Kamis, 18 Desember 2025

Kisah Nabi Isa ‘Alaihis Salam dan Hidangan dari Langit (Al-Mā’idah)



Nikmat yang tidak dijaga berubah menjadi ujian.

Assalamualaykum wr.wb
Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā mengisahkan tentang Nabi Isa ‘alaihis salam ketika beliau berdoa kepada Allah atas permintaan para pengikutnya (Al-Ḥawāriyyūn). Mereka meminta agar Allah menurunkan hidangan dari langit sebagai tanda kekuasaan-Nya dan sebagai penenang hati mereka.

Maka Nabi Isa pun berdoa dengan penuh adab dan ketundukan:

“Allāhumma rabbana anzil ‘alainā mā’idatan minas-samā’, takūnu lanā ‘īdan li-awwalinā wa ākhirinā…”

“Ya Allah, Tuhan kami, turunkanlah kepada kami hidangan dari langit, agar menjadi hari raya bagi kami, bagi orang-orang sebelum dan sesudah kami.”

Allah pun mengabulkan doa Nabi Isa. Inilah bukti bahwa Allah Maha Mendengar doa hamba-Nya yang ikhlas dan bertawakal. Namun, bersama pengabulan itu Allah memberikan peringatan yang sangat keras:

“Sesungguhnya Aku akan menurunkannya kepada kalian. Namun barang siapa yang kufur setelah itu, Aku akan mengazabnya dengan azab yang belum pernah Aku timpakan kepada siapa pun dari seluruh alam.”

Hidangan itu pun diturunkan oleh Allah melalui para malaikat. Di dalamnya terdapat makanan sebagai rezeki langsung dari langit. Namun Allah memberi syarat dan amanah kepada mereka:
makanan itu tidak boleh disimpan untuk hari esok, harus dimakan sesuai perintah-Nya, dan tidak boleh dikhianati.

Sebagian dari mereka tidak menaati perintah tersebut. Mereka menyimpan makanan itu, melanggar amanah Allah. Akibatnya, Allah menurunkan hukuman yang berat sebagai pelajaran besar bagi umat manusia, agar tidak meremehkan perintah Allah setelah mendapatkan nikmat dan bukti kekuasaan-Nya.


Pertanggungjawaban Nabi Isa di Hari Kiamat

Pada hari kiamat kelak, Allah memanggil Nabi Isa ‘alaihis salam dan menanyakan tentang umatnya. Pertanyaan itu bukan karena Allah tidak tahu, melainkan sebagai peringatan dan pelajaran bagi manusia.

Nabi Isa menjawab dengan penuh ketakutan, adab, dan ketundukan:

“Mahasuci Engkau ya Allah. Tidak pantas bagiku mengatakan sesuatu yang bukan hakku. Jika aku pernah mengatakannya, tentu Engkau Maha Mengetahuinya.”

Jawaban Nabi Isa menunjukkan:

  • Kejujuran seorang nabi
  • Tanggung jawab seorang pemimpin
  • Ketakutan kepada Allah meskipun beliau seorang rasul

Beliau tidak berani mengklaim atau membela diri dengan kebatilan. Semua diserahkan kepada ilmu dan keadilan Allah.


Pelajaran Besar dari Kisah Ini

  1. Doa tidak selalu berarti harus segera dikabulkan sesuai keinginan.
    Allah mengabulkan dengan cara dan waktu yang paling tepat.
  2. Nikmat besar disertai tanggung jawab besar.
    Semakin jelas bukti Allah, semakin berat amanahnya.
  3. Melanggar perintah setelah diberi nikmat adalah sebab kebinasaan.
  4. Setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban.
    Nabi, orang tua, guru, suami, pemimpin—semua akan ditanya.
Adab kepada Allah lebih utama daripada hasil.
Nabi Isa mengajarkan kerendahan hati, bukan pembelaan diri.

Wassalamualaykum wr.wb

Allah memberi bukan karena kita pantas,

tapi karena Dia Maha Pengasih.


JANGAN LUPA BERPRASANGKA BAIK

Tidak ada komentar:

Posting Komentar