Jiwa yang besar mampu tersenyum bahkan ketika keadaan tidak berjalan sempurna.
Assalamualaykum wr wb
Di antara para sahabat, Nu’aiman bin Amru dikenal sebagai sosok jenaka yang sering menghidupkan suasana dengan candanya. Kelihaiannya melontarkan humor membuatnya dijuluki sebagai “pelawak Madinah.” Tingkahnya yang kocak sering kali menghadirkan senyum, bahkan bagi Rasulullah ﷺ sendiri.
Suatu hari, ketika Rasulullah ﷺ berada di masjid, datang seorang Arab Badui yang hendak menemui beliau. Sebelum masuk, orang Badui itu mengikat untanya di luar masjid. Beberapa sahabat yang melihatnya pun tergoda untuk membuat keisengan, lalu mereka membujuk Nu’aiman agar menyembelih unta tersebut dengan janji bahwa Rasulullah ﷺ nanti akan mengganti harganya.
Tanpa banyak pertimbangan, Nu’aiman pun melaksanakan usulan tersebut. Ketika orang Badui itu keluar dari masjid, ia terkejut melihat untanya telah disembelih. Ia pun berseru meminta keadilan kepada Rasulullah ﷺ.
Mendengar hal itu, Rasulullah ﷺ segera keluar dan menanyakan siapa pelakunya. Para sahabat menjawab bahwa Nu’aimanlah yang melakukannya. Nu’aiman sendiri bersembunyi karena khawatir dimarahi. Rasulullah ﷺ kemudian mencarinya hingga menemukannya bersembunyi di sebuah tempat tertutup pelepah kurma.
Dengan penuh kelembutan, Rasulullah ﷺ mengeluarkan Nu’aiman dari persembunyiannya dan membersihkan wajahnya yang berlumur tanah. Ketika ditanya mengapa ia melakukan hal itu, Nu’aiman menjelaskan bahwa ia hanya mengikuti usulan sahabat lain yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ akan membayar harga unta tersebut.
Mendengar penjelasan itu, Rasulullah ﷺ tersenyum. Beliau kemudian mengganti harga unta milik orang Badui tersebut. Peristiwa itu menunjukkan betapa lapangnya hati Rasulullah ﷺ serta betapa akrabnya hubungan beliau dengan para sahabat.
Candaan Nu’aiman, meskipun terkadang merepotkan, tetap menjadi bagian dari suasana kebersamaan yang hangat. Rasulullah ﷺ tidak memandangnya sebagai gangguan semata, melainkan sebagai selingan yang menghadirkan keceriaan di tengah kesibukan.
Kisah ini menggambarkan bahwa kelembutan hati, kesabaran, dan sikap memaafkan mampu menjaga persaudaraan tetap erat. Bahkan dalam canda sekalipun, tetap ada pelajaran tentang kebijaksanaan dan kelapangan jiwa.
Wassalamualaykum wr wb
Kebijaksanaan terlihat dari kemampuan memaafkan tanpa kehilangan kasih sayang.
BERUSAHA JADI ORANG NORMAL
Tidak ada komentar:
Posting Komentar