Assalamualaykum wr.wb
Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā mengisahkan tentang Nabi Isa
‘alaihis salam ketika beliau berdoa kepada Allah atas permintaan para
pengikutnya (Al-Ḥawāriyyūn). Mereka meminta agar Allah menurunkan hidangan dari
langit sebagai tanda kekuasaan-Nya dan sebagai penenang hati mereka.
Maka Nabi Isa pun berdoa dengan penuh adab dan ketundukan:
“Allāhumma rabbana anzil ‘alainā mā’idatan minas-samā’,
takūnu lanā ‘īdan li-awwalinā wa ākhirinā…”
“Ya Allah, Tuhan kami, turunkanlah kepada kami hidangan dari
langit, agar menjadi hari raya bagi kami, bagi orang-orang sebelum dan sesudah
kami.”
Allah pun mengabulkan doa Nabi Isa. Inilah bukti
bahwa Allah Maha Mendengar doa hamba-Nya yang ikhlas dan bertawakal. Namun,
bersama pengabulan itu Allah memberikan peringatan yang sangat keras:
“Sesungguhnya Aku akan menurunkannya kepada kalian. Namun
barang siapa yang kufur setelah itu, Aku akan mengazabnya dengan azab yang
belum pernah Aku timpakan kepada siapa pun dari seluruh alam.”
Hidangan itu pun diturunkan oleh Allah melalui para
malaikat. Di dalamnya terdapat makanan sebagai rezeki langsung dari langit.
Namun Allah memberi syarat dan amanah kepada mereka:
makanan itu tidak boleh disimpan untuk hari esok, harus dimakan sesuai
perintah-Nya, dan tidak boleh dikhianati.
Sebagian dari mereka tidak menaati perintah tersebut.
Mereka menyimpan makanan itu, melanggar amanah Allah. Akibatnya, Allah
menurunkan hukuman yang berat sebagai pelajaran besar bagi umat manusia,
agar tidak meremehkan perintah Allah setelah mendapatkan nikmat dan bukti
kekuasaan-Nya.
Pertanggungjawaban Nabi Isa di Hari Kiamat
Pada hari kiamat kelak, Allah memanggil Nabi Isa ‘alaihis
salam dan menanyakan tentang umatnya. Pertanyaan itu bukan karena Allah tidak
tahu, melainkan sebagai peringatan dan pelajaran bagi manusia.
Nabi Isa menjawab dengan penuh ketakutan, adab, dan
ketundukan:
“Mahasuci Engkau ya Allah. Tidak pantas bagiku mengatakan
sesuatu yang bukan hakku. Jika aku pernah mengatakannya, tentu Engkau Maha
Mengetahuinya.”
Jawaban Nabi Isa menunjukkan:
- Kejujuran
seorang nabi
- Tanggung
jawab seorang pemimpin
- Ketakutan
kepada Allah meskipun beliau seorang rasul
Beliau tidak berani mengklaim atau membela diri dengan
kebatilan. Semua diserahkan kepada ilmu dan keadilan Allah.
Pelajaran Besar dari Kisah Ini
- Doa
tidak selalu berarti harus segera dikabulkan sesuai keinginan.
Allah mengabulkan dengan cara dan waktu yang paling tepat. - Nikmat
besar disertai tanggung jawab besar.
Semakin jelas bukti Allah, semakin berat amanahnya. - Melanggar
perintah setelah diberi nikmat adalah sebab kebinasaan.
- Setiap
pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban.
Nabi, orang tua, guru, suami, pemimpin—semua akan ditanya.
Nabi Isa mengajarkan kerendahan hati, bukan pembelaan diri.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar