia adalah seorang muslim, orang
tersebut tidak mengenal Umar Bin Khattab.
Berkatalah Umar, hai
pengembala kambing, kami musafir yang sedang membutuhkan kambing. Bagaimana
kalau kambingmu kami beli?
Maka Pengembala kambing
tersebut berkata, wahai saudaraku, Aku
hanya pengembala. Ini kambing bukan
punyaku, ada pemiliknya saya cuma diamanahkan saja.
Lalu Umar ingin
memancing Ilmu dan iman orang ini, apakah sampai beriman tentang akhirat. Kata Umar begini saja, kau jual kepada kami uangnya kamu ambil nanti kau bilang sama tuanmu bahwa
kambingnya dimakan oleh serigala atau hilang.
Tiba
- tiba pengembala kambing menangis terisak-isak sampai tidak bisa jawab.
Kata umar, kenapa kau
menangis? Jelaskan!. setelah tenang baru dia mengatakan, wahai saudaraku andai saja pemilik kambing ini tidak tahu, bagaimana Tuhannya pemilik gembala itu?
maksudnya adalah Allah, maka umarpun
ikut menangis.
Bagaimana orang di
padang pasir, pengembala kambing, orang miskin bisa terkontrol untuk tidak mau
menjual sembarangan yang bukan milik dia.
Maka
keesokan harinya Umar Bin Khattab mengirim uang untuk membebaskan budak ini.
Inilah contoh bagaimana
Akhirat mendorong manusia untuk menjadi lebih berprestasi dan lebih bersosial. Jika
manusia tidak ada jiwa sosialnya, maka pikirannya selalu terpusat pada dunia.
Kalau saya bantu, saya
dapat apa dari orang ini. Setiap orang yang dimintai pertolongan, yang paling
pertama ditanya adalah bayarannya berapa? tujuannya apa? saya bisa dapat
manfaat apa?
Jika manusia yang berpikir tentang akhirat, maka target utamanya
adalah ini kesempatan membantu orang yang mau minta tolong sehingga saya akan dapat
pahala dari dia, ini terget utama.
Maka target manusia
yang berfokus pada akhirat akan berbeda targetnya dengan manusia yang berfokus
pada dunia.
Salam Hamdallah.
Mr.Aribcc
Blog http://arisukristi.blogspot.com
IG : mr.ari.bcc
Youtube : mr.aribccIG : mr.ari.bcc
SUAMI DAN KERIDHOANNYA
Oleh KH Maimoen Zubair.
Untuk mengenang 1 tahun wafatnya sang kiai
kharismatik
Ada seorang ibu, mau cerai dari suaminya. Sebelumnya
dia diskusi panjang dengan saya....
Ibu : Mbah Moen, saya sudah tidak kuat dengan suami saya.
Saya mau cerai saja...
Kyai : Emangnya kenapa bu?
Ibu : Ya suami saya udah tidak ada kerjanya, ga kreatif, ga bisa jadi pemimpin untuk anak - anak. Nanti gimana anak - anak saya kalau ayahnya
modelnya kayak begitu. Saya harus cari nafkah cape - cape dia santai aja di rumah.
Kyai : Oooh gitu, cuma itu aja?
Ibu : Sebenarnya masih banyak lagi, tapi ya itu
mungkin sebab yg paling utama.
Kyai : Oooooh... iya... mau tahu pandangan saya gak
bu?
Ibu : Boleh Mbah.
Kyai : Gini... ibarat orang punya kulkas, tapi
dipakainya untuk lemari pakaian, ya akhirnya ga bakal puas dengan produk kulkas
tersebut. Sudah ga muat banyak, ga ada gantungan pakaiannya, ga ada lacinya, ga
bisa dikunci, malah boros listrik...
Nah... itulah kalau kita pakai produk ga sesuai
fungsi. Sebagus apapun produknya kalau dipakai tidak sesuai peruntukannya ya ga
akan puas.
Ibu : Mmm... trus apa hubungannya sama suami saya?
Kyai : Ya... ibu berharap banget suami ibu jalankan
fungsi yang sekunder, bahkan tersier barangkali. Tapi fungsi primernya malah ga dipakai.
Ibu : Saya ga berharap lebih kok Mbah, Saya cuma
pengen dia nafkahi keluarga dengan baik. Saya cuma pengen dia jadi pemimpin
yang baik.
Kyai : Iya... itu
mah cuma fungsi sampingan dari suami.
Sayang atuh suami cuma diharapkan jadi begitu aja.
Fungsi primernya yang paling utama malah ga ibu harapkan dan ibu kejar.
Ibu : Mmmmm...
memang apa fungsi primernya seorang suami?
Kasih tau gak ya...
Kyai : Fungsi primer suami ibu itu adalah untuk jadi
tameng bagi dosa-dosa ibu dari neraka.
Saat ibu dapat ridho dari suami, maka... semua
dosa-dosa ibu langsung dimaafkan sama Allah atas keridhoan suami ibu.
Jadi, ibu punya seorang suami duduk diem aja, itu
sudah sangat manfaat untuk ibu, tinggal ibu aja gunakan fungsinya dengan maksimal.
Lakukan apapun yang terbaik yang ibu bisa lakukan
untuk dapatkan ridho suami.
Dalam sebuah hadits shohih disebutkan
“Ayyumam
roatin maatat wa zaujuha ‘anha roodhin dakholatil jannah”
Yang artinya “Bila ada seorang istri meninggal dunia
sedangkan suaminya ridho sepenuhnya kepadanya, maka langsung masuk syurga”
Selebihnya, itu cuma fungsi - fungsi sekunder dari suami.
Kejar dulu yang utama ini.
Suami ga kerja ya ga apa - apa... yang penting sudah jadi
suami ibu. Jangan lepaskan, jangan dicerai. Biarkan dia jadi tameng saja bagi
neraka.
Kalau cerai, nanti ibu langsung berhadapan dengan
api neraka. Dosa- dosa ibu ga ada yang menghapusnya, kecuali amalan ibu sangat
spesial dan udah ga ada dosa sama sekali.
Ibu tinggal cari ridhonya suami.
Kalau memang ibu yang cari nafkah ya ndak apa - apa. Semua
harta yg ibu berikan ke anak dan rumah tangga itu semuanya terhitung sedekah
yang sangat mulia. Jauh lebih mulia
daripada sedekah kepada anak yatim.
Ibu : kok bisa lebih mulia dari anak yatim?
Kyai : ya karen anak yatim ini bukan bagian dari hidup
ibu. Memberikannya adalah sedekah yang hukumnya sunnah.
Sementara suami, sudah terikat dengan akad nikah,
sudah menjadi bagian dari ibu.
Silahkan dibagi sedekah untuk orang lain dengan
sedekah untuk keluarga, tapi yang untuk keluarga, itu yg lebih utama.
Ibu: Tapi... kalau suami zalim bagaimana mbah? Bahkan KDRT
ke keluarga?
Kyai : Ya ndak apa - apa juga... tetap pertahankan. Karen semua
perbuatan zalim akan kembali kepada yang melakukannya. Suami akan menanggung
akibat KDRT yang dilakukannya. Siksaan Allah sangat pedih bagi suami yang tega
menyakiti keluarganya.
Sementara... Ibu fokus aja terus cari ridhonya
suami.
Pernah dengar? Istrinya Fir’aun masuk surga? Apa
kurangnya coba Fir’aun melakukan KDRT?
Bukan hanya ke sang istri, Fir’aun bahkan tega
membunuh bayi - bayi.
Ke istrinya Asiyah, Fir’aun menyiksanya dan bahkan
membunuhnya. Sampai terakhir Asiyah diabadikan oleh Allah di dalam Al-Qur’an.
Dia tidak meminta Fir’aun di adzab. Dia hanya
meminta imbalan atas kesabarannya “ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah
di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya dan
selamatkan aku dari kaum yang zalim” (66:11)
Ibu : Ya Allah... Mbah... terima kasih atas diskusinya.
Lalu apa yang harus saya lakukan?
Kyai : Ibu mau ikuti saran dari saya?
Ibu : Apa itu Mbah...?
Kyai : Lakukan ini selama 7 hari saja... setiap
malam, Tanyakan ke suami, “Abang, berapa
persen ridhonya abang sama aku hari ini?”
Kalau dia jawab 95%... jangan tidur. Lakukan apapun
untuk membuatnya menjawab sampai 100%. Mungkin dipijitin, mungkin dibuatkan
makanan, kopi, hidangkan buah, apapun... sampai dia mau jawab 100%. Baru
setelah dia jawab “iya, aku ridho sama kamu 100%” nah silahkan tidur....
Lakukan selama 7 hari dan rasakan kenikmatan dan
kebahagiaan yang akan ibu dapatkan.
Ibu : Baik Mbah
Kyai : Semoga Allah memuliakan ibu dan suami ibu.
Ibu : Aaaamiin ya Rabb... terima kasih Mbah Moen...
***
SELANG 5 HARI BERLALU, IBU ITU DATANG KEMBALI
MENGHADAP KYAI
Ibu : Mbah Moen.... ya Allah... terima kasih banyak...
saya ga tahu mau ngomong apa sama Mbah Moen...
Terima kasih sudah merubah hidup saya... hanya Allah
yang bisa memuliakan Mbah Moen dan keluarga...
Kyai : Alhamdulillah... gimana, saran saya, sudah
dijalankan?
Ibu: Iya Mbah Moen.. dan saya rasakan saya lebih
bahagia sekarang. Ini suami juga sudah mulai inisiatif cari kerjaan... walaupun
belum dapat, saya sudah cukup bahagia Mbah Moen, dia mau bantuin saya nganter
ke mana - mana.... ya Allah... enak banget Mbah Moen...
Kyai.: Alhamdulillah...
Ibu.: Saya mau terus lakukan saran Mbah, ga cuma 7
hari..., tapi mau saya lakukan selama - lamanya bolehkan Mbah Moen...?
Kyai.: Buoleh
buanget... lakukan sampai salah satu dari ibu atau suami, dijemput malaikat
dengan Husnul Khotimah...
Ibu.: Hehehe... makasiiiiih Mbah Moen...
Kyai.: Sama-sama
Catatan:
KH. Maimoen Zubair
(yang sering dipanggil Mbah Moen)
Adalah Ulama besar dan Tokoh NU dari Jawa Tengah
yang wafat di kota Makkah setahun yang lalu.
Lahu al fatihah....
HIKMAH
Disebutkan dalam hadits riwayat Imam Thabrani dari
Jarir bin Abdillah, dia berkata bahwa Nabi Saw bersabda;
من قرأ قل هو الله احد حين يدخل منزله نفت الفقر عن اهل
ذلك المنزل والجيران
Barangsiapa membaca qul huwallahu ahad (surah
Al-Ikhlas) ketika memasuki rumahnya, maka kefakiran akan hilang dari penghuni
rumah tersebut dan dari tetangganya.
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa di antara
keutamaan membaca surah Al-Ikhlas saat masuk rumah adalah diberikan kelimpahan
rezeki.
Diriwayatkan oleh Abu Musa Al-Madini dari Sahl bin
Sa’ad, dia berkata;
شكا رجل إلى رسول الله – صلى الله عليه وسلم – الفقر وضيق
المعيشة ؛ فقال له رسول الله – صلى الله عليه وسلم – : إذا دخلت البيت فسلم إن كان
فيه أحد ، وإن لم يكن فيه أحد فسلم علي ، واقرأ قل هو الله أحد مرة واحدة ففعل الرجل
فأدر الله عليه الرزق ، حتى أفاض على جيرانه
Ada seseorang yang mengadu kepada Rasulullah Saw
mengenai kefakiran dan kesulitan ekonominya.
Kemudian Rasulullah berkata kepadanya;
“Jika kamu masuk rumah, maka ucapkanlah salam jika
ada seseorang di dalamnya.
Jika tidak ada seseorang, maka ucapkanlah salam
padaku
Assalamu'alaika
ayyuhan nabiyyu warahmatullahi wabarakatuh,
Assalamu'alainaa
wa 'alaa ibaadillaahis sholihiin
Dan bacalah qul huwallahu ahad satu kali.
Lantas ia mengerjakan (sebagaimana perintah
Rasulullah Saw).
Tak lama kemudian Allah memberikan banyak rezeki
kepadanya hingga melimpah kepada tetangganya".
Wallahu a'lam
HEBATNYA SEDEKAH
Alkisah:
Pada suatu hari ada seorang pengemis mengetuk pintu
rumah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam...
Pengemis itu berkata: "Ya Rasulullah saya ingin
meminta sedekah."
Rasulullah bersabda:
"Wahai Aisyah berikan baju itu kepada pengemis
itu".
Sayyidah Aisyah pun melaksanakan perintah Rasulullah
shallallahu alaihi wasallam
Dengan hati yang sangat gembira, pengemis itu
menerima pemberian beliau, dan langsung pergi ke pasar serta berseru di
keramaian orang di pasar:
"Siapa
yang mau membeli baju Rasulullah?"
Maka dengan cepat berkumpullah orang-orang dipasar,
semua ingin membelinya.
Diantara mereka ada seseorang yang buta tapi kaya,
mendengar seruan tersebut, lalu menyuruh budaknya agar membelinya dengan harga
berapapun yang diminta, dan ia berkata kepada budaknya:
“Jika
kamu berhasil mendapatkan baju itu, maka kamu nanti merdeka”.
Akhirnya budak itupun berhasil mendapatkannya.
Kemudian diserahkanlah baju itu pada tuannya yang
buta tadi.
Alangkah gembiranya si buta tersebut...,
Dengan memegang baju Rasulullah shallallahu alaihi
wasallam itu, orang buta tersebut kemudian berdo'a :
“Yaa
Rabb dengan haq Rasulullah dan berkat baju yang suci ini, kembalikanlah
pandanganku... ".
Maka dengan izin Allah, spontan orang tersebut dapat
melihat kembali.
Keesokan harinya, ia pun pergi menghadap Rasulullah
shallallahu alaihi wasallam dengan penuh gembira dan berkata:
"Wahai
Rasulullah... pandanganku sudah kembali dan aku kembalikan baju anda sebagai
hadiah dariku... ".
Sebelumnya orang itu menceritakan kejadiannya
sehingga Rasulullah pun tertawa hingga tampak gigi gerahamnya, padahal biasanya
Rasulullah jarang sekali tertawa seperti itu...
Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
bersabda kepada Sayyidah Aisyah:
Langganan:
Postingan (Atom)





