Rabu, 09 Februari 2022

KEPUASAN DAN KEBAHAGIAAN


Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. 

Dalam kehidupan ini, kita akan dipisahkan dengan dua hal sederhana yang menjadi keinginan kita. Secara sederhana, manusia itu dibagi menjadi dua keinginannya yaitu ada yang ingin mendapatkan kepuasan, ada pula yang ingin mendapatkan kebahagiaan. Setiap pilihan dari kita ketika kita memilih diantara dua keinginan yang ada antara kesenangan dan kebahagiaan tentunya itu akan melahirkan langkah dan melahirkan planning yang berbeda dalam setiap kehidupan manusia.

 

Orang yang hanya ingin merasakan kesenangan dan dan kepuasan, itu bisa didapatkan dengan apa saja, tidak perlu berhati-hati, tidak perlu memilih yang halal ataupun yang haram, tidak perlu memperhatikan petunjuk, karena sesungguhnya kepuasan itu bisa didapatkan dengan begitu mudah. Orang tidak perlu sekolah untuk mendapatkan kepuasan, karena sesungguhnya kepuasan itu sesuatu fatamorgana yang dibuat sebagai ujian untuk manusia.

 

Zina menawarkan kepuasan karena dia menempuh cara yang paling instan tidak perlu repot dengan pernikahan dan tanggung jawabnya, akhirnya menawarkan kepuasan. Minuman alkohol itu juga menawarkan kepuasan, karena dengan dia minum alkohol, maka dia kemudian akan merasakan puas ketika dia sudah mulai candu dengan minumannya. Riba pun menawarkan kepuasan karena kita bisa mendapatkan barang-barang secara instan tanpa kita menikmati proses untuk bersabar padahal kita tahu apapun barang yang sudah ditetapkan menjadi milik kita, itu akan datang kepada kita walaupun kita tidak menyentuh dengan perkara riba, selama kita bersabar dengan waktu yang ditentukan. Itulah yang dimaksudkan dengan kepuasan.

 

Orang-orang yang tidak bersyukur, mereka selalu menawarkan kepuasan - kepuasan yang ditawarkan kepada manusia, supaya manusia bergerak menuju kepada kepuasan. Tapi tentunya kita paham orang yang puas belum tentu Bahagia, karena puas itu hanyalah pada kulitnya, orang yang puas itu hanya pada wajahnya, mungkin dia tertawa, mungkin dia tergelak-gelak di dalam ketawanya, mungkin dia tampaknya sumringah dan setelah dia mendapatkan kepuasan - kepuasan di dalam hidupnya, tetapi hati itu tidak memerlukan kepuasan, karena hati bukan diciptakan untuk bersinggungan dengan kepuasan.

 

 Hati itu part - nya membutuhkan kebahagiaan, dan disinilah kita paham bahwasanya orang yang puas itu belum tentu dia mendapatkan kebahagiaan. Makanya kesenangan - kesenangan yang menjadi jalan untuk meraih kepuasan itu tidak bisa mendekatkan kebahagiaan. Kalau orang yang puas, orang yang bersenang-senang, mereka bahagia tidak ada kisahnya seorang artis bunuh diri, tidak ada kisahnya orang yang sedang di puncak karirnya, mereka memakai narkoba dan mereka tidak perlu pergi ke klub ke diskotik kalau mereka merasakan kebahagiaan. Karena mereka hanya merasakan kebebasan dari kesenangan yang mereka umbar, itulah yang menjadikan mereka lupa bahwa hati itu diciptakan bukan klop dengan sebuah kepuasan, hati itu mencari pasangannya, dan pasangan hati itu adalah kebahagiaan.

 

Inilah yang kemudian kita pahami tentang kesenangan dan kepuasan. Kalau kemudian harapan kita dan keinginan kita dalam kehidupan itu bukan kepuasan dan kesenangan, tetapi kebahagiaan. Tentunya kebahagiaan itu berbeda dengan kepuasan dan kesenangan, kebahagiaan itu sesuatu yang sifatnya mahal, sesuatu yang sifatnya dilalui dengan proses dan harus membaca setiap petunjuk yang benar. Karena sesungguhnya sebagaimana mobil, kalau mobilnya ingin terawat dan mobilnya tetap bagus walaupun sudah tiga tahun, empat tahun, ya kita harus membaca petunjuk yang diberikan oleh pabriknya, supaya kita mampu memaksimalkan mobil yang kita miliki.

 

Orang yang ingin mencari kebahagiaan itu mereka terikat dengan petunjuk, karena kebahagiaan itu sesuatu yang sifatnya mahal dan kebahagiaan itu tidak bisa didapatkan kecuali dengan usaha yang keras, pengorbanan yang besar, dari setiap keinginan kita untuk mendapatkan kebahagiaan. Dan kebahagiaan itu harus terikat kepada sesuatu yang halal dan sesuatu yang diridhoi. Karena Bahagia itu letaknya di hati. Tidak mungkin orang yang mengikuti petunjuk lalu mereka bahagia, mungkin mereka puas, mereka senang, tapi belum tentu dia bahagia. Di dalam hatinya itu pasti berontak dan hatinya meronta - ronta setiap waktunya, karena hati itu pasangannya bukan pada kepuasan, tapi hati itu pasangannya kepada kebahagiaan. Karena kita ingin menjadi orang yang bahagia pada kehidupan kita di dunia yang singkat dan kehidupan kita yang selama-lamanya kelak dalam kehidupan di akhirat.

 

Inilah yang menjadikan kita harus betul – betul memahami, karena bahagia itu letaknya di hati. Dan itu tergambar pada surat yang pertama pada ayat yang pertama surah al-insyirah, “Bukankah kami yang melapangkan dadamu”. berarti kebahagiaan itu ada di dalam hati kita, bahagia itu letaknya pada dada kita, berarti inilah yang menjadikan kita harus memperhatikan Apa yang harus kita kondisikan pada hati kita sesuai dengan petunjuk yang diberikan sesuai dengan arahan yang diberikan dalam kehidupan kita.

 

Karena kita beribadah itu semata-mata kita tidak hanya shalat, tidak hanya puasa tapi salah satu diantara baiknya ibadah kita adalah bagaimana mengkondisikan hati kita betul-betul berada pada kondisi hati yang diridhoi.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Salam Hamdallah.

Mr.Aribcc

Selasa, 08 Februari 2022

BUKAN HANYA BAIK UNTUK BERPUASA

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Bukan Rajab selain disunnahkan berpuasa juga merupakan bulan yang baik untuk memperbanyak amalan istighfar, shalawat, tasbih dll.

 

Ada banyak keutamaan berdzikir dan istighfar yang dapat kita rasakan di bulan yang baik ini.

 

Seperti hikayat seorang wanita berikut :

 

Dari Kitab Mukasyafatul Qulub hal. 255, karya Imam Ghazali:

 

وَحُكِيَ أَنَّ امْرَأَةً فِيْ بَيْتِ الْمَقْدِسِ كَانَتْ تَقْرَأُ كُلَّ يَوْمٍ مِنْ رَجَبٍ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ اِثْنَتَيْ عَشْرَةَ أَلْفَ مَرَّةٍ وَكَانَتْ تَلْبَسُ الصُّوْفَ فِيْ شَهْرِ رَجَبٍ فَمَرِضَتْ وَأَوْصَتْ اِبْنَهَا أَنْ يَدْفِنَ مَعَهَا صُوْفَهَا فَلَمَّا مَاتَتْ كَفَّنَهَا فِيْ ثِيَابٍ مُرْتَفِعَةٍ فَرَآهَا فِيْ مَنَامِهِ تَقُوْلُ لَهُ أَنَا عَنْكَ غَيْرُ رَاضِيَةٍ لِأَنَّكَ لَمْ تَعْمَلْ بِوَصِيَّتِيْ فَانْتَبَهَ فَزِعًا وَأَخَذَ صُوْفَهَا لِيَدْفِنَهُ مَعَهَا فَنَبَشَ قَبْرَهَا فَلَمْ يَجِدْهَا فِيْهِ فَتَحَيَّرَ فَسَمِعَ نِدَاءً أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ مَنْ أَطَاعَنَا فِيْ رَجَبٍ لَا نَتْرُكُهُ فَرْدًا وَحِيْدًا

 

Artinya:

Diceritakan, bahwa ada seorang wanita di Baitul Maqdis. Dia selalu membaca surat Al Ikhlas (Qul Huwallaahu Ahad) setiap hari 12.000 kali di bulan Rajab,

 

Di bulan Rajab tersebut ia mengenakan pakaian yang terbuat dari bulu kambing (shuf / wol) .

 

Pada suatu ketika dia jatuh sakit ia berwasiat pada anak laki-lakinya, apabila dia meninggal nanti supaya dikubur bersama pakaiannya yang terbuat dari bulu itu

 

Tetapi ketika ibunya meninggal, si anak justru mengkafani jenazah ibunya dengan pakaian yang mahal.

 

Syahdan,

 

Pada malam harinya si anak tsb bermimpi melihat ibunya berkata padanya :

 

“Wahai anakku, aku tidak ridho kepadamu, karena kamu tidak melaksanakan wasiatku”

 

Maka si anakpun kaget dan terbangun dari tidurnya. Iapun cepat-cepat mengambil pakaian shuf ibunya untuk ia qubur bersama ibunya.

 

Lalu ia pun menggali kembali kuburan ibunya, namun dia sudah tidak mendapati ibunya di dalam kuburnya.

 

Dia pun panik, dan bingung sekali, tiba-tiba mendengar suara yang berkata : “Tidaklah engkau tahu, bahwa barangsiapa yang taat kepada kami di bulan Rajab maka tidak akan kami tinggalkan sendirian di dalam kuburnya”.

 

Kedua:

 

Dari Kitab Durratunnasihin halaman 43-44, karya Syeikh Utsman bin Hasan al Khaubari:

 

حُكِيَ أَنَّ امْرَأَةً فِيْ بَيْتِ الْمَقْدِسِ كَانَتْ عَابِدَةً إِذَا جَاءَ رَجَبُ تَقْرَأُ كُلَّ يَوْمٍ (قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ) اِثْنَتَيْ عَشْرَةَ مَرَّةً تَعْظِيْمًا لَهُ وَكَانَتْ تَنْزِعُ اللِّبَاسَ الْأَطْلَسَ وَتَلْبَسُ ثَوْبَ الْبَلَاسَ

 

Artinya:

 

Diceritakan, bahwa di Baitul Maqdis ada seorang perempuan ahli ibadah, jika tiba bulan Rajab, ia membaca selalu membaca surat Ikhlas (Qul Huwallaahu Ahad setiap hari 12 kali)

 

Dia melepas pakaian lusuhnya dan berganti mengenakan pakaian yang terbuat dari bulu.

 

فَمَرِضَتْ فِيْ رَجَبَ وَأَوْصَتْ اِبْنَهَا أَنْ يَدْفِنَهَا مَعَ بَلَاسِهَا فَكَفَّنَهَا اِبْنُهَا فِيْ ثِيَابٍ مُرْتَفِعَةٍ رِيَاءَ النَّاسِ

 

Artinya:

Pada suatu ketika dalam bulan Rajab, ia jatuh sakit dan berwasiat pada puteranya, apabila ia mati supaya dikubur bersama pakaiannya yang terbuat dari bulu, akan tetapi si anak mengkafani jenazah ibunya dengan pakaian yang mahal, karena merasa tidak enak kepada orang-orang sekitar

 

فَرَآهَا فِي الْمَنَامِ فَقَالَتْ يَا بُنَيَّ لِمَ لَمْ تَأْخُذْ بِوَصِيَّتِيْ إِنِّيْ غَيْرُ رَاضِيَةٍ عَنْكَ

 

Si anak bermimpi melihat ibunya berkata padanya : “Wahai anakku, kenapa engkau tidak melaksanakan wasiatku? Sesungguhnya aku tidak ridha kepadamu”.

 

Syahdan,

 

Maka si anak kaget dan terbangun dari tidurnya. Dia cepat-cepat menggali kembali kuburan ibunya, namun dia tidak mendapati ibunya di dalam kuburnya. Dia pun bingung dan menangis sejadi-jadinya

 

فَسَمِعَ نِدَاءً يَقُوْلُ أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ مَنْ عَظَّمَ شَهْرَنَا رَجَبَ لَا نَتْرُكُهُ فِي الْقَبْرِ فَرِيْدًا وَحِيْدًا

 

Kemudian ia pun mendengar suara yang berkata : “Tidakkah engkau tahu, bahwa siapa yang mengagungkan bulan kami, bulan Rajab maka tidak akan kami tinggalkan sendirian di dalam kuburnya”.

 

Mendengar hal tersebut, seorang anak laki-laki dari wanita yang sudah meinggal itu sangat menyesali dengan apa yang sudah di wasiatkan sebelumnya oleh ibunya, namun tidak di lakukan wasiat tersebut.

 

Disisi lain itu si anak juga bahagia karena dia tahu bahwa jenazah ibunya telah mendapatkan keistemewaannya setelah membaca surat Al-Iklhas di bulan Rajab.

 

Inilah salah satu kisah, yang digambarkan seorang wanita setiap hari membaca ayat Qul Huwallaahu Ahad, dzikir dan istiqomah beribadah di bulan Rajab.

 

Bahwasanya Allah SWT tidak akan meninggalkan jasad orang-orang yang istiqomah berdzikir dan beribadah kepada-Nya dikuburan sendirian.

 

Wallaahu A’lam.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Jumat, 04 Februari 2022

INSECURITY

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. 

Apa sih itu Insecurity, Insecurity itu adalah perasaan tidak aman. Dari asal katanya sebenarnya jelas antara secure dan insecure. Jadi insecure itu berarti tidak aman, atau rasa tidak aman, karena kita kurang percaya diri, karena kita merasa ada banyak kekurangan dalam diri kita. Sehingga kita merasa takut, merasa gelisah, merasa malu, merasa minder. Jadi diawali dari rasa bahwa saya itu banyak kekurangannya, saya dalam banyak hal tidak bisa apa – apa, saya itu siapa sih, dan lain sebagainya. 

Bila ini terus dilanjutkan akhirnya kita jadi gelisah, kita jadi penakut, kita terus minder, malu, tidak berani melakukan apa-apa, ini insecure namanya. Jadi sebenarnya ketika ada orang yang insecure, mungkin jatuh pada people pleaser (menyenangkan orang saja) dan juga orang yang insecure ini dia sulit mencintai dirinya (self-love), karena dia merasa dirinya ini banyak sekali kekurangannya, banyak sekali hal-hal yang menurut dia buruk, jelek, apa sih aku ini.  

Banyak anak - anak hari ini, misalnya pakai istilah apa sih aku ini, aku ini kan hanya recehan saja, yang sudah mau dibuang. Itu sebenarnya indikasi rasa tidak nyaman, tidak terlalu suka dengan dirinya. Ini namanya insecure, kalau orang punya rasa insecure sangat akut, sangat berat, ya nanti kita butuh psikolog butuh psikiater. Tapi wajar kalau dalam dosis yang biasa – biasa, kadang - kadang kita minder sedikit dalam hal tertentu, tidak percaya diri, itu tidak masalah asal tidak berlarut-larut, yang jadi masalah itu kalau insecurity kita terlalu over, jadi terlalu malu, akhirnya menganggap dirinya itu sama sekali tidak ada kualitasnya. Yang pasti orang yang insecure - nya terlalu dalam, dia sulit untuk mencintai dirinya.

Kalau sulit untuk mencintai dirinya, maka akan sulit nanti kelanjutannya untuk produktif, untuk jadi manusia yang otentik, jadi dirinya sendiri, karena dia sendiri tidak percaya diri, itulah Insecurity. Maka kalo dalam tradisi lama, Insecurity itu disebut minder. 


Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Salam Hamdallah.

Mr.Aribcc

Kamis, 03 Februari 2022

MEMAHAMI PENDERITAAN

    

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.    

Penderitaan itu sebenarnya terjadi karena manusia ilmunya kurang, ataupun pengetahuannya kurang dalam. Jadi penderitaan itu lahir karena salah memahami hidup, makanya nanti untuk mengatasi penderitaan pertama-tama harus dibereskan pengetahuannya dan jalan berpikirnya. Dalam tradisi timur punya ciri bahwa penderitaan manusia itu lahir dari ketidaktahuannya. Orang menderita itu karena salah berfikir, maka dia harus memperbaiki kesalahan ini. Kemudian mulai berpikir yang dalam, kalau di timur berpikir ini kemudian diawali dari dirinya sendiri, kenapa harus dari diri kita sendiri, karena yang menderita kita, kenapa kok kita menderita, ya karena kita ilmunya kurang, pengetahuannya kurang luas.

Saat kita belajar tentang sakit kan seolah-olah sakit itu hanya negatif saja, tapi begitu kita paham pengetahuan tentang hikmah - hikmah sakit, kemudian terasa bahwa ternyata sakit juga anugrah. Berarti apa? mungkin penderitaan -  penderitaan yang kita alami itu lahir karena kita tidak tahu rahasianya, tidak tahu hikmah nya, kurang luas wawasan kita, penglihatan kita terbatas hanya di situ, sehingga terlihat seperti penderitaan saja. Padahal mungkin kalau kita paham, mungkin kita tidak jadi menderita. Karena penderitaan itu lahir apabila pengetahuan kita yang kurang.

Yang pertama pengetahuan tentang diri kita sendiri, makanya pertama-tama yang harus dilakukan adalah membereskan diri sendiri. Yaitu membahas siapa aku? darimana aku? apa sih peran dan posisiku dalam hidup ini? dari mana asalnya rasa menderita ini? apa tujuan hidup ini dan seterusnya?, Kalau pertanyaan-pertanyaan penting ini terjawab, Insya Allah nanti banyak hal-hal yang kita kategorikan sebagai penderitaan akan ketemu jawabannya. Jadi  tidak melihat ke masalah, tapi melihat ke manusianya yang bermasalah.

 

Karena yang sekeliling kita, kita anggap sebagai sumber penderitaan, itu sebenarnya hal-hal yang netral - netral saja. Dia jadi penderitaan ketika kita persepsi, ketika kita cerna, dan kita beri judul sebagai penderitaan. Maka kunci pertama yang harus dibereskan adalah MANUSIA NYA.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Salam Hamdallah.

Mr.Aribcc

Jumat, 21 Januari 2022

Tidak Ada Orang Jahat

 


Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

 

Orang jahat itu sebenarnya tidak ada. kalau ada orang melakukan kejahatan atau kesalahan itu sebenarnya karena mereka tidak tahu. Artinya kalau ada orang melakukan salah atau jahat, itu pasti mereka tidak sadar atau tidak tahu. Kenapa? Karena tidak ada orang yang ingin merusak dirinya sendiri, ingin menyusahkan dirinya sendiri, ketika orang melakukan kesalahan, itu mereka tidak tahu kalau kesalahan itu sebenarnya merusak dirinya sendiri.

 

Mereka menganggap bahwa kesalahan itu menguntungkan dirinya sendiri. Jadi kuncinya sebenarnya mereka tidak tahu, kalau mereka tahu bahwa kesalahan itu merusak dirinya sendiri, mereka tidak akan melakukan itu. Orang tidak tahu pastinya tidak sadar. Kalau ada perampok, mereka menganggap bahwa dengan merampok itu akan lebih nyaman, lebih untung, lebih tentram, lebih nikmat. Padahal orang yang mengerti tidak berfirkir seperti itu, dengan merampok hidup jadi lebih susah, lebih sumpek. Mungkin memang dapat uang banyak, tapi setelah itu akan sengsara, dicari oleh polisi dan tidak bisa hidup bebas. Mereka belum paham sampai kesana. Mereka  tidak tahu, kalau mereka tahu mungkin mereka  tidak akan melakukan itu.

 

Kuncinya semakin kita paham bahwa itu merusak diri, semakin kita tidak melakukan itu. Jadi orang jahat itu tidak ada, yang ada orang yang tidak tahu. Maka kita tidak perlu menyalahkan orang kalau dia jahat, dia belum tahu. Beritahulah resikonya, dampaknya, karena tidak ada orang yang mau menyusahkan dirinya sendiri. Akhirnya kalau sudah beres jiwanya?, maka kita bahagia. Kalau sudah bahagia kenapa sih?, kalau sudah bahagia, saat itu juga sebenarnya kita sedang dekat dengan yang Ilahi. Kalau kita Takhallaqu Bi Akhlaqillah, maka kita Bahagia. Jadi bahagia di dunia itu otomatis bahagia di akhirat.

 

Tidak ada ceritanya orang senang di dunia saja akhirnya susah di akhirat. Nikmat iya, tapi kalau bahagia tidak. Begitu orang bahagia di dunia otomatis akan bahagia di akhirat. Karena jalan untuk bahagia itu jalan menaklukkan jiwa melalui akal.

 

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Salam Hamdallah.

Mr.Aribcc

Sabtu, 04 September 2021

ILMU DAN HARTA



Dunia itu dibagi kepada manusia kepada empat tipe golongan.

Yang pertama adalah orang yang diberikan kepadanya ilmu dan harta, dia punya harta dan dia punya ilmu. Ketika dia punya harta lalu kemudian dia punya ilmu, maka dia patuh kepada Allah, lalu kemudian dia menyambung tali silaturahmi dan dia tahu bahwa pada harta yang dia dapatkan itu ada hak orang lain. Orang ini diberikan kepadanya harta yang banyak lalu diberikan ilmu kemudian hartanya tidak menjadi imam, tetapi justru ilmunya yang menjadi imam dan hartanya menjadi makmum. Kemudian ilmu yang akan mengarahkan harta, bukan harta yang mengarahkan ilmu, ilmu itu akan memberikan nasehat kepada harta. Ilmu yang akan kemudian mengatur bagaimana harta yang didapatkan olehnya. Inilah yang kita lihat pada sahabat Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, dan ulama-ulama besar seperti Imam Abu Hanifah, dimana beliau adalah seorang saudagar kaya, tetapi beliau adalah orang yang berilmu dan beliau terkenal dengan keilmuan. Mereka memiliki ilmu, harta dan menjadikan ilmu komandan tertinggi pada harta yang dia miliki serta dia tidak menjadikan harta itu menjadi komandan bagi ilmunya.

 

Yang kedua, ada orang yang diberikan ilmu, tetapi tidak dikasih harta. Dari sini kita tahu bahwa tidak seorang berilmu itu akan diberikan kekayaan, ada orang berilmu dia bekerja keras, tapi kemudian hartanya hanya segitu - segitu aja. Karena masalah harta itu dirilis takarannya 50.000 tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi. Ada yang tidak diberikan harta tapi mereka diberikan ilmu, lalu mereka selalu berniat “kalau nanti saya punya kekayaan, saya akan mempergunakan kekayaan saya dalam kebaikan, lalu mereka mendapatkan kebaikan yang sama walaupun mereka tidak mendapatkan harta itu. Akan tetapi tidak ada yang mereka pikirkan pada pikirannya kecuali satu, “kalau saya punya harta saya akan manfaatkan sebagaimana orang baik itu manfaatkan hartanya.” Makanya kalau ada orang baik, jangan kita beranggapan bahwasannya orang baik itu semuanya pintar mencari uang, ada juga yang tidak pintar mencari uang. Maka tidak perlu membanding-bandingkan misal kita suka berkomentar, “contohnya coba pak guru itu punya bisnis sukses”. Ada yang memang diberikan kemudahan untuk menjadi sukses dalam masalah finansialnya. Ada orang berilmu yang mereka sudah berusaha dan sudah berjibaku, tapi ternyata memang takarannya hanya segitu saja. Dan itu Allah yang menentukan karena miskin dan kaya itu merupakan bagian dari takaran yang dibagikan bagi kehidupan kita.

 

Banyak orang berkata, miskin itu tidak ada.” Kata siapa miskin tidak ada? miskin itu ada, Allah sebutkan kata miskin berulang-ulang di dalam Al-Qur’an. Miskin secara finansial itu ada, tetapi hatinya tetap merasa cukup. Yang miskin belum tentu kurang, yang kaya belum tentu cukup. Apakah berarti orang yang tidak diberi harta berarti kekurangan? Belum tentu, berapa banyak orang miskin yang merasa cukup, berapa banyak teman-teman kita gajinya di bawah UMR tetap bisa tersenyum istrinya tetap patuh kepada suaminya, lalu kemudian anak - anaknya tahu kapan meminta uang dan kapan tidak minta karena menakar apa yang dia minta kepada kemampuan orangtuanya. Namun berapa banyak orang yang gajinya 20 juta tetapi masih  kurang, istrinya tidak patuh, karena istrinya masih membandingkan suaminya dengan suami teman-temannya, anak-anaknya tidak peduli apapun yang dia inginkan harus dituruti sampai orangtuanya tidak bisa menolak.

 

Ada yang ketiga itu adalah orang yang diberikan harta, namun tidak diberikan ilmu. Akhirnya hartanya menjadi komandan dalam kehidupan, maka dia perlakukan harta itu pada sesuatu yang dia mau, dia tidak perduli tentang apapun yang dia pedulikan hanyalah kesenangannya. Kalaupun dia memperhatikan masalah-masalah umum, masalah-masalah ini dia hanya perhatikan satu atau dua persen dari jumlah harta yang dia miliki. Lalu dia berbuat maksiat teru menerus. Tidak ada yang dia inginkan kecuali bertambahnya rekening yang dia miliki.

 

        Yang keempat yaitu orang yang tidak diberikan harta dan tidak diberikan ilmu. Ini yang paling berbahaya dan paling buruk dan disinilah kita akhirnya paham bahwasanya yang kita ingin pahamkan berarti ada dua macam harta yang dititipkan oleh Allah kepada kita semua. Ada harta yang dititipkan karena keridhoan, ada orang yang diberikan harta tetapi harta yang diberikan kepadanya bukan karena ridho, bukan cinta, tapi justru karena kebencian. Orang-orang yang semacam ini justru setiap mendapatkan tambahan harta justru bertambah kemaksiatan yang dia lakukan dan dia kerjakan. Maka inilah yang menjadikan kita harus mendefinisikan dahulu, dan harus memberikan kesadaran penuh kepada apa yang kita miliki pada kehidupan kita. Mobil kita, rumah kita, motor kita, gadget kita, apakah mereka ada dikarenakan keridhoan atau kebencian. Yang kedua adalah harta yang diberikan kepada kita adalah finansial tetapi kita juga diberikan ilmunya, kemampuan menjadi pemimpin dan menjadi imam bagi hartanya, karena  harganya hanya menjadi makmum dalam kehidupan – kehidupannya.

Minggu, 29 Agustus 2021

Relasi yang Membebaskan

 



Apabila engkau hendak bebas, jadilah tawanan cinta. Manusia tidak mungkin hidup tanpa orang lain. Ketika dilahirkan ke dunia, kita butuh orang lain, tapi nama hubungan dengan orang lain yang membebaskan itu hanya cinta. Relasi yang bukan cinta kebanyakan tidak membebaskan, tapi mengikat. Ada kewajiban-kewajiban yang harus kamu penuhi demi relasi itu, tapi kalau relasinya namanya cinta tidak. Saat ibumu membesarkanmu itu kan relasinya cinta, dia capek luar biasa, dia kehilangan banyak, tapi dia bahagia luar biasa, kenapa? karena cinta padamu, tidak merasa terikat sama sekali. Jadi kamu merasa ini yang membahagiakanku, tidak ada yang mengikat. Padahal rasanya seperti terikat, tapi sebenarnya tidak.

 

Dalam kisah Yusuf dan Zulaikha itu dikatakan, ”Jika engkau ingin bebas, jadilah tawanan cinta. Apabila engkau menginginkan kegembiraan bukanlah hatimu bagi penderitaan cinta.” Ini seperti paradok, kalau kamu ingin senang masuklah ke dunia cinta yang penuh penderitaan. Itu sebenarnya penderitaan, kalau diceritakan rasanya tragis. Tapi kamu bahagia dan senang, kenapa? karena ada cinta disitu, gembira mungkin kamu menceritakannya sambil berbunga-bunga. Dari anggur cinta datang kehangatan dan pesona, tanpa cinta yang ada hanya kesusahan dan keakuan. Jadi, orang yang hidupnya tanpa cinta isinya hanya kewajiban-kewajiban, isinya hanya ego, kepentingan diri sendiri, dan nafsu. Itu seperti hidup yang dingin, tidak berwarna, hidup yang hitam putih, tidak cerah.

 

Ingatan kepada cinta menyegarkan hati si pecinta dan kejayaan datang kepada dia yang menjayakannya. Yang sudah mengalami pasti merasakan, yang belum mengalami ya dibayangkan saja. Ini adalah wilayah-wilayah yang sulit untuk dijelaskan, bagi yang sudah mencintai pastilah mengerti. Apabila Majnun tidak minum anggur dari mangkoknya, apakah yang membuatnya terkenal di dunia ini dan di dunia kemudian. Kalau Majnun tidak jatuh cinta, tidak meminum anggur cinta, dan masuk ke dunia penderitaannya cinta. Siapa yang mau cerita Qais al majnun. Kalau Qais dulu jatuh cinta terus diterima begitu saja, terus menikah, lalu punya anak, tidak ada yang mau cerita. Tapi justru dia jadi luar biasa, jadi monumental ketika masuk ke ranah cinta yang susah sekali, yang menderita sekali, yang sakit sekali. Seperti Romeo and Juliet itu pasti ada tragedinya sehingga diceritakan dari zaman ke zaman. Banyak kisah cinta jadi monumental kalau ketika itu sangat sengsara, sangat susah, atau ada kesusahan cinta.

 

Ribuan orang berbakat cemerlang tapi asing terhadap cinta, telah lenyap tanpa meninggalkan riwayat atau peninggalan yang mengabadikan namanya. Jadi banyak orang yang berbakat, tapi hidupnya tidak ada cinta disitu, hilang begitu saja dari percaturan dunia. Engkau boleh mencoba 100 hari tapi hanya cinta yang akan membebaskanmu dari dirimu sendiri. Maka janganlah melarikan diri dari cinta, sekalipun dari cinta dalam samaran duniawi. Jatuh cinta sama teman sakelas,itu adalah cinta dalam samaran duniawi. Kalian mencintai apa? itu cinta dalam samaran dunia. Tidak apa karena mungkin masih level-level artifisial, yang penting adalah kamu belajar mencintai, lunakkan dulu hatimu dengan cinta. Karena itu merupakan persiapan bagi kebenaran tertinggi. Kalau tiba - tiba cinta sama Allah, mungkin agak berat. Yang bisa dilakukan adalah belajar, hati ini diajari caranya mencintai.

 

Bagaimana kau akan membaca Alquran, tanpa mempelajari abjad. Ayo latihan dulu cinta di dunia, jatuh cinta dulu sama temannya, jatuh cinta dulu sama apa, tidak apa-apa. Itu kan cinta dalam samaran duniawi meskipun ada batas-batasnya, tapi intinya hatimu dilatih mencintai. Kalau tidak itu akan terasa sulit, karena orang tidak bisa memaksa diri untuk jatuh cinta, itu tidak mudah. Kamu tiba-tiba bilang saya mau cinta kamu. Tidak bisa, seperti kamu punya teman cantik kalau kamu tidak cinta kan tidak bisa dipaksa. Saya harus cinta ke dia, sama Allah juga begitu tak bisa cinta itu dipalsu bahwa kamu sholeh - sholehkan dirimu, dari mulut keluar kalimat toyibah terus. Tidak begitu, kalau jatuh cinta tidak bisa dimanipulasi. Karena urusannya rasa, maka latihan jatuh cinta . Hiduplah dengan alur yang penuh cinta, nanti bathinmu terlatih mencintai.

 

Ada kisah seorang pencari ilmu yang pergi ke pada seorang Arif meminta petunjuk jalan sufi, orang tua Arif itu berkata kepadanya, “Apabila engkau belum pernah menginjak jalan cinta, pergilah jatuh cintalah. Kemudian kembalilah menemui kami.” Seorang sufi ditemui oleh seseorang mau baik mau menempuh jalan sufi, namun jawaban gurunya. Kamu pernah jatuh cinta tidak? sudahlah kamu pulang dulu pergilah jatuh cintalah dulu, berarti apa hatimu belum terlatih lembut, belum terlatih mencintai, sementara nyawanya dunia sufi itu hati yang mencintai. Kalau kamu sudah mengerti rasanya jatuh cinta, balik lagi ke sini untuk melakukan suluk. Hatimu sudah paham bagaimana rasanya jatuh cinta. Rumus ini jangan dipakai alasan nanti kamu pacaran, kamu kok hidupnya pacaran terus? ini latihan mencintai, pada akhirnya kan nanti cinta sama Allah.