Sabtu, 04 April 2026

Rasulullah ﷺ Dipermainkan Nu’aiman

Berikan ruang bagi keceriaan, agar langkahmu tetap ringan menjalani tanggung jawab.

Assalamualaykum wr wb

Di antara para sahabat, Nu’aiman bin Amru dikenal sebagai sosok yang jenaka dan penuh keusilan. Candanya sering kali mengundang tawa, bahkan terkadang membuat Rasulullah ﷺ harus menanggung kerugian materi. Namun demikian, Rasulullah ﷺ tidak pernah menunjukkan kemarahan kepadanya. Justru, beliau memahami bahwa candaan Nu’aiman lahir dari kedekatan dan kecintaan yang tulus.

Suatu hari, setelah waktu zuhur di Kota Madinah yang terasa panas, Nu’aiman melihat seorang penjual madu keliling tampak kelelahan. Ia telah berkeliling cukup lama, tetapi belum juga mendapatkan pembeli. Merasa iba, Nu’aiman berniat menolong dengan caranya sendiri yang unik.

Ia memanggil penjual madu tersebut dan mengajaknya menuju rumah Rasulullah ﷺ. Sesampainya di dekat rumah, Nu’aiman berkata,
“Tunggulah di sini, aku akan mengantarkan madu ini kepada orang yang akan membelinya.”

Nu’aiman pun membawa madu itu masuk dan berkata kepada Rasulullah ﷺ,
“Wahai Rasulullah, aku tahu engkau menyukai madu. Karena itu, aku menghadiahkan madu ini untukmu.”

Setelah menyerahkan madu tersebut, Nu’aiman berpamitan. Sementara itu, penjual madu masih menunggu di luar sesuai pesan Nu’aiman, karena ia diberi tahu bahwa penghuni rumah akan segera membayar madu tersebut.

Setelah menunggu cukup lama tanpa kepastian, penjual madu itu akhirnya mendatangi rumah Rasulullah ﷺ dan mengetuk pintu sambil berkata,
“Wahai penghuni rumah, bayarlah maduku.”

Rasulullah ﷺ pun memahami bahwa ini adalah salah satu keusilan Nu’aiman. Dengan penuh kelapangan hati, beliau membayar harga madu tersebut dan tersenyum menerima kejadian itu.

Beberapa waktu kemudian, ketika bertemu Nu’aiman, Rasulullah ﷺ menegurnya dengan nada ringan sambil menahan tawa,
“Apa yang engkau lakukan terhadap keluarga nabimu, wahai Nu’aiman?”

Nu’aiman pun tertawa dan menjawab,
“Wahai Rasulullah, aku tahu engkau menyukai madu, sedangkan saat itu aku tidak memiliki uang untuk membelinya. Maka aku hanya bisa mengantarkannya kepadamu.”

Kisah ini menunjukkan betapa hangatnya hubungan Rasulullah ﷺ dengan para sahabatnya. Beliau tetap menjaga kelembutan dan kelapangan hati, bahkan ketika menghadapi keusilan. Dari kisah ini, kita belajar bahwa suasana ringan dan penuh kebaikan dapat menjadi penyegar dalam kehidupan, selama tetap berada dalam batas akhlak yang mulia.

Wassalamualaykum wr wb

Keseimbangan hidup terjaga saat keseriusan berjalan bersama keceriaan.

BERUSAHA JADI ORANG NORMAL

Tidak ada komentar:

Posting Komentar