Senin, 22 Desember 2025

“Mengapa Bulan Rajab menjadi bulan Istimewa?”


Assalamualaykum wr wb

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa di bulan-bulan mulia pasti didalamnya selalu memuat kisah-kisah istimewa. Begitu pula dengan bulan Rajab. 


Para sejarawan Islam menyebutkan bahwa salah satu peristiwa besar yang terjadi pada bulan Rajab ini adalah karena awal mula Nur Nubuwwah (Cahaya Kenabian) Rasulullah shallallahu alaihi wasallam diletakkan di rahim ibundanya, Siti Aminah pada bulan Rajab 


Syekh Yusuf bin Isma’il an-Nabhani dalam kitabnya, Al-Anwârul Muḫamamdiyah (yang disarikan dari kitab Mawâhibul Laddûniyah) menjelaskan, 


Ketika hendak menitipkan Nabi Muhammad dalam rahim Siti Aminah pada malam Jumu'ah di bulan Rajab, Allah swt memerintahkan Malaikat Ridwan (penjaga pintu surga) untuk membuka pintu Surga Firdaus sebagai bentuk penghormatan. 


Saat itu pula, terdengar seruan 8malaikat yang terdengar di langit dan bumi, 


“Perhatian..., sesungguhnya cahaya suci Nabi Muhammad saw, pada malam ini sudah berada dalam rahim Aminah. Dialah Muhammad saw, sosok manusia yang mempunyai akhlak mulia yang sempurna yang akan diutus sebagai pembawa kabar gembira sekaligus peringatan. (Yusuf bin Isma’il an-Nabhani, Al-Anwârul Muḫamamdiyah, [Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyah, 1997], h. 15) 


Jika merujuk pendapat ulama yang mengatakan Nabi lahir pada bulan Rabi’ul Awwal, maka jelas Nabi Muhammad saw berada dalam kandungan ibunya selama 9 bulan dimulai dari bulan Rajab. 


Menurut Syekh Az-Zurqani dalam Syarah Mawâhibul Laddûniyah, ini adalah pendapat yang shahih. (Az-Zurqani, Syarah Al-Mawahibul Ladduniyah, [Maktabah Syamilah Online], juz I, h. 257) 


Dalam hadits Ibnu Ishaq dijelaskan, Siti Aminah pernah menceritakan kisah saat dirinya sedang mengandung janin Nabi Muhammad, Ada suara tanpa terlihat rupanya yang berkata padanya, “Sungguh engkau sedang mengandung seorang pemimpin umat.” 


Lantas Aminah menimpali, “Aku tidak merasa bahwa diriku sedang hamil, juga tidak merasakan berat sebagaimana yang dirasakan oleh wanita hamil pada umumnya. Hanya saja, aku merasa janggal karena aku tidak mengalami datang bulan (yang menjadi salah satu ciri-ciri wanita hamil).” (Yusuf bin Isma’il an-Nabhani, h. 15) 

Wallahu A’lamu bisshowaab

Wassalamualaykum wr wb

Apa yang hari ini belum terlihat, bisa jadi sedang dipersiapkan menjadi kemuliaan besar—sebagaimana cahaya Muhammad ﷺ dititipkan dalam diam.

JANGAN LUPA BERPRASANGKA BAIK

Jumat, 19 Desember 2025

Kisah Akhlak Hasan al-Bashri

 

Orang beriman melihat luka sebagai ladang pahala.

Assalamualaykum wr wb

Hasan al-Bashri dikenal sebagai seorang ulama besar dengan akhlak yang luar biasa. Salah satu kisah paling masyhur tentang beliau adalah ketika ada seseorang yang menggibahi dan membuka aib beliau di hadapan banyak orang.

Suatu hari, Hasan al-Bashri mendapat kabar,
“Wahai Hasan, si Fulan telah menggibah dan membicarakan aibmu.”

Apa yang dilakukan Hasan al-Bashri?
Beliau tidak marah, tidak membalas, dan tidak menuntut permintaan maaf.

Sebaliknya, Hasan al-Bashri mengutus seseorang untuk mengantarkan makanan kepada orang yang telah menggibahinya. Bersama makanan itu, beliau menyampaikan pesan:

“Engkau telah menghadiahkan kepadaku pahala-pahala karena engkau menggibahku. Aku ingin membalas pemberianmu ini dengan makanan. Namun ketahuilah, pemberianku ini tidaklah sebanding dengan pemberianmu kepadaku.”

Subhanallah.
Beliau memandang ghibah bukan sebagai penghinaan, melainkan sebagai pemberian pahala.

Akhlak seperti ini bukan sesuatu yang lahir dalam semalam.
Ini bukan hasil mendengar satu ceramah, membaca satu tulisan, atau menonton satu video.
Ini adalah buah dari pendidikan iman dan adab selama bertahun-tahun.

Hasan al-Bashri dikenal menempuh perjalanan jauh hanya untuk belajar adab, bahkan adab duduk di majelis ilmu. Bagi beliau, ilmu bukan sekadar memenuhi kepala, tetapi mengubah karakter, kebiasaan, dan mental.

Perubahan akhlak tidak bisa dicapai dengan jalan pintas.
Tidak ada shortcut menuju kemuliaan akhlak.
Ada harga yang harus dibayar: kesungguhan, kesabaran, dan kebersamaan dengan orang-orang saleh (sohbat ash-shalihin).

Seseorang yang mendampingi orang-orang saleh, meski hanya beberapa bulan, akan merasakan perubahan dalam sikap, tutur kata, dan kebiasaan.
Karena akhlak itu menular, dan kebaikan itu dipelajari dengan kedekatan.

Wassalamualaykum wr wb

Dibalas ghibah dengan hadiah, bukan amarah.
JANGAN LUPA BERPRASANGKA BAIK

Kamis, 18 Desember 2025

Nasihat Ibnu ‘Atha’illah tentang Doa dan Ketentuan Allah


Doa yang lahir dari adab, naik langsung ke langit.

Assalamualaykum wr wb
Ibnu ‘Atha’illah rahimahullah menasihati bahwa janganlah seseorang menjadikan doanya sebagai sebab yang mewajibkan Allah untuk memberi. Doa bukanlah alat untuk memaksa kehendak Allah, melainkan sarana untuk menampakkan kehambaan dan ketundukan kepada-Nya.

Beliau berkata dalam maknanya:

“Jangan sampai permintaanmu menjadi sebab penentuan pemberian-Nya.”

Artinya, janganlah seseorang berdoa dengan keyakinan bahwa Allah harus mengabulkan sesuai waktu, cara, dan bentuk yang ia inginkan. Jika seseorang merasa demikian, maka itu menunjukkan kekurangan pemahamannya terhadap Allah.

Ibnu ‘Atha’illah menjelaskan bahwa tertundanya pengabulan doa bukan alasan untuk berputus asa. Penundaan itu bukan karena Allah pelit atau tidak mendengar, tetapi karena Allah memilih waktu yang paling tepat, bukan waktu yang dipilih oleh hamba-Nya.

Allah memberi:

  • Pada waktu yang Dia kehendaki,
  • Dengan cara yang Dia kehendaki,
  • Dan dengan bentuk yang paling bermanfaat bagi hamba-Nya.

Sering kali apa yang diminta seorang hamba belum tentu pantas baginya. Bisa jadi jika dikabulkan segera, hal itu justru akan membawa keburukan, kesombongan, atau menjauhkannya dari Allah. Karena itu, apa yang Allah tentukan lebih baik daripada apa yang diinginkan oleh hamba.

Ibnu ‘Atha’illah menegaskan bahwa hakikat doa bukan untuk mengubah ketentuan Allah, melainkan:

  • Menampakkan kelemahan diri,
  • Mengakui ketergantungan kepada Allah,
  • Menjalankan adab seorang hamba di hadapan Rabb-nya.

Maka, seorang hamba yang berdoa dengan benar adalah hamba yang ridha terhadap pilihan Allah, meskipun jawabannya datang lambat atau dalam bentuk yang tidak ia sangka.


Inti Nasihat Ibnu ‘Atha’illah

  • Doa bukan alat menekan Allah.
  • Penundaan doa adalah bentuk kasih sayang.
  • Pilihan Allah selalu lebih tepat daripada keinginan hamba.
Wassalamualaykum wr wb

Doa sejati adalah adab dan kehambaan.

JANGAN LUPA BERPRASANGKA BAIK

Kisah Nabi Isa ‘Alaihis Salam dan Hidangan dari Langit (Al-Mā’idah)



Nikmat yang tidak dijaga berubah menjadi ujian.

Assalamualaykum wr.wb
Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā mengisahkan tentang Nabi Isa ‘alaihis salam ketika beliau berdoa kepada Allah atas permintaan para pengikutnya (Al-Ḥawāriyyūn). Mereka meminta agar Allah menurunkan hidangan dari langit sebagai tanda kekuasaan-Nya dan sebagai penenang hati mereka.

Maka Nabi Isa pun berdoa dengan penuh adab dan ketundukan:

“Allāhumma rabbana anzil ‘alainā mā’idatan minas-samā’, takūnu lanā ‘īdan li-awwalinā wa ākhirinā…”

“Ya Allah, Tuhan kami, turunkanlah kepada kami hidangan dari langit, agar menjadi hari raya bagi kami, bagi orang-orang sebelum dan sesudah kami.”

Allah pun mengabulkan doa Nabi Isa. Inilah bukti bahwa Allah Maha Mendengar doa hamba-Nya yang ikhlas dan bertawakal. Namun, bersama pengabulan itu Allah memberikan peringatan yang sangat keras:

“Sesungguhnya Aku akan menurunkannya kepada kalian. Namun barang siapa yang kufur setelah itu, Aku akan mengazabnya dengan azab yang belum pernah Aku timpakan kepada siapa pun dari seluruh alam.”

Hidangan itu pun diturunkan oleh Allah melalui para malaikat. Di dalamnya terdapat makanan sebagai rezeki langsung dari langit. Namun Allah memberi syarat dan amanah kepada mereka:
makanan itu tidak boleh disimpan untuk hari esok, harus dimakan sesuai perintah-Nya, dan tidak boleh dikhianati.

Sebagian dari mereka tidak menaati perintah tersebut. Mereka menyimpan makanan itu, melanggar amanah Allah. Akibatnya, Allah menurunkan hukuman yang berat sebagai pelajaran besar bagi umat manusia, agar tidak meremehkan perintah Allah setelah mendapatkan nikmat dan bukti kekuasaan-Nya.


Pertanggungjawaban Nabi Isa di Hari Kiamat

Pada hari kiamat kelak, Allah memanggil Nabi Isa ‘alaihis salam dan menanyakan tentang umatnya. Pertanyaan itu bukan karena Allah tidak tahu, melainkan sebagai peringatan dan pelajaran bagi manusia.

Nabi Isa menjawab dengan penuh ketakutan, adab, dan ketundukan:

“Mahasuci Engkau ya Allah. Tidak pantas bagiku mengatakan sesuatu yang bukan hakku. Jika aku pernah mengatakannya, tentu Engkau Maha Mengetahuinya.”

Jawaban Nabi Isa menunjukkan:

  • Kejujuran seorang nabi
  • Tanggung jawab seorang pemimpin
  • Ketakutan kepada Allah meskipun beliau seorang rasul

Beliau tidak berani mengklaim atau membela diri dengan kebatilan. Semua diserahkan kepada ilmu dan keadilan Allah.


Pelajaran Besar dari Kisah Ini

  1. Doa tidak selalu berarti harus segera dikabulkan sesuai keinginan.
    Allah mengabulkan dengan cara dan waktu yang paling tepat.
  2. Nikmat besar disertai tanggung jawab besar.
    Semakin jelas bukti Allah, semakin berat amanahnya.
  3. Melanggar perintah setelah diberi nikmat adalah sebab kebinasaan.
  4. Setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban.
    Nabi, orang tua, guru, suami, pemimpin—semua akan ditanya.
Adab kepada Allah lebih utama daripada hasil.
Nabi Isa mengajarkan kerendahan hati, bukan pembelaan diri.

Wassalamualaykum wr.wb

Allah memberi bukan karena kita pantas,

tapi karena Dia Maha Pengasih.


JANGAN LUPA BERPRASANGKA BAIK

Selasa, 11 November 2025

Ilmu 3 Tahun, menjadi 1 Menit

 

“Kadang yang kau cari di puncak ilmu justru tersembunyi dalam kesederhanaan orang lain.”

Assalamualaykum wr wb

Suatu ketika, pada abad ke-18 di Italia, hiduplah seorang pemuda bernama Luka.

Selama lima tahun, ia menempuh pendidikan di Akademi Lukis ternama — tempat para bangsawan menitipkan anak-anak berbakat dalam seni. Luka dikenal sebagai murid terbaik: tekniknya rapi, komposisinya seimbang, dan setiap goresan kuasnya tampak sempurna.

Saat kelulusan tiba, semua yakin masa depan Luka akan gemilang. Benar saja, setelah ia membuka galeri kecil di pusat kota Florence, lukisan-lukisannya laku keras. Orang-orang memuji keindahan dan ketepatan warnanya. Luka pun menjadi terkenal dan kaya dalam waktu singkat.

Namun, di sisi lain jalan, ada seorang pelukis tua bernama Tuan Mario.
Ia bukan lulusan akademi, hanya pelukis jalanan sederhana yang hidup dari koin turis. Tapi sejak Luka datang, kios Mario semakin sepi — sampai suatu ketika, keadaan berbalik.

Ketika Warna Mulai Pudar

Lukisan-lukisan Luka yang dulu dipuja mulai memudar.
Warna-warnanya kusam, bentuknya kehilangan pesona.
Sementara itu, karya Tuan Mario justru semakin banyak dicari.
Warna-warnanya tetap cerah dan hidup meski telah bertahun-tahun berlalu.

Luka mulai gelisah. Ia mencoba mencari tahu rahasia sang pelukis tua: mencampur bahan baru, membeli cat dari Paris, membaca ulang buku-buku kuliah — namun semua gagal.
Semakin keras ia berusaha, semakin besar rasa frustrasinya.
Ia bahkan menjual beberapa lukisan lamanya untuk membiayai percobaan-percobaan baru.
Tiga tahun berlalu, dan seluruh tabungannya habis. Namun, rahasia itu tetap tak terpecahkan.

Ego dan Kejatuhan

Kini, galeri Luka sepi.
Lukisan-lukisan yang dulu digantung di rumah para bangsawan diturunkan karena pudar.
Ia kehilangan nama, uang, dan keyakinan diri.

Suatu malam, di studio yang berantakan, Luka duduk termenung di depan kanvas kosong.
Di tangannya, sepucuk surat dari gurunya di Akademi:

“Kau adalah harapan masa depan Italia.”

Ia menutup surat itu dengan mata basah.
“Lima tahun aku belajar teori warna, perspektif, dan anatomi, tapi seorang kakek jalanan bisa menyalipku hanya dengan satu rahasia cat…” gumamnya.

Untuk pertama kalinya dalam hidup, Luka merasa bodoh.
Ego dan gengsi telah menahannya untuk bertanya pada sang pelukis tua.

Pertemuan yang Merendahkan Hati

Suatu pagi yang sejuk, Luka akhirnya memberanikan diri menemui Tuan Mario.
Sang pelukis tua duduk tenang di bangku kayu, melukis pemandangan sungai dengan tangan yang gemetar, tapi mata yang teduh.

“Ah, anak muda,” sapa Mario dengan senyum hangat.
“Sudah lama aku tak melihatmu di sini. Bagaimana kabarmu?”

Luka terdiam beberapa saat, lalu berkata pelan,
“Tuan Mario… saya ingin bertanya tentang warna lukisan Anda.”

Mario menatapnya, lalu tertawa kecil.
“Akhirnya kamu datang juga. Aku tahu sejak awal kau akan bertanya. Tapi aku tak akan memberitahumu sebelum kau datang sendiri — dengan hati yang rendah.”

Ia lalu mengambil botol kecil dari bawah meja, meneteskan sedikit cairan ke cat merah, dan mengaduknya perlahan.
“Inilah rahasianya,” katanya sambil tersenyum.
“Setetes minyak biji rami.”

Luka terdiam lama.
Selama bertahun-tahun ia kehilangan segalanya, hanya karena gengsi untuk bertanya.
Satu pertanyaan yang seharusnya ia ajukan sejak dulu kini menyelamatkan hidupnya.

Tuan Mario menepuk bahunya lembut dan berkata,

“Jangan malu, anak muda. Aku pun dulu sepertimu.
Kadang butuh waktu lama bagi seseorang untuk mengerti bahwa ilmu sejati datang dari kerendahan hati, bukan dari gelar.”

Pelajaran yang Mengubah Hidup

Luka pulang ke studionya dengan hati yang ringan.
Ia mencoba menambahkan minyak biji rami ke dalam catnya, dan hasilnya menakjubkan — warnanya cerah, tajam, dan mengkilap.
Namun, yang lebih penting dari itu, ia menemukan makna sejati dalam belajar.

Bertahun-tahun kemudian, banyak pelukis muda datang belajar kepadanya.
Dan setiap kali ada murid yang sombong, Luka hanya tersenyum dan berkata:

“Jangan biarkan egomu lebih besar dari kuasmu,
karena terkadang rahasia terbesar dalam hidup
hanya butuh satu menit dan sedikit kerendahan hati untuk kamu temukan.”

Wassalamualaykum wr wb


“Kadang rahasia terbesar tak ada di buku, tapi di kerendahan hati untuk bertanya.”


JANGAN LUPA BERPRASANGKA BAIK 


Minggu, 09 November 2025

Kecerdikan Abu Nawas Memindahkan Istana Raja

Setiap jebakan bisa jadi jalan kemenangan, bila disikapi dengan ketenangan.


 
Assalamualaikum wr. wb

Suatu hari, Raja Harun Ar-Rasyid tampak tersenyum-senyum sendiri. Ia baru saja membaca kisah tentang Nabi Sulaiman, raja bijak yang memiliki kekuasaan luar biasa — bahkan mampu memindahkan istana Ratu Balqis hanya dengan izin Allah.

Dalam benaknya, sang Raja berkhayal,
“Alangkah indahnya bila istanaku berada di atas gunung. Aku bisa menikmati pemandangan negeriku dari ketinggian.”

Namun, ia kemudian tertawa kecil.
“Tapi… siapa yang sanggup melakukannya?” pikirnya.

Tiba-tiba ia teringat pada Abu Nawas. Sebuah senyum licik muncul di wajahnya.
“Ah, ini kesempatan bagus untuk menjebak Abu Nawas. Aku akan memerintahkannya memindahkan istana ini ke atas gunung. Kalau gagal, aku punya alasan untuk menghukumnya.”

Sang Raja pun memerintahkan prajurit untuk menjemput Abu Nawas.

Tantangan Mustahil dari Raja

Saat prajurit datang, Abu Nawas sedang beristirahat di rumahnya.
“Wahai Abu Nawas,” kata prajurit, “Paduka Raja memerintahkan engkau segera menghadap ke istana.”

Abu Nawas terkejut, tapi ia tak berani menolak.
Sesampainya di istana, ia langsung bersujud hormat.
“Apakah gerangan yang membuat Paduka memanggil hamba?” tanyanya.

Sang Raja tersenyum ramah.
“Abu Nawas, kemarilah dan duduklah di sampingku. Aku ingin berbicara.”

Abu Nawas pun duduk, sementara Raja mulai bercerita.
“Aku baru membaca kisah Nabi Sulaiman yang menakjubkan — beliau mampu memindahkan istana Ratu Balqis ke hadapannya. Setelah membaca itu, aku jadi ingin memindahkan istanaku ke atas gunung agar bisa menikmati pemandangan negeri ini dari sana.”

Abu Nawas menatap Raja dengan heran.
“Maksud Paduka… hamba diperintahkan untuk memindahkan istana Paduka ke atas gunung?”

“Betul sekali,” jawab sang Raja. “Aku tahu engkau cerdik, pasti bisa melakukannya. Tapi ingat, bila gagal, hukuman menantimu.”

Abu Nawas menelan ludah. Keringat dingin mulai membasahi dahinya. Ia tahu, itu mustahil. Namun, ia juga tahu, menolak berarti celaka.

Akhirnya, dengan terpaksa ia menjawab, “Baiklah, Paduka. Hamba akan mencoba.”

“Bagus,” kata Raja. “Aku beri kau waktu sebulan.”

Rencana Cerdik Abu Nawas

Hari demi hari berlalu, Abu Nawas tak kunjung menemukan ide. Ia memikirkan segala cara, namun semuanya tampak mustahil. Sampai akhirnya, sebuah ide cemerlang muncul di benaknya.

Tanpa menunggu waktu, ia langsung menghadap Raja.

“Wahai Abu Nawas,” kata Raja heran, “belum sebulan berlalu, apakah engkau sudah siap memindahkan istanaku?”

“Bukan begitu, Paduka,” jawab Abu Nawas tenang. “Hamba hanya ingin menyampaikan usul agar tugas besar ini berjalan lancar.”

“Apa usulmu itu?” tanya Raja.

“Sebentar lagi hari raya Idul Adha tiba — hari yang suci bagi umat Islam. Hamba bermaksud memindahkan istana Paduka tepat pada hari raya kurban itu.”

Raja tampak tertarik. “Aku setuju. Tapi apa syaratmu?”

“Syaratnya sederhana, Paduka,” jawab Abu Nawas. “Paduka harus menyembelih sepuluh ekor sapi gemuk untuk dibagikan kepada fakir miskin.”

Raja tersenyum puas. “Baiklah, aku setuju.”

Abu Nawas pun pamit pulang dengan perasaan lega dan gembira.

Hari Pemindahan Istana

Tibalah hari raya Idul Adha. Gema takbir berkumandang, menandakan hari suci telah tiba. Di istana, Raja dan para menterinya sudah berkumpul, menanti kedatangan Abu Nawas.

Tak lama kemudian, Abu Nawas muncul dengan wajah tenang. Semua mata tertuju padanya, penuh rasa ingin tahu.

“Wahai Paduka Raja,” katanya, “apakah semua orang sudah meninggalkan istana?”

“Sudah,” jawab Raja.

“Baiklah, kalau begitu, hamba akan mulai memindahkan istana Paduka.”

Abu Nawas lalu jongkok, menundukkan badan seolah bersiap mengangkat sesuatu yang berat. Ia diam cukup lama.

Raja yang heran akhirnya bertanya,
“Hai Abu Nawas, apa yang kau tunggu? Kenapa kau tidak segera memindahkan istanaku?”

Abu Nawas menjawab dengan tenang,
“Paduka yang mulia, hamba sudah siap sejak tadi. Hamba hanya sedang menunggu semua orang memindahkan tanah tempat istana berpijak ke atas pundak hamba, agar istana ini bisa hamba pindahkan ke gunung sesuai perintah Paduka.”

Raja terdiam. Para menteri saling pandang, lalu tertawa. Semua menyadari kecerdikan Abu Nawas.

Sang Raja akhirnya ikut tersenyum dan berkata,
“Abu Nawas, kau memang selalu punya cara untuk membuatku tak bisa marah.”

Dan sekali lagi, Abu Nawas lolos dari jebakan Raja dengan akalnya yang luar biasa.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Kecerdikan dan ketenangan hati mampu menaklukkan masalah sebesar gunung.


JANGAN LUPA BERPRASANGKA BAIK

ABU NAWAS MENDAPAT TANTANGAN BERBAHAYA

Humor yang lahir dari kecerdasan mampu menaklukkan keangkuhan.

 Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Suatu hari, di sebuah warung kopi, beberapa teman lama tengah asyik berbincang. Mereka membicarakan kecerdikan Abu Nawas yang selalu berhasil mengalahkan tantangan dari Raja Harun Ar-Rasyid.

“Abu Nawas memang luar biasa,” kata salah satu dari mereka. “Setiap kali Raja menantangnya, pasti dia menang dan pulang membawa hadiah.”

Namun, seorang di antara mereka tiba-tiba berkata dengan nada menantang,
“Aku punya ide tantangan yang pasti tidak akan bisa dilakukan Abu Nawas. Kalau dia berani melakukannya, bisa-bisa dia dipancung oleh Raja!”

Teman-temannya terkejut. “Tantangan apa itu?” tanya mereka penasaran.
“Aku akan menantang Abu Nawas… untuk memantati Paduka Raja!” jawabnya lantang.

Tak lama kemudian, Abu Nawas datang ke warung itu.
“Nah, itu dia orangnya!” seru salah satu dari mereka.

“Ada apa, kawan?” tanya Abu Nawas.

“Kami semua tahu, kamu sering membuat Paduka Raja kewalahan. Apa pun tantangan dari Raja selalu bisa kamu kalahkan. Tapi kali ini, kami punya tantangan untukmu — kalau berani!

Abu Nawas tersenyum tenang. “Tidak ada yang perlu ditakuti selain Allah,” jawabnya.

Temannya berkata, “Selama ini, belum ada seorang pun yang berani memantati Raja. Itu pelecehan berat, hukumannya pasti pancung.”

Abu Nawas mengangguk, “Tentu saja belum ada yang berani. Tapi kalau aku bisa melakukannya tanpa dihukum, apa hadiahnya?”

“Seratus keping emas,” jawab mereka. “Tapi syaratnya, Raja harus tertawa ketika kamu melakukannya.”

Abu Nawas tersenyum lebar. “Baiklah, aku terima tantangan itu.”

“Kapan kamu akan melakukannya?” tanya mereka.
“Minggu depan, saat jamuan kenegaraan di istana. Kalian boleh datang menyaksikannya,” jawab Abu Nawas mantap.

Hari yang Dinanti

Seminggu kemudian, tibalah hari jamuan besar di istana. Para menteri, pegawai kerajaan, dan tamu kehormatan telah berkumpul. Namun, Abu Nawas belum juga terlihat.

Teman-teman lamanya mulai berbisik, “Sepertinya dia takut. Akhirnya Abu Nawas kalah juga.”

Satu per satu sambutan disampaikan, hingga akhirnya tiba giliran Paduka Raja memberikan pidato penutup. Semua tamu diam menyimak.

Tiba-tiba, di tengah pidato itu, datanglah Abu Nawas. Ia tidak duduk di kursi para tamu, melainkan di atas tanah di halaman istana, paling belakang.

Raja melihatnya dan heran. “Hai Abu Nawas, majulah dan duduklah di atas karpet. Nanti pakaianmu kotor karena duduk di tanah.”

Ampun, Paduka yang mulia,” jawab Abu Nawas sopan. “Sebenarnya hamba sudah duduk di atas karpet.”

Raja bingung. “Karpet yang mana? Aku tak melihat kau membawa karpet.”

Abu Nawas menjawab, “Karpet hamba sendiri, Paduka. Sekarang hamba selalu membawanya ke mana pun pergi.”

Raja semakin penasaran. “Tunjukkan karpetmu itu,” perintahnya.

“Baiklah, Paduka yang mulia,” kata Abu Nawas sambil berdiri dan melangkah maju.

Begitu ia sampai di hadapan Raja, Abu Nawas berbalik badan dan menunduk sedikit. Tampaklah sepotong karpet kecil yang menempel di bagian belakang celananya.

Raja yang melihat pemandangan itu langsung terdiam sejenak, lalu meledak dalam tawa. “Hahaha! Abu Nawas, kau benar-benar tak pernah kehabisan akal!”

Seluruh tamu istana pun ikut tertawa terbahak-bahak.

Teman-teman Abu Nawas hanya bisa saling pandang, kagum dan malu. Mereka akhirnya mengakui kekalahannya. Tak ada yang menyangka, Abu Nawas bisa memantati Raja — tanpa menyinggung, malah membuat tertawa!

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Kecerdikan sejati bukan tentang mempermalukan, tapi tentang membuat orang tersenyum tanpa merasa direndahkan.

JANGAN LUPA BERPRASANGKA BAIK