Orang beriman melihat luka sebagai ladang pahala.
Assalamualaykum wr wb
Hasan al-Bashri dikenal sebagai seorang ulama besar dengan
akhlak yang luar biasa. Salah satu kisah paling masyhur tentang beliau adalah
ketika ada seseorang yang menggibahi dan membuka aib beliau di hadapan
banyak orang.
Suatu hari, Hasan al-Bashri mendapat kabar,
“Wahai Hasan, si Fulan telah menggibah dan membicarakan aibmu.”
Apa yang dilakukan Hasan al-Bashri?
Beliau tidak marah, tidak membalas, dan tidak menuntut permintaan maaf.
Sebaliknya, Hasan al-Bashri mengutus seseorang untuk
mengantarkan makanan kepada orang yang telah menggibahinya. Bersama makanan
itu, beliau menyampaikan pesan:
“Engkau telah menghadiahkan kepadaku pahala-pahala karena
engkau menggibahku. Aku ingin membalas pemberianmu ini dengan makanan. Namun
ketahuilah, pemberianku ini tidaklah sebanding dengan pemberianmu kepadaku.”
Subhanallah.
Beliau memandang ghibah bukan sebagai penghinaan, melainkan sebagai pemberian
pahala.
Akhlak seperti ini bukan sesuatu yang lahir dalam semalam.
Ini bukan hasil mendengar satu ceramah, membaca satu tulisan, atau menonton
satu video.
Ini adalah buah dari pendidikan iman dan adab selama bertahun-tahun.
Hasan al-Bashri dikenal menempuh perjalanan jauh hanya untuk
belajar adab, bahkan adab duduk di majelis ilmu. Bagi beliau, ilmu bukan
sekadar memenuhi kepala, tetapi mengubah karakter, kebiasaan, dan mental.
Perubahan akhlak tidak bisa dicapai dengan jalan pintas.
Tidak ada shortcut menuju kemuliaan akhlak.
Ada harga yang harus dibayar: kesungguhan, kesabaran, dan kebersamaan dengan
orang-orang saleh (sohbat ash-shalihin).
Seseorang yang mendampingi orang-orang saleh, meski hanya
beberapa bulan, akan merasakan perubahan dalam sikap, tutur kata, dan
kebiasaan.
Karena akhlak itu menular, dan kebaikan itu dipelajari dengan
kedekatan.
Wassalamualaykum wr wb
Dibalas ghibah dengan hadiah, bukan amarah.
JANGAN LUPA BERPRASANGKA BAIK
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar