Minggu, 29 Agustus 2021

Ujian Pertama

 


Al Mukmin berasal dari kata Al Iman yang artinya pembenaran dan pengakuan. Disini ada ada dua pemaknaan yaitu Allah membenarkan dia orang-orang yang benar serta menegakkan bukti atas kebenaran mereka. Allah membenarkan para Rasul itu hidupnya benar, keyakinannya benar, ada lagi yang lain adalah pemahamannya adalah Allah yang Maha mengaruniakan keamanan.

 

Di dalam Al-Quran Surat Quraisy ayat 4

yang telah memberi makan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan dan Allah-lah yang mengubah.

 

          Maksudnya lahir bathin kita ini sepenuhnya adalah ciptaan Allah, di desain oleh Allah, dimiliki juga oleh Allah, dikuasai oleh Allah sepenuhnya, bukannya hanya kita begitu juga yang lainnya, makhluk-makhluk lain juga, jadi Allah tahu persis apa yang kita cemaskan, apa yang kita takuti, apa yang kita risaukan. Ujian pertama itu adalah ketakutan. Jadi dan pasti akan ditimpakan kepadamu sedikit dari rasa takut. Jadi sebelum lapar, kekurangan harta, jiwa, buah-buahan, yang pertama diuji ke kita itu adalah kecemasan atau takut, seperti sekarang ini takut kena covid, takut tidak punya uang, takut pensiun, takut tidak laku, takut tidak dapat jodoh, yang dapat jodoh takut berantakan keluarganya, yang nikah takut tidak punya anak, yang punya anak takut anaknya tidak sholeh, banyak sekali yang kita cemaskan dan apapun yang kita takuti kita cemaskan sepenuhnya diketahui oleh Allah, dan sepenuhnya yang kita cemaskan itu ada dalam genggaman Allah.

 

Tidak ada satupun yang lepas dari pengetahuan Allah, tidak ada satupun yang lepas dari genggaman Allah, masalahnya adalah kenapa kita jadi tertekan, galau, nyesek sekali, banyak yang kita cemaskan, walaupun sebetulnya itu sedikit dibanding dengan nikmat yang Allah berikan, seperti kita takut kena covid. Padahal tiap hari kita sehat, tiap hari kita makan, tiap hari kita bisa tidur, lebih banyak nikmat yang didapatkan dibanding takut covidnya itu, tapi terkadang takut covidnya ini menyelimuti kita sampai tidak syukur kita masih bisa bangun, tidak syukur kita bisa bernafas, tidak syukur kita bisa berfikir, tidak syukur kita menjadi seorang muslim, tidak syukur kita bisa shalat, tidak syukur aib kita masih ditutupi. Tapi covid saja yang selalu diingat. Kita takut terkena covid adalah hal yang manusiawi, tapi jangan lupakan bahwa covid ini tidak mengancam kita. Covid ini hanya virus yang bertasbih, yang dia bisa mengenai kepada siapa yang Allah perintahkan.

 

Bagaimana supaya kita dalam perlindungan Allah, di dalam sebuah hadits shahih riwayat Imam Tirmidzi, Imam Ahmad Al Hakim. Rasulullah SAW bersabda wahai anak muda (karena Ibnu Abbas waktu itu masih kecil), Sesungguhnya aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat, ini dari Rasulullah kepada Ibnu Abbas ketika Ibnu Abbas sedang dibonceng oleh Rasulullah SAW. Kemudian Rasulullah bersabda Jagalah Allah niscaya Allah akan menjagamu, jagalah Allah niscaya engkau akan dapati Allah di hadapanmu.

 

Jagalah Allah, Allah akan menjaga kita, jagalah Allah, niscaya kita akan mendapati Allah dihadapan kita. Kita harus memahami dengan bijak, tidak mungkin kita menjaga Allah penguasa segala-galanya. Maksud disini adalah jagalah apa yang menjadi hak-hak Allah, kewajiban-kewajiban dari Allah. Hak yang terpenting adalah Lailahaillallah. Jagalah hati kita jangan sampai menuhankan yang lain selain Allah. Jagalah hati kita jangan sampai bersandar, bergantung kepada selain Allah. jagalah apa yang Allah sukai karena setiap yang Allah sukai pasti baik bagi kita, karena Allah yang menciptakan kita tahu apa yang baik untuk kita dan apa yang baik untuk kita itu ada dalam perintah Allah. Jagalah apa yang Allah larang. Jangan dilakukan, karena setiap Allah melarang sesuatu pasti sesuatu itu membahayakan bagi kita. Allah itu pencipta kita, paling tahu keadaan kita, keperluan kita, yang baik dan yang buruk untuk kita. Allah tahu karena kita diciptakan oleh-Nya, seperti seorang insinyur membuat robot, tahu persis kapan baterainya lemah, kapan harus dicas, harus dibersihkan, harus diperkuat, karena yang merancang komputer, merancang robot itu tahu kelemahan dan kekurangannya.

 

Allah yang mendesain kita tahu, karena bahagia itu ciptaan Allah. Apa yang membuat kita bahagia, apa yang membuat kita mulia, apa yang membuat kita selamat, itu ada pada perintahnya. Apa yang membuat kita sengsara, apa yang membuat kita hina, apa yang membuat kita celaka, itu ada pada larangannya. Makanya kalau kita jaga itu, Allah akan menjaga kita. Jangan risaukan keperluan-keperluan kita dan sebagainya, Allah sudah tahu kalau kita patuh ke Allah dengan baik, Allah jaga dan janji Allah itu pasti. Allah akan berada di hadapan kita artinya menjadi sangat dekat pertolongan Allah. Bagaimana orang tahu dirinya dekat dengan Allah. Kedekatan seseorang dengan Allah salah satunya di antara alat ukurnya adalah kita merasa Allah itu dekat. Tidak semua orang merasa Allah itu dekat, walaupun Allah Maha Dekat belum tentu orang itu merasa Allah itu Maha Dekat.


Bagi orang-orang yang dekat dengan Allah dan sambil duduk saja, dia yakin sedang diperhatikan Allah, sedang dilihat, sedang diawasi, sedang didengar, dan orang-orang yang dekat kepada Allah merasakannya setiap saat. Akibatnya dia tidak pernah merasa kesepian, tidak sendiri karena dia meyakini bahwa Allah Maha Dekat.

Sabtu, 28 Agustus 2021

Tentang Pemimpin

 


Ada hal yang perlu kita perhatikan dalam hal kepemimpinan, yang pertama Umar menyatakan wahai saudara-saudaraku, saya hanyalah salah seorang dari kalian. Jikalau tidak karena segan menolak perintah khalifah Rasulullah yaitu Abu Bakar As Siddiq, saya pun enggan memikul tanggung jawab ini. Umar ini memang menjadi khalifah ditunjuk langsung oleh khalifah sebelumnya, yaitu Abu Bakar As Siddiq. Karena Beliau, Abu Bakar pasti sangat tahu dan sangat paham kualitas seorang Umar bin Khattab. Karena yang memerintahkannya adalah sahabat dekat yang dihormati, maka mau tidak mau Umar menerima tawaran itu. Beliau menyatakan kalau tidak karena segan menolak perintah khalifah Rasulullah, saya pun akan enggan memikul tanggungjawab ini.

 

Kemudian beliau melanjutkan dengan berdoa Ya Allah saya ini orang yang keras dan kasar, maka lunakkanlah hatiku. Ya Allah saya ini orang lemah maka berikanlah aku kekuatan. Ya Allah saya ini orang kikir, maka jadikanlah aku seorang dermawan. Setelah menyampaikan yang pertama tadi kemudian beliau berdoa, setelah itu beliau melanjutkan Allah telah menguji kalian dengan saya dan menguji saya dengan kalian, sepeninggal sahabatku yaitu Abu Bakar As-Siddiq sekarang saya yang berada di tengah-tengah kalian. Semua persoalan yang kalian hadapi tidak lagi diwakilkan kepada orang lain selain saya, dan tak ada yang hadir disini selain meninggalkan perbuatan terpuji dan menetapi amanah. kalau mereka berbuat baik akan saya balas dengan kebaikan, tetapi kalau melakukan kejahatan terimalah bencana yang akan saya timpakan kepada mereka.

 

Ada beberapa pelajaran yang kita dapatkan dari pidato awal Umar bin Khattab ini. Yang pertama apa , kalau tidak karena segan menolak perintah khalifah Rasulullah aku pun akan enggan memikul tanggung jawab ini. Jadi meskipun khalifah itu jabatan tertinggi, apa yang dinyatakan oleh Umar bin Khattab itu menunjukkan bahwa umat islam itu tidak etis kalau memperebutkan jabatan. Jabatan itu satu amanah satu tanggung jawab yang berat. Jadi kalau tidak sangat terpaksa, itu kan bahasa lainnya Umar kan begitu. Aku pun enggan memikul tanggung jawab seberat ini. Jabatan sering disampaikan oleh banyak khalifah- khalifah Islam yang terkemuka dan Mansyur itu sering diasosiasikan dengan musibah. Jadi sesuatu yang berat yang menimpa. Kalau memikirkan diri sendiri ya lebih baik tidak usah diterima karena itu berat dan susah, tapi kan memikirkan umat Islam secara umum, memikirkanmu secara keseluruhan tidak untuk egonya sendiri. yang pertama itu, jabatan adalah sebuah tanggung jawab yang tidak perlu diperebutkan lagi. Apalagi sampai demi jabatan itu sampai permusuhan, sampai konflik, apalagi sampai meneteskan darah, sampai memutus tali silaturahmi persaudaraan. Itu pelajaran pertama dari pidato Umar tadi.

 

        Yang kedua, kalimat doa tadi beliau mengakui kalau dirinya keras, kasar, dan lemah. Ini penting karena manusia yang bisa maju, bisa semakin baik, bisa terus berkembang, adalah orang yang sadar kelemahan dirinya, orang yang paham kekurangan - kekurangan dirinya. Oleh karena itu, beliau terus berdoa kepada Allah agar Allah menutupi kekurangannya, agar Allah membimbing, sehingga menjalankan roda pemerintahan dengan lebih baik. Jadi yang kedua, pelajaran bagi siapapun pemimpin agar senantiasa muhasabah, senantiasa menghitung, mentafakuri, mencari dimana aku yang masih kurang. Sehingga setiap hari, setiap waktu bertambah yang terjadi adalah perbaikan demi perbaikan. yaumuhu khairan min amsihi, yang hari ini pasti lebih baik dari kemarin, besok lebih baik lagi, besok lebih baik lagi, jangan sampai terbalik dulu kok bagus, sekarang kok jelek itu berarti keliru prosesnya, kalau dalam Islam kan kalau dulu bagus, sekarang jelek namanya rugi. Kalau bisa ya hari ini lebih baik dari kemarin, bahkan sama pun dianggap kerugian. Itu pelajaran kedua dari pidato ini.

 

Pelajaran yang ketiga adalah pelajaran bahwa pemimpin dan yang dipimpin itu sama-sama ujian, makanya kalimatnya Umar adalah Allah menguji kalian dengan saya dan menguji saya dengan kalian. Jadi kita punya pemimpin seperti apa ketika kita jadi yang dipimpin, kemudian ketika kita yang memimpin. Kita punya yang dipimpin seperti apa, anak buah kita, rakyat kita, masyarakat kita, seperti apa, itu dua-duanya adalah ujian. Ujian apa, ya semoga aku memimpin dengan baik sehingga dengan kebaikanku memimpin ini, Allah ridho padaku dan aku semakin dekat dengannya, yang dipimpin juga begitu aku jadi orang yang dipimpin yang baik, jadi rakyat yang baik, masyarakat yang baik, sehingga dengan partisipasiku dalam kebaikan ini, kehidupan bersama semakin kondusif dan Allah ridho pada kami. Ini  cara menyikapi jikalau kita menjadi yang memimpin atau yang dipimpin dua-duanya adalah ujian. Jangan sampai salah, saling mengkritik boleh tapi melakukan yang negatif baik sebagai pemimpin maupun sebagai yang dipimpin yang justru menjauhkan kita dari Allah itu yang harus dihindari. Jangan sampai yang kita lakukan sebagai yang dipimpin maupun sebagai yang memimpin tidak mendatangkan ridhonya Allah, tapi malah mendatangkan murkanya Allah. Terkadang antara yang memimpin dan yang dipimpin itu ada ketidakcocokan ada ketidaksesuaian, itu makanya namanya ujian.

 

Respon kita terhadap banyak ketidakcocokan dan ketidaksesuaian itu nanti yang menentukan apakah yang kita lakukan sudah cukup baik apa belum, mengundang ridhonya Allah apa tidak. Berarti pastikan apapun yang kita lakukan itu tidak melanggar nilai-nilai, norma-norma kebenaran, kebaikan. Keutamaan. Karena dua-duanya sama-sama ujian.

Jumat, 27 Agustus 2021

Dunia Akan Mengejarmu

 


Ada dua kalimat dari Imam Malik yang berhubungan dengan zuhud, yang pertama kata Imam Malik apabila seseorang itu zuhud, Allah akan memberi nikmat kepadanya. Yang kedua zuhud itu bukan ketiadaan harta namun mengosongkan hati darinya. Ini dua kalimat untuk jadi bahan kita untuk muhasabah, jadi orang zuhud itu orang yang hatinya tidak terikat, tidak tergoda oleh dunia. Katanya Imam Malik justru sebaliknya, orang yang tidak terikat dan tidak tergoda ini akan mendapatkan nikmat dari Allah. Dalam bahasa lain kalau engkau tidak mengejar dunia, maka dunia yang akan mengejarmu yang tentunya atas izin Allah. Jadi dengan cara zuhud kita bisa semakin dekat dengan Allah, hati kita tidak sibuk dengan dunia, dan ternyata dunia yang mengejar kita.

 

Allah yang mencukupkan dan memberi nikmat dalam hidup kita. Mental semacam ini adalah mentalitas zuhud, mungkin agak berbeda dengan kita. Kalau kita ini kan masih banyak ketakutan dalam hal duniawi. Yang baru lulus kulaih takut kalau besok tidak dapat pekerjaan, Yang sudah bekerja takut gajinya tidak cukup, yang jomlo takut kira-kira nanti saya bisa dapat jodoh apa tidak, ketakutan-ketakutan semacam ini menunjukkan kita belum masuk dalam kualifikasi orang yang zuhud.

 

Orang yang zuhud itu tidak ada takutnya pada urusan duniawi. Kalau urusan duniawi mau apapun yang terjadi, seorang yang zuhud itu akan ridho tapi bukan berarti tidak mau bekerja, bukan berarti tidak mau kaya. Menginginkan kaya oke saja, bekerjanya dilakukan sepenuh hati sebagai tanggung jawab kemanusiaan dan tanggung jawab ketuhanan, tapi hasilnya apa, buahnya seperti apa, ya tidak jadi ukuran dan tidak jadi hitungan. Satu-satunya ukuran dan hitungan hanya ridhonya Allah. Mental semacam ini namanya mental zuhud.

 

Imam Malik itu imam yang kaya, Beliau ini suka menggunakan baju - baju yang mewah, tetapi kekayaannya tidak melekat di hati.


Salam Hamdallah.
Mr.Aribcc
Blog http://arisukristi.blogspot.com
IG : mr.ari.bcc
Youtube : mr.aribcc

Kamis, 26 Agustus 2021

Menjadi Manusia

  


        Manusia itu Mulia Karena Ilmu, dan ilmu itu bisa didapat melalui pendidikan, makanya jangan  menganggap remeh pendidikan. Dunia terpenting dalam peradaban manusia adalah dunia pendidikan. Disitulah manusia tetap bisa bertahan dalam level makhluk yang paling mulia. Kita sering mendengar ungkapan “Jadilah kita manusia yang manusia”. Manusia yang manusia itu bisa ditemui di dunia pendidikan, kalau kita tidak lewat jalur pendidikan kita tidak akan bertemu ilmu, kalau kita tidak bertemu ilmu maka kemuliaan kita sebagai manusia dipertanyakan. Berbeda dengan yang bukan manusia seperti binatang itu tidak butuh ilmu, dia memakai insting.

Binatang itu apa-apa langsung bisa, langsung bisa sesuai standarnya. Seekor Ayam itu begitu lahir sudah bisa lari-lari tidak perlu belajar jalan, tidak harus merangkak dulu. Hewan sudah ada paketnya, berbeda dengan manusia. Manusia itu panjang masa belajarnya, dari lahir sampai bisa utuh lahir batinnya itu butuh waktu panjang, dan untuk menumbuhkan itu butuh yang namanya pendidikan. Itu yang membuat manusia tidak sama, kalau hewan sama semua, bebek itu sama semua,  tidak ada bebek yang tidak mau aku ikut bebek yang lain, tidak ada sapi yang berontak, wah ini bulan kurban, ayo kita berontak biar tidak disembelih. Bayangkan kalau itu manusia pasti sudah perang itu masa aku disembelih terus, tapi tidak yang bisa seperti itu hanya manusia yang bekalnya ilmu, sehingga derajatnya tinggi karena ilmunya.

 

Hal kedua, Lahirnya Peradaban itu Karena Ilmu, jadi melahirkan masyarakat yang beradab dan beretika. Kenapa dunia ini rusak dan tidak tertib itu jawabannya mudah, karena kurang ilmu atau salah ilmu. Keliru yang dipelajari atau tidak mau belajar. Sejak dulu kita berperang terus pada masalah yang sama dan tidak pernah selesai, mungkin kita tidak belajar, ilmu kita tidak tambah-tambah, harusnya kalau ilmunya bertambah kita berubah, tapi kok tidak berubah, berarti kita tidak belajar, kita tidak berbudaya dan beretika kenapa? karena ilmunya macet, tapi semua orang sekolah, mahasiswa banyak.

 

Dalam setahun itu kita menghasilkan banyak sarjana di seluruh Indonesia. Jika satu kampus jumlah mahasiswanya ada 600 orang yang di wisuda dan dalam setahun ada 4 kali wisuda, berarti dalam setahun mereka menghasilkan 2400 skripsi. Kalau saja satu skripsi itu belum bisa menyumbangkan apa - apa untuk masyarakat, tapi kalau dikali 2400 itu harusnya Indonesia ini makmur dihitung dari jumlah skripsinya, kita tidak akan kehabisan teori, tidak akan kebingungan mencari jawaban dari setiap masalah. Skripsi itu isi rumusan masalah dan kesimpulan, hanya saja pengamalannya yang tidak berjalan. Jika satu skripsi bisa mempengaruhi 100 orang misalnya, ada 2400 skripsi tinggal dikalikan, dari satu kampus belum kampus – kampus besar yang lain. Indonesia harus sudah jaya hanya dari skripsi saja, tapi mungkin kita kurang menghargai ilmu, sehingga ilmu itu berhentinya hanya di perpustakaan, berhentinya levelnya hanya di buku, kamu sudah bangga luar biasa kalau ilmumu terbit jadi buku. Itu pencapaian puncak, kamu merasa itu tapi sebenarnya belum. Jasanya ilmu itu meningkatkan kualitas hidupmu dan pada saatnya nanti melahirkan masyarakat yang beradab dan beretika.


 Hal yang ketiga, Ilmu itu Penting, bahkan lebih penting dan lebih utama daripada ibadah-ibadah yang sunnah. Kenapa ilmu lebih utama daripada ibadah sunnah, ibadah sunnah itu sifatnya individual hanya untuk diri sendiri, tapi kalau ilmu itu manfaatnya tidak hanya untuk pemiliknya, tapi juga untuk masyarakatnya. Membaca buku ataupun belajar itu dianggap lebih utama daripada hanya ibadah sunnah saja, misalnya kalau malam mau tahajud, kalau bisa jangan hanya tahajud saja, tapi ada belajarnya. Berfikir itu kan belajar, karena berfikir itu keutamaan biar diri ini bermanfaat, tidak hanya untuk diri sendiri, tapi juga manfaat untuk masyarakat. Jadi setiap kali kita belajar, mencari ilmu harus diniati selain mencari ridho Allah, meningkatkan kualitas hidup kita dan kualitas masyarakat kita. Dari situlah nanti akan lahir peradaban yang mulia dan beretika yang dasarnya adalah ilmu. 


Peradaban jaya ketika berlandaskan pada keilmuan, jaya bukan karena politiknya, dan bukan ekonominya. Ekonomi dan Politik itu adalah pendukung daripada ilmu dalam mencapai peradaban.


Salam Hamdallah.
Mr.Aribcc
Blog http://arisukristi.blogspot.com
IG : mr.ari.bcc
Youtube : mr.aribcc

Minggu, 20 Desember 2020

HASAN AL-BASHRI

 


1 HASAN AL-BASHRI

 =====================

Hasan bin Abil Hasan al-Bashri lahir di kota Madinah pada tahun 21H / 642. Ia adalah putera dari seorang budak yang ditangkap di Maisan, kemudian menjadi klien dari sekretaris Nabi Muhammad, Zaid bin Tsabit. Karena dibesarkan di Bashrah ia bertemu dengan banyak sahabat Nabi, antara lain - seperti yang dikatakan orang - dengan tujuh puluh sahabat yang turut dalam Perang Badar.Hasan tumbuh menjadi seorang tokoh di antara tokoh yang paling terkemuka pada zamannya. Dan ia termasyhur karena kesalehannya yang teguh, dan secara blak-blakan menentukan sikap kelompok atas yang berfoya-foya. Sementara teolog-teolog dari kalangan Mu'tazilah memandang Hasan sebagai pendiri gerakan mereka (“Amr bin 'Ubaid dan Wasil bin Atha” yang menjadi muridnya),

didalam higografi sufi, ia dimuliakan sebagai salah seorang di antara tokoh-tokoh suci yang terbesar pada masa awal sejarah Islam. Hasan meninggal di kota Bashrah pada tahun 110H / 728 M. Banyak pidato-pidatonya - memang ia adalah seorang yang cemerlang - dan ucap-ucapannya dikutip oleh penulis-penulis bangsa Arab dan tidak sedikit di antara surat-suratnya yang masih dapat kita saksikan hingga sekarang .

HASAN DARI BASHRAH BERTAUBAT

Pada mulanya Hasan dari Bashrah adalah seorang pedagang batu permata, karena ia dijuluki Hasan si pedagang mutiara. Hasan mempunyai hubungan dagang dengan Bizantium, karena itu ia berkepentingan denga para Jenderal dan Menteri Kaisar, dalam sebuah peristiwa ketika pengunjung ke Bizantium, kunjungi Perdana Menteri dan mereka berbincang-bincang beberapa saat.

 

“Jika Anda suka, kita akan pergi ke suatu tempat”, si menteri ajakan Hasan.

 

“Terserah kepadamu,” jawab Hasan, “Ke mana pun aku menurut.” Si  memerintahkan agar disediakan seekor kuda untuk Hasan.

 

Si naik ke punggung kudanya, Hasan pun melakukan hal yang serupa, setelah itu berangkatlah mereka menuju pdang pasir.Sesampainya di tempat tujuan, Hasan melihat sebuah tenda yang terbuat dari brokat Bizantium, diikat dengan tali sutra dan di pancang dengan tiang emas di atas tanah. Hasan berdiri di jejauhan.

 

Tak berapa lama kemudian muncul lah sepasukan tentara perkasa dengan perlengkapan perang yng sempurna.Mereka lalu berkunjung tenda itu, ia meggumamkan beberapa patah kata kemudian pergi. Setelah itu muncul para filosof dan cerdik pandai yang hampir empat ratus orang kesalahan. Mereka acara tenda itu, menggumamkan beberpa patah kata kemudian berlalu dari tempat itu. 

Datang lagi tigaratus orang-rang tua yang arif bijak sana dan berjanggut putih, mereka menghampiri dan kabar tenda itu, lalu menggumamkan beberapa patah kata, kemudian berlalu, Akhirnya datang pula lebih dari dua ratus perawan cantik masing-masing mengusung nampan penuh dengan emas, perak dan batu permata, mereka memuji tenda itu dan menggumamkan beberapa patah kata

kemudian pergi meniggalkannya. Hasan mengissahkan betapa ia sangat heran menyaksikan kejadian-kejadian itu dan bertanya kepada dirinya sendiri. Apakah artinya semuanya itu? “Ketika kami meninggalkan tempat itu”, Hasan menceritakan kisahnya,

 

“Aku bertanya kepada si perdana menteri, Si perdana menteri menjawab bahwa dahulu Kaisar mempunyai seorang putera yang tampan, menguasai berbagai cabang ilmu pengetahuan dan tak terkalahkan di dalam arena kegagah perkasaan. Kaisra 

sangat sayang kepada puteranya itu. Tanpa terduga-duga, pemuda jatuh sakit. Semua tabib paling baik sekalipun tidak mampu menyembuhkan penyakitnya. 

Akhirnya si pemuda putera mahkota itu meninggal dan dikuburkan di bawah naungan tenda tersebut. Setiap tahun orang-orang datang berziarah ke kuburannya ”.

 

Sepasukan tentara yang mula-mula kabar tenda tersebut berkata: “Wahai putera mahkota, seandainya malapetaka yang menimpa dirimu ini terjadi di medan pertempuran, kami semua akan membuat jiwa raga kami untuk menyelamatkanmu.Tetapi malapetaka yang menimmpamu ini datang dari Dia yang tak sanggup kami perangi dan tak dapat kami tantang ”.Setelah berucap seperti itu mereka pun berlalu dari tempat itu.

 

Kemudian tiba giliran giliran para filosof dan cerdik pandai. Mereka berkata: Malapetaka yag menimpa dirimu ini datang dari Dia yang tidak dapat 

kami lawan dengan ilmu pengetahuan.Filsafat dan tipu muslihat. Karena semua filosofi di atas bumi ini tidak berdaya menghadapi-Nya dan semua cerdik pandai 

hanya orang-orang dungu di hadapan-Nya.Jika tidak demikian halnya, kami telah berusaha dengan mengajukan dalih-dalih yang tak dapat di pantah siapa pun 

di alam semesta ini :. Setelah berucap demikian para filosof dan cerdik pandapi 

itu pun berlalu dari tempat tersebut.

 

Selanjutnya orang-orang tua yang mulia tampil seraya kata: 

“Mahkota Wahai putera, seandainya malapetaka yang menimpa dirimu ini dapat

dicegah oleh campur tangan orang-orang tua, niscaya kami telah mencegahnya 

dengan do'a do'a kami yang rendah hati ini, dan pastilah kami tidak akan 

meninggalkan engkau seorang diri di tempat ini. Tetapi malapetaka yang 

ditimpakan kepadamu datang dari Dia yang sedikit pun tak dapat 

dicegah oleh campurtangan manusia-manusia yang lemah ”. Setelah kata-kata ini

mereka ucapkan merekapun berlalu.

 

Kemudian dara-dara cantik dengan nampan-nampan yang berisi emas dan 

batu permata datang menghampiri, datanglah tenda itu dan berkata: “Wahai 

putera Kaisar, seandainya malapetaka yang menimpa dirimu ini bisa ditebus 

dengan kekayaan dan kecantikan, niscaya kami merelekan diri dan harta kekayaan 

kami yang Banyak ini untuk menebusmmu dan tidak kami tinggalkan engkau di 

tempat ini. Namun mala petaka ini ditimpakan oleh Dia yang tak dapat 

diandalkan oleh harta kekayaan dan kecantikan. ” Setelah kata-kata ini 

ucapkan, meninggalkan tempat itu.

 

Terakhir sekali Kaisar beserta perdana menteri tampil, masuk ke 

dalam tenda dan berkata: “Wahai biji mata dan pelita hati ayahanda! Wahai buah 

hati ayahanda! Apakah yang dapat dilakukan oleh ayahanda ini? Ayah 

handa telah mendatangkan sepasukan tentara yang perkasa, para filosof dan cerdik pandai, 

para pawang dan penasehat, dan dara-dara cantik yang jelita, harta benda dan 

segala macam barang-barang berharga.Dan ayahanda sendiri pun telah datang. 

Jika semua ini ada faedahnya, maka ayahanda pasti melakukan segala sesuatu yang 

dapat ayahanda lakukan. Tetapi malapetaka ini telah ditimpakan kepadamu oleh 

Dia yang tidak dapat dilawan oleh ayahanda beserta segala aparat, pasukan,

pengawall, harta benda dan barang-barang berharga ini. Semoga 

mendapat kesejahteraan, selamat tinggal sampai tahun yang akan datang. ” 

Kata-kata yang diucapkan sang Kaisar kemudian ia berlalalu dari tempat itu.

 

Pengisahan si menteri ini sangat menggugah hati Hasan. Ia tidak 

dapat melawan dia. Dengan segera ia bersiap-siap untuk kembali ke 

negerinya. Sesampainya di kota Bashrah ia bersumpah tidak akan tertawa lagi 

di atas dunia ini sebelum siaga dengan pasti bagaimana nasib 

yang akan dihadapinya nanti. Ia melakukan segalam macam kebaktian dan disiplin 

diri yang tak dapat ditandingi oleh siapa pun pada masa hidupnya.

 

HASAN DARI BASHRAH DAN 

ABU'AMR

 

Pada suatu hari, ketika Abu 'Amr, seorang ahli tafsir 

terkemuka sedang mengajar Al-Quran, tak disangka-sangka datanglah seorang 

pemuda tampan ikut mendengarkan pembahasanya. Abu 'Amr terpesona memandang 

pemuda dan secara mendadak lupalah ia akan setiap kata dan huruf 

dalam Al Quran. Ia sangat menyesal dan gelisah karena perbuatannya itu. Dalam 

keadaan seperti ini pegilah ia mengunjungi Hasan dari Bashrah untuk mengadukan 

kemasygulan hatinya itu.

 

"Guru." Abu 'Amr berkata sambil menangis dengan sedih, “Begitulah 

kejadiannya. Setiap kata dan huruf Al-Quran telah hilang dari ingatanku. ”

 

Hasan begitu terharu mendengar perasaan Abu 'Amr.

 

“Sekarang ini adalah musim haji.” Hasan berbicara. 

Pergilah ke Tanah Suci dan tunaikan ibadah haji. Sesudah ituu pegilah ke Masjid 

Khaif. Di sana engkau akan bertemu denga seorang tua. Jangan engkau langsung menegusnya 

tetapi tunggulah sampai keasyikannya tepat selesai. Setelah itu berulah 

engkau mohonkan agar ia mau berdoa untukmu. ”

 

Abu 'Amr menuruti petuah Hasan. Di pojok ruangan masjid Khaif, Abu 

'Amr melihat seorang tua yang patutu dimuliakan dan beberapa orang yang duduk mengambil 

dirinya. Beberapa saat kemudian masuklah seorang lelaki yang 

berpakaian putih bersih. Orang-orang itu memberi jalan kepadanya. Mengucapkan 

salam dan setelah itu mereka pun berbincang-bincang dengan dia. Ketika waktu 

shalat tiba, lelaki tersebut minta diri untuk meninggalkan tempat itu. 

Tidak berapa lama kemudian yang lain-lain pun pergi ke ula, sehingga 

tinggal di tempat itu hanyalah si orang tua tadi.

 

Abu 'Amr menghampirinya dan mengucapkan salam.

 

“Dengan Nama Allah, tolonglah diriku ini,” Abu 'Amr berkata sambil 

menangis. Kemudian menerangkan dukacita yang menimpa dirinya. Si orang tua 

sangat prihatin mendengar penuturan Abu 'Amr tersebut, lalu menegah kepala 

dan berdoa. “Belum lagi ia merendahkan sebuah,” Abu 'Amr mengisahkan, “Semua 

kata dan huruf Al Quran telah dapat ku ingat kembali. Aku bersujud di lapangan 

karena begitu syukurnya. ”

 

Siapa yang telah menyuruhmu untuk menghadap ke ku? ” Kata orang 

tua itu bertanya kepada Abu 'Amr.

 

“Hasan dari Bashrah,” Jawab Abu 'Amar.

 

“Jika seseorang telah mempunyai imam seperti Hasan.” Lelaki tua 

berkomentar, 'mengapa ia memerlukan imam yang lain? Tapi baiklah, 

Hasan telah menunjukan siapa diriku ini dan kini akan ku tunjukan siapakah dia 

sebenarnya. Ia telah membuka selubung diriku dan kini ku buka pula selubung 

dirinya, ”Kemudian orang tua itu”, “Lelaki yang berjubah putih tadi, 

yang datang ke sini setelh waktu shalat 'Ashar, dan yang terlebih dahulu 

meninggalkan tempat ini serta dihormati orang-orang lain tadi, ia adalah Hasan. 

Setiap hari setelah melakukan Shalat 'Ashar di Bashrah ia berkunjung ke 

sini, berbincang-bincang bersamaku, dan kembali lagi ke Bashrah untuk shalat

Maghrib di sana. Jika seseorang telah mempunyai imam seperti Hasan, mengapa ia 

masih merasa perlu memohonkan doa dari diriku ini? ”

 

HASAN DARI BASHRAH DAN 

PENYEMBAH API

 

Hasan mempunyai tetangga yang bernama Simeon, seorang penyembah 

api. Suatu hari Simeon jatuh sakit dan ajalnya hampir tiba. Sahabat-sahabat 

meminta -minta Hasan sudi mengunjunginya ,. Akhirnya Hasan pun pergi mendapatkan 

Simeon yang terbaring di atas tempat tidur dan badannya telah kelam karena api 

dan asap.

 

“Takutlah kepada Allah,” Hasan menaseharkan, “Engkau telah menyia-nyiakan seluruh usiamu di tengah-tengah api dan asap.”

 

“Ada tiga hal yang telah mencegahku untuk menjadi seorang Muslim,” jawab Simeon penyembah api. “Yang pertama adalah kenyataan bahwa walaupun 

kalian menghimpun keduniawian, tapi siang dan malam kalian mengejar harta kekayaan. Yang kedua, kalian mengatakan bahwa 

seseorang harus siap, namun kalina tidak siap-siap untuk menghadapinya. Yang 

ketiga, kalian mengatakan bahwa wajah Allah akan terlihat, namun hingga saat ini kalian melakukan segala sesuatu yang tidak di ridhai-Nya. ”

 

Inilah ucapan dari sungguh-sungguh-sungguh-sungguh, ”jawab Hasan. “Jika orang-orang Muslimberbuat seperti yang engkau 

katakan, apa pulakah yang semoga engkau katakan? Mereka mmengakui keesaan Allah 

sedang engaku menyembah api selama tujuh puluh tahun, dan aku tak pernah 

kebersamaan seperti itu. Jika kita sama-sama terseret ke dalam 

neraka, neraka neraka akan melakukan dirimu dan diriku, tetapi jika Allah, api tidak akan 

berani menghanguskan rambut pun pada tubuhku. Hal ini adalah karena api 

diciptakan Allah dan segala ciptaan-Nya tunduk kepada perintah-Nya. Walau pun 

engkau menyembah api selama tujuh puluh tahun, marilah kita bersama-sama

menaruh tangan kita ke dalam api agar engkau dapat menyaksikan sendiri betapa 

api itu sesunggunya tak berdaya betapa Allah itu Maha Kuasa. ”

 

Setelah berrkata demikian Hasan memasukan satukan ke dalam api. 

Namun sedikitpun ia tidak cedera atau terbakar. Menyaksikan hal ini Simeon 

terheran-heran. Fajar pengetahuan terlihat olehnya.

 

“Selama tujuh puluh tahun aku telah menyembah api,” keluhan 

Simeon, “kini hanya dengan satu atau dua helaan nafas ssaja yang tersisa, 

apakah yang harus ku lakukan?”

 

“Jadilah seorang Muslim,” jawab Hasan.

 

“Jika engkau memberiku sebuah jaminan tertulis bahwa Allah tidak 

akan menghukum diriku,” kata Simeon, “Barulah aku menjadi Muslim. Tanpa jaminan 

itu aku tidak mempelajari agama Islam. ”

 

Hasan segera membuat surat jaminan.

 

“Kini susullah orang-orang yang jujur ​​di kota Bashrah untuk 

memberikan kesaksian mereka di atas surat jaminan tersebut. Simeon mencucurkan 

air mata dan menyatakan dirinya sebagai seorang Muslim. Kepada Hasan ia 

sampaikan wasiatnya yang terakhir, “Setelah aku mati, mandikanlah aku dengan

tanganmu sendiri, kuburkanlah aku dan selipkan surat jaminan ini di tanganku. 

Surat ini akan menjadi bukti bahwa aku adalah seorang Muslim. ”

 

Setelah berwasiat demikian ia mengucap dua kalimah syahadat dan 

menghembuskan nafasnya yang terakhir.Mereka memandikan mayat Simeon, 

mendhalatkannya dan menguburkannya dengan sebuah surat jaminan di. 

Malam harinya Hasan pergi tidur sambil merenungi apa yang telah berlalu 

. “Bagaimana aku dapat menolong seseorang yang sedang tenggelam sedang aku 

sendiri dalam keadaan yang serupa. Aku sendiri tidak dapat menentukan nasibku, 

tetapi mengapa aku berani mematikan apa yang akan dilakukan oleh Allah? ”

 

Dengan pikiran-pikiran seperti ini Hasan terlena. Ia bermimpi 

bertemu dengan Simeon, wajah Simeon cerah dan bercahaya seperti sebuah pelita; 

di kepalanya terlihat sebuah mahkota. Ia melakukan sebuah jubah yang indah dan 

sedang berjalan-jalan di taman surga.

 

Bagaimana keadaanmu Simeon? tanya Hasan datang.

 

"Mengapakah engkau bertanya padahal engkau menyaksikan sendiri?" 

jawab Simeon. “Allah Yang Maha Besar dengan segala kemurahan-Nya telah 

menghidupi diriku kepada-Nya dan telah menutupi wajah-Nya kepadaku. 

Karunia yag dilimpahkan-Nya kepdaku melebihi segala kata-kata. Engkau telah 

memberiku sebuah surat jaminan, terimalah kembali surat jaminan ini karena aku 

tidak membutuhkannya lagi. ”

 

Ketika Hasan terbangun, ia mendapatkan surat jaminan itu telah berada di bawah kendali. “Ya Allah,” Hasan berseru, “aku menyadari bahwa segala 

sesuatu yng Engkau lakukan adalah tanpa sebab karena kemurahan-Mu sendiri- 

sendiri. Siapa yang akan tersesat di pintu-Mu? Engkau telah memberikan seseorang yang telah menyembah api tujuh puluh tahun, untuk menghampiri-Mu, 

sendiri-mata karena sebuah ucapan.Betapakah Engkau akan menolak seseorang yang 

telah beriman selama tujuh puluh tahun? ”

 

Sumber: Kisah ini diambil dari Kitab “Tadzkiratul Auliya”, “Warisan Para Auliya (terjemah)” Karya Fariduddin Attar.

 

 

----- والله اعلم بالصوب -------