Minggu, 15 Februari 2026

Sumur Tetangga

Keadilan tidak selalu menang dengan kekuatan, tetapi selalu menang dengan kecerdasan.

Assalamualaykum wr wb

Suatu hari, seorang petani berselisih dengan tetangganya. Petani itu telah membeli sebuah sumur dari tetangganya, tetapi ketika ia hendak mengambil air untuk mengairi ladangnya, tetangganya melarang.

“Sumurnya memang sudah kamu beli,” kata tetangga itu, “tetapi airnya masih milikku.”

Perselisihan itu pun dibawa menghadap Akbar. Sang Sultan merasa bingung. Bagaimana mungkin sumurnya sudah dijual, tetapi airnya tidak boleh diambil?

Kemudian Sultan memanggil Birbal, penasihatnya yang terkenal cerdik.

Setelah mendengar masalah itu, Birbal berkata kepada si penjual sumur,
“Jika benar air di dalam sumur itu masih milikmu, maka engkau tidak berhak menyimpannya di dalam sumur yang sudah menjadi milik petani ini.”

Semua orang terdiam.

Birbal melanjutkan,
“Karena sumur itu milik petani, sementara air itu milikmu, berarti engkau sedang menitipkan airmu di dalam sumur miliknya. Maka, engkau harus membayar sewa kepada petani setiap hari atas penggunaan sumurnya.”

Mendengar keputusan itu, si penjual tidak bisa membantah. Ia akhirnya mengalah.

Dari peristiwa itu, tampak bahwa kecerdikan bukan untuk menipu, tetapi untuk menegakkan keadilan. Terkadang, menghadapi orang yang curang tidak cukup hanya dengan kebaikan—tetapi juga dengan kecerdasan dan ketegasan, agar kebenaran tetap menemukan jalannya.

Kebenaran mungkin diam, tapi kecerdikan akan membuatnya berbicara.

Wassalamualaykum wr wb


BERUSAHA JADI ORANG NORMAL

Tidak ada komentar:

Posting Komentar