Kadang jawaban terbaik adalah cermin, agar penanya melihat keterbatasannya sendiri.
Assalamualaykum wr wb
Suatu hari, seorang Kasim di istana berusaha menjatuhkan Birbal. Ia memuji-muji Birbal di hadapan Akbar, tetapi sebenarnya ingin mempermalukannya dengan pertanyaan yang mustahil dijawab.
Sultan pun memanggil Birbal dan memberikan tiga pertanyaan:
-
Di mana letak tengah dunia?
-
Berapa jumlah bintang di langit?
-
Berapa jumlah laki-laki dan perempuan di dunia?
Birbal meminta izin keluar sebentar. Ia kembali membawa palu, paku, dan seekor domba.
Untuk pertanyaan pertama, Birbal berjalan ke suatu titik di halaman istana, lalu menancapkan paku ke tanah dan berkata,
“Di sinilah tengah dunia. Jika tidak percaya, silakan ukur sendiri.”
Untuk pertanyaan kedua, ia menunjuk domba yang dibawanya dan berkata,
“Jumlah bintang di langit sama dengan jumlah bulu domba ini. Jika ragu, silakan hitung sendiri.”
Semua orang terdiam.
Lalu untuk pertanyaan ketiga, Birbal berkata,
“Saya sebenarnya tahu jumlah laki-laki dan perempuan. Tetapi saya bingung, para Kasim ini harus dihitung sebagai laki-laki atau perempuan. Jika semua Kasim disingkirkan, barulah saya bisa memastikan jumlahnya.”
Mendengar itu, semua orang terdiam, dan Sultan pun memahami maksudnya.
Pelajarannya, Birbal menunjukkan bahwa ada pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa dibuktikan secara pasti. Ia menjawabnya bukan dengan angka, tetapi dengan kecerdikan—menunjukkan bahwa tidak semua hal bisa diverifikasi, dan kadang jawaban terbaik adalah menyadarkan penanya akan keterbatasan pertanyaannya sendiri.
Kebijaksanaan bukan selalu tentang memberi jawaban pasti, tetapi tentang memahami batas antara kenyataan dan spekulasi.
Wassalamualaykum wr wb
BARUSAHA JADI ORANG NORMAL
Tidak ada komentar:
Posting Komentar