Senin, 29 Desember 2025

KEHEBATAN SHALAWAT NARIYAH

Jangan remehkan tugas sederhana—di sanalah kemuliaan sering disembunyikan.

Assalamualaykum wr wb


RAHASIA MBAH HASYIM MENGAJI SELAMA 120 TAHUN


40 TAHUN MENGAJI KEPADA IMAM BUKHARI, 


40 TAHUN MENGAJI KEPADA IMAM SYAFI'I, 


40 TAHUN MENGAJI KEPADA IMAM JUNAIDI DAN IMAM GHAZALI


================


Alkisah :


Ketika Mbah Hasyim nyantri di Bangkalan Madura beliau diberi tugas mengurusi kuda milik Mbah Kholil hingga kesempatan untuk ngajipun tidak banyak. 


Suatu hari Mbah Kholil kedatangan tamu seorang Kyai dari Jawa


Ketika tamu tersebut ditanya keperluannya apa, tamu tersebut langsung mengutarakan keperluannya kepada Mbah Kholil.


Tamu: “Mbah, saya datang kesini pertama niat silaturrahim dan yang kedua saya hendak menikahkan putri saya mengingat dia sudah cukup dewasa kiranya saya harus mencarikan jodoh untuknya 


Apalagi usia saya juga sudah di ambang pintu ajal yang tak lama lagi Allah pasti memanggil saya 


Untuk itu saya mohon petunjuk dan izin Kyai untuk mencarikannya”.


Tanpa berfikir panjang Mbah Kholil langsung memanggil Mbah Hasyim yang ada di belakang rumah beliau yang sedang ngurusi kuda. 


Mbah Hasyim yang mendengar suara gurunya memanggil spontan langsung lari menghadap sang guru.


Mbah Hasyim: “Iya Kyai Njenengan manggil saya?”


Mbah Kholil: “Iya”.

Tanpa banyak tanya lagi Mbah Hasyim langsung diam merunduk, lalu Mbah Kholil berkata kepada tamu beliau. Ini dia calon menantumu yang akan meneruskan perjuanganmu nanti 


Tamu pun terkejut tegang dan tak habis fikir sambil bergumam dalam hatinya, masa iya sih santri seperti ini akan mengurus pesantrenku? Sepertinya saya tidak yakin bila anak ini banyak ilmunya.


Mbah Hasyim sendiri pun terkejut, sambil bergumam dalam hatinya, masa iya ya Mbah Kholil tega akan menjodohkan saya dengan putrinya ulama’ yang begitu mulia, santrinya banyak dan berwibawa


Mbah Kholil lalu menyambung dawuhnya apa yang keduanya pikirkan.


Mbah Kholil: “Sudahlah kamu (tamu) pulang saja dan siapkan selamatannya di rumahmu. Tiga hari lagi aqad nikah dilaksanakan. 


Dan kamu Hasyim kembali ke belakang!”


Mbah Hasyim pun kembali ke tempat tugasnya dengan hati yang risau, pikiran kacau balau dan perasaan galau,


“Bagaimana saya bisa menjalani ini semua, kenapa guru tidak memberi tau sebelumnya atau paling tidak menawarkannya?” 


Gundah gulana bimbang ragu dan bingung terus berkecamuk dalam fikiran Mbah Hasyim. 


Di saat-saat seperti itulah tiba-tiba Hidayah Allah ditampakkan...


Bersambung.... 


SHALAWAT NARIYAH 


اللَّهُمَّ صَلِّ صَلاَةً كَامِلَةً وَسَلِّمْ سَلاَمًا تَامًّا عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍنِ الَّذِيْ تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقَدُ وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ وَتُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ وَتُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ وَحُسْنُ الْخَوَاتِيْمِ وَيُسْتَسْقَى الْغَمَامُ بِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ فيْ كُلِّ لَمْحَةٍ وَ نَفَسٍ بِعَدَدِ كُلِّ مَعْلُوْمٍ لَكَ


Allahumma sholli sholaatan kaamilatan wasallim salaaman. Taamman ‘ala sayyidina Muhammadinilladzi tanhalu bihil ‘uqodu wa tanfariju bihil kurobu. Wa tuqdhoo bihil hawaaiju wa tunaalu bihir roghooibu.


Wa husnul khowatiimi wa yustasqol ghomaamu biwajhihil kariimi wa ‘ala aalihi washohbihi fii kulli lamhatin wa nafasin bi’adadi kulli ma’lu mi lak


Artinya : “Ya Allah, limpahkanlah shalawat yang sempurna dan curahkanlah salam kesejahteraan yang penuh kepada junjungan kami Nabi Muhammad, 


Yang dengan sebab Nabi SAW 

Semua kesulitan dapat terpecahkan, Semua kesusahan dapat dilenyapkan, Semua keperluan dapat terpenuhi, Semua yang didambakan terkabul serta husnul khatimah dapat diraih, dan berkat diri nabi Muhammad yang mulia yang mulia hujanpun menjadi turun, 


Dan juga terlimpahkan kepada keluarganya serta para sahabatnya, di setiap detik dan hembusan nafas sebanyak bilangan semua yang diketahui oleh Engkau.”

Wassalamualaykum wr wb

Saat manusia meragukanmu, bisa jadi Allah sedang memilihmu.

JANGAN LUPA BERPRASANGKA BAIK

Minggu, 28 Desember 2025

Ketika Sayap Tak Lagi Dipercaya

“Mengikuti keramaian sering membuat kita lupa tujuan.”

Assalamualaykum wr wb
Ada sebuah kisah tentang seekor burung gagak yang terlalu sering berjalan di atas tanah. Karena kebiasaan itu, ia kehilangan kemampuannya untuk melangkah dengan baik, namun juga tidak lagi mampu terbang sebagaimana ia diciptakan. Ia tidak benar-benar menjadi pelari, tetapi juga kehilangan jati dirinya sebagai makhluk yang seharusnya terbang.

Kisah ini mengingatkan kita pada kehidupan manusia. Banyak dari kita yang mudah terombang-ambing oleh komentar orang lain—komentar yang sering kali datang dari mereka yang tidak sungguh-sungguh mengenal diri kita. Orang lain hanya melihat dari luar, sementara kitalah yang paling memahami diri kita secara mendalam: kekuatan, keterbatasan, tujuan, dan jalan hidup kita sendiri.

Namun sering kali, demi mendapatkan validasi, pujian, atau sekadar agar tidak ditolak, kita mengorbankan pemahaman kita terhadap diri sendiri. Kita mulai menyesuaikan diri dengan harapan orang lain, hingga perlahan-lahan menjauh dari jati diri kita. Akibatnya, seperti burung gagak tadi, kita tidak sungguh-sungguh menjadi apa pun: tidak optimal pada potensi asli, dan gagal dalam peran yang dipaksakan.

Karena itu, perjalanan hidup seharusnya diawali dengan pengenalan diri, lalu dilanjutkan dengan keberanian untuk menjadi diri sendiri. Ketika kita telah memahami siapa diri kita dan apa tujuan hidup kita, saat itulah kita perlu berdiri teguh di jalan yang kita yakini.

Al-Qur’an mengingatkan,
“Jika engkau mengikuti kebanyakan manusia di muka bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka hanya mengikuti persangkaan belaka dan tidak lain hanyalah berdusta.”

Pesannya jelas: tidak semua suara layak diikuti, dan tidak semua penilaian orang lain harus menjadi arah hidup kita.

Wassalamualaykum wr wb

“Kau diciptakan untuk terbang, bukan untuk memenuhi selera penonton.”

JANGAN LUPA BERPRASANGKA BAIK

“Seteguk Air dan Nilai Sebuah Kekuasaan”

 

Syukur bukan tentang memiliki segalanya, tetapi menyadari betapa berharganya hal-hal yang kita anggap sepele.

Assalamualaykum wr wb

Suatu hari, Khalifah Harun Al-Rasyid, penguasa besar di masanya yang dikenal cinta ilmu, bertemu dengan seorang sufi bernama Ibnu Sam’an. Dalam pertemuan itu, sang khalifah meminta nasihat darinya.

Ibnu Sam’an lalu berkata dengan tenang,
“Wahai Amirul Mukminin, seandainya minuman yang ada di hadapanmu ini dihalangi darimu, padahal engkau sangat haus, maukah engkau menebusnya dengan seluruh kerajaan yang engkau miliki?”

Harun Al-Rasyid menjawab jujur,
“Ya, tentu saja.”

Ibnu Sam’an melanjutkan,
“Baik. Sekarang bayangkan setelah engkau minum, engkau ingin buang air kecil, tetapi air seni itu tertahan dan tidak bisa keluar. Rasa sakitnya amat menyiksa. Maukah engkau menebus agar bisa buang air kecil dengan seluruh kerajaanmu?”

Sang khalifah kembali menjawab,
“Ya, tentu saja.”

Ibnu Sam’an pun menutup nasihatnya dengan kalimat yang mengguncang,
“Kalau begitu, wahai Amirul Mukminin, apa arti kerajaan yang engkau banggakan, jika nilainya bahkan tidak sebanding dengan seteguk air dan kemampuan buang air kecil?”

Harun Al-Rasyid terdiam. Ia menyadari bahwa nikmat yang selama ini dianggap sepele—air minum dan kesehatan tubuh—ternyata nilainya jauh lebih besar daripada kekuasaan dan harta yang ia miliki.

Kisah ini mengajarkan bahwa Allah telah menganugerahkan nikmat yang sangat mahal kepada manusia, namun sering kali kita lalai mensyukurinya. Padahal, satu nikmat kecil saja, jika dicabut, mampu membuat manusia rela menukar apa pun yang ia punya.

Wassalamualaykum wr wb

Kebahagiaan sejati lahir dari kesadaran, bukan dari kekuasaan.

JANGAN LUPA BERPRASANGKA BAIK

“Kesalahan dalam Meminta”

 

“Mintalah ampunan, bukan penderitaan.”

Assalamualaykum wr wb

Suatu hari, Rasulullah ﷺ mengunjungi seorang sahabat yang sedang sakit parah. Tubuhnya tampak kurus, lemah, dan tak berdaya, seakan penyakit itu telah menguras seluruh tenaganya. Melihat keadaan sahabatnya, Rasulullah ﷺ—dengan petunjuk dari Allah—bertanya dengan lembut,
“Apakah engkau pernah berdoa kepada Allah dengan permintaan yang tidak biasa?”

Sahabat itu terdiam sejenak, lalu teringat doanya di masa lalu. Ia berkata,
“Wahai Rasulullah, dahulu aku pernah berdoa: ‘Ya Allah, jangan Engkau siksa aku di akhirat karena dosa-dosaku. Jika Engkau hendak menyiksaku, maka jadikan siksaan itu di dunia saja.’”

Doa itu ternyata dikabulkan. Penyakit berat yang kini menimpanya adalah buah dari permintaannya sendiri.

Rasulullah ﷺ terkejut dan menegurnya dengan penuh kasih,
“Subhanallah, engkau tidak akan sanggup menanggungnya. Tidakkah lebih baik jika engkau berdoa:
Rabbanaa aatinaa fid-dunyaa hasanah, wa fil-aakhirati hasanah, wa qinaa ‘adzaaban-naar?”

Seakan Rasulullah ﷺ ingin menegaskan: bukankah Allah Maha Kuasa untuk memberi kebaikan sekaligus di dunia dan di akhirat? Mengapa manusia sering berdoa dengan permintaan yang setengah-setengah, bahkan memberatkan diri sendiri, seolah-olah Allah harus memilih antara satu kebaikan dan kebaikan lainnya?

Kisah ini mengajarkan bahwa sering kali pikiran kitalah yang membuat hidup terasa sempit. Kita sendiri yang memberi syarat-syarat aneh dalam doa, membebani diri dengan nazar dan harapan yang tidak proporsional, seakan kebaikan Allah itu terbatas.

Padahal, Allah Maha Luas rahmat-Nya. Yang dibutuhkan adalah mindset yang benar: berani berharap pada kebaikan yang utuh, tanpa merendahkan diri dengan prasangka bahwa kita hanya layak menderita.

Wassalamualaykum wr wb

“Doa yang salah bukan ditolak, tetapi bisa memberatkan diri sendiri.”

JANGAN LUPA BERPRASANGKA BAIK

Pelajaran dari Kutub Selatan

 

“Masalah kecil menjadi mematikan ketika diberi porsi berlebihan.”

Assalamualaykum wr wb

Seorang admiral dari Amerika Serikat yang dikenal sebagai penjelajah Kutub Selatan pernah menuliskan pengalamannya selama ekspedisi di wilayah paling ekstrem di bumi. Suhu di sana bisa mencapai 80 derajat di bawah nol, kondisi yang sedikit saja kesalahan—salah pakaian, salah perlengkapan—dapat langsung mengancam nyawa.

Namun, hal yang paling mengherankan bagi sang admiral bukan hanya ganasnya alam, melainkan perilaku manusia di dalamnya. Di tengah ancaman kematian yang nyata, para awak justru sering terlibat konflik akibat hal-hal yang sangat sepele. Mereka bertengkar karena ada yang melewati jatah waktu tidur, jengkel karena suara kunyahan teman saat makan, atau berselisih karena kebiasaan kecil yang sebenarnya tidak berarti apa-apa.

Sang admiral menyaksikan bagaimana masalah-masalah kecil mampu merampas kejernihan akal, bahkan pada orang-orang yang seharusnya sangat disiplin dan terlatih. Padahal, setiap detik hidup mereka berada di ujung bahaya. Ironisnya, justru hal-hal remeh itulah yang diberi porsi perhatian terlalu besar, sementara persoalan paling utama—bagaimana bertahan hidup—sering terabaikan.

Dari pengalaman itu, sang admiral menarik satu pelajaran penting: bukan semua masalah layak dibesarkan. Ada persoalan yang memang ada, tetapi ada pula masalah yang jauh lebih besar dan lebih mendesak yang sering kita anggap sepele. Ketika fokus kita salah, hal kecil bisa menghancurkan ketenangan, bahkan di saat hidup sedang dipertaruhkan.

Wassalamualaykum wr wb

“Hidup terancam bukan hanya oleh badai, tapi oleh fokus yang keliru.”

JANGAN LUPA BERPRASANGKA BAIK

Senin, 22 Desember 2025

BULAN RAJAB BULAN ISTIGHFAR DAN BERTAUBAT

 

Istighfar bukan sekadar penghapus dosa, tetapi kunci yang Allah siapkan untuk membuka rezeki, ketenangan, dan jalan keluar.

Assalamualaykum wr wb

Betapa hebatnya istighfar, bukan hanya sebagai tolak balak turun dari Allah, membaca istighfar juga dapat menyelesaikan persoalan-persoalan hidup kita di dunia ini. Sebagaimana di kisahkan oleh syekh Muhammad Shodiq al-Musnawi dalam kitabnya Abwabul Faraj, beliau mengisahkan seorang laki-laki menemui kepada syeikh Hasan al-Bashri dan bercerita tentang kesulitan hidup yang dialaminya. 

Syeikh Hasan al-Bashri kemudian menasihatinya, “Bacalah istighfar!” Si laki-laki bertanya, “Kenapa harus membaca istighfar?” Syeikh Hasan al-Bashri menjawab dengan firman Allah [QS. Nuh 10-12)

Kejadian yang sama pernah dialami oleh Syaikhuna KH. Muhammad Kholil bin Abdillatif Bangkalan Madura, seorang waliyullah yang merupakan guru dari kyai-kyai besar di Jawa dan Madura. 

Suatu hari, Syaikhuna Kholil didatangi oleh tiga tamu dengan kepentingan yang berbeda-beda. Tamu pertama menemui beliau mengadukan daerah tempat tinggalnya mengalami musim kemarau yang berkepanjangan. Ia diutus oleh masyarakat desanya untuk menemui Syaikhuna Kholil untuk meminta ijazah atau doa. Syaikhuna pun berpesan kepadanya, “Perbanyaklah istighfar!” 

Giliran tamu yang kedua menghadap, usaha dagang yang dijalaninya selalu merugi. Syaikhuna pun berpesan kepadanya agar memperbanyak istighfar. Setelah tamu kedua keluar, masuklah tamu ketiga menghadap kepada Syaikhuna karena bertahun-tahun istrinya belum juga hamil. Syaikhuna memberi ijazah yang sama, yaitu perbanyaklah membaca istighfar. 

Akhirnya ketiga tamu itu pulang dan mereka menyeberang selat Madura menuju ujung dengan perahu yang sama. Di atas perahu mereka berbincang-bincang, saling bercerita tentang maksud tujuannya menemui Syaikhuna Kholil Bangkalan. 

Mereka kaget karena Syaikhuna memberi ijazah yang sama. Kembalilah mereka ke bangkalan dengan maksud menanyakan perihal kesamaan ijazah padahal masalahnya berbeda. Sesampainya di kediaman syaikhuna, mereka bertanya tentang kesamaan ijazah tersebut? Dengan bijaksana, Syaikhuna Kholil menyuruh ketiga tamunya untuk mengambil air wudhu dan membawa Al-Qur’an. 

Dibukalah Al-Qur’an surat Nuh ayat 10-12 seperti yang tertera di atas. Akhirnya Syaikhuna dawuh, “Apapun masalah kalian, apapun problem kalian, dan apapun kesulitan kalian kuncinya hanya satu, perbanyaklah istighfar!” 

Junjungan dan panutan kita, baginda Rasulullah SAW yang merupakan seorang yang ma’shum, terjaga dari dosa, setiap harinya selalu beristighfar minimal 70 kali, bhkan dalam riwayat lain hingga 100 kali

مَنْ لَزِمَ الْإسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللّٰهُ لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيْقٍ مَخْرَجًا وَمِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرجًا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ رواه أبو داود

Rasulullah SAW bersabda, “Siapa saja mengekalkan bacaan istighfar, niscaya Allah jadikan baginya sebuah jalan keluar di tengah kesempitan dan sebuah kelonggaran di tengah kesumpekan; dan Allah kucurkan rezeki kepadanya dari jalan yang ia tidak perhitungkan.

Bulan Rajab dikenal dengan bulan Istighfar, mari sambut bulan mulia ini dengan memperbanyak Istighfar dan bertaubat kepada Allah SWT 

رَبِّ اغْفِرْلِيْ وَارْحَمْنِيْ وَتُبْ عَلَيَّ

Wahai Tuhanku, berikanlah ampunan kepadaku, rahmatilah aku, dan terimalah taubatku.

Wasssalamualaykum wr wb

Rajab mengajarkan bahwa taubat bukan tanda kelemahan, melainkan awal turunnya pertolongan Allah.

JANGAN LUPA BERPRASANGKA BAIK

“Mengapa Bulan Rajab menjadi bulan Istimewa?”


Assalamualaykum wr wb

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa di bulan-bulan mulia pasti didalamnya selalu memuat kisah-kisah istimewa. Begitu pula dengan bulan Rajab. 


Para sejarawan Islam menyebutkan bahwa salah satu peristiwa besar yang terjadi pada bulan Rajab ini adalah karena awal mula Nur Nubuwwah (Cahaya Kenabian) Rasulullah shallallahu alaihi wasallam diletakkan di rahim ibundanya, Siti Aminah pada bulan Rajab 


Syekh Yusuf bin Isma’il an-Nabhani dalam kitabnya, Al-Anwârul Muḫamamdiyah (yang disarikan dari kitab Mawâhibul Laddûniyah) menjelaskan, 


Ketika hendak menitipkan Nabi Muhammad dalam rahim Siti Aminah pada malam Jumu'ah di bulan Rajab, Allah swt memerintahkan Malaikat Ridwan (penjaga pintu surga) untuk membuka pintu Surga Firdaus sebagai bentuk penghormatan. 


Saat itu pula, terdengar seruan 8malaikat yang terdengar di langit dan bumi, 


“Perhatian..., sesungguhnya cahaya suci Nabi Muhammad saw, pada malam ini sudah berada dalam rahim Aminah. Dialah Muhammad saw, sosok manusia yang mempunyai akhlak mulia yang sempurna yang akan diutus sebagai pembawa kabar gembira sekaligus peringatan. (Yusuf bin Isma’il an-Nabhani, Al-Anwârul Muḫamamdiyah, [Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyah, 1997], h. 15) 


Jika merujuk pendapat ulama yang mengatakan Nabi lahir pada bulan Rabi’ul Awwal, maka jelas Nabi Muhammad saw berada dalam kandungan ibunya selama 9 bulan dimulai dari bulan Rajab. 


Menurut Syekh Az-Zurqani dalam Syarah Mawâhibul Laddûniyah, ini adalah pendapat yang shahih. (Az-Zurqani, Syarah Al-Mawahibul Ladduniyah, [Maktabah Syamilah Online], juz I, h. 257) 


Dalam hadits Ibnu Ishaq dijelaskan, Siti Aminah pernah menceritakan kisah saat dirinya sedang mengandung janin Nabi Muhammad, Ada suara tanpa terlihat rupanya yang berkata padanya, “Sungguh engkau sedang mengandung seorang pemimpin umat.” 


Lantas Aminah menimpali, “Aku tidak merasa bahwa diriku sedang hamil, juga tidak merasakan berat sebagaimana yang dirasakan oleh wanita hamil pada umumnya. Hanya saja, aku merasa janggal karena aku tidak mengalami datang bulan (yang menjadi salah satu ciri-ciri wanita hamil).” (Yusuf bin Isma’il an-Nabhani, h. 15) 

Wallahu A’lamu bisshowaab

Wassalamualaykum wr wb

Apa yang hari ini belum terlihat, bisa jadi sedang dipersiapkan menjadi kemuliaan besar—sebagaimana cahaya Muhammad ﷺ dititipkan dalam diam.

JANGAN LUPA BERPRASANGKA BAIK

Jumat, 19 Desember 2025

Kisah Akhlak Hasan al-Bashri

 

Orang beriman melihat luka sebagai ladang pahala.

Assalamualaykum wr wb

Hasan al-Bashri dikenal sebagai seorang ulama besar dengan akhlak yang luar biasa. Salah satu kisah paling masyhur tentang beliau adalah ketika ada seseorang yang menggibahi dan membuka aib beliau di hadapan banyak orang.

Suatu hari, Hasan al-Bashri mendapat kabar,
“Wahai Hasan, si Fulan telah menggibah dan membicarakan aibmu.”

Apa yang dilakukan Hasan al-Bashri?
Beliau tidak marah, tidak membalas, dan tidak menuntut permintaan maaf.

Sebaliknya, Hasan al-Bashri mengutus seseorang untuk mengantarkan makanan kepada orang yang telah menggibahinya. Bersama makanan itu, beliau menyampaikan pesan:

“Engkau telah menghadiahkan kepadaku pahala-pahala karena engkau menggibahku. Aku ingin membalas pemberianmu ini dengan makanan. Namun ketahuilah, pemberianku ini tidaklah sebanding dengan pemberianmu kepadaku.”

Subhanallah.
Beliau memandang ghibah bukan sebagai penghinaan, melainkan sebagai pemberian pahala.

Akhlak seperti ini bukan sesuatu yang lahir dalam semalam.
Ini bukan hasil mendengar satu ceramah, membaca satu tulisan, atau menonton satu video.
Ini adalah buah dari pendidikan iman dan adab selama bertahun-tahun.

Hasan al-Bashri dikenal menempuh perjalanan jauh hanya untuk belajar adab, bahkan adab duduk di majelis ilmu. Bagi beliau, ilmu bukan sekadar memenuhi kepala, tetapi mengubah karakter, kebiasaan, dan mental.

Perubahan akhlak tidak bisa dicapai dengan jalan pintas.
Tidak ada shortcut menuju kemuliaan akhlak.
Ada harga yang harus dibayar: kesungguhan, kesabaran, dan kebersamaan dengan orang-orang saleh (sohbat ash-shalihin).

Seseorang yang mendampingi orang-orang saleh, meski hanya beberapa bulan, akan merasakan perubahan dalam sikap, tutur kata, dan kebiasaan.
Karena akhlak itu menular, dan kebaikan itu dipelajari dengan kedekatan.

Wassalamualaykum wr wb

Dibalas ghibah dengan hadiah, bukan amarah.
JANGAN LUPA BERPRASANGKA BAIK

Kamis, 18 Desember 2025

Nasihat Ibnu ‘Atha’illah tentang Doa dan Ketentuan Allah


Doa yang lahir dari adab, naik langsung ke langit.

Assalamualaykum wr wb
Ibnu ‘Atha’illah rahimahullah menasihati bahwa janganlah seseorang menjadikan doanya sebagai sebab yang mewajibkan Allah untuk memberi. Doa bukanlah alat untuk memaksa kehendak Allah, melainkan sarana untuk menampakkan kehambaan dan ketundukan kepada-Nya.

Beliau berkata dalam maknanya:

“Jangan sampai permintaanmu menjadi sebab penentuan pemberian-Nya.”

Artinya, janganlah seseorang berdoa dengan keyakinan bahwa Allah harus mengabulkan sesuai waktu, cara, dan bentuk yang ia inginkan. Jika seseorang merasa demikian, maka itu menunjukkan kekurangan pemahamannya terhadap Allah.

Ibnu ‘Atha’illah menjelaskan bahwa tertundanya pengabulan doa bukan alasan untuk berputus asa. Penundaan itu bukan karena Allah pelit atau tidak mendengar, tetapi karena Allah memilih waktu yang paling tepat, bukan waktu yang dipilih oleh hamba-Nya.

Allah memberi:

  • Pada waktu yang Dia kehendaki,
  • Dengan cara yang Dia kehendaki,
  • Dan dengan bentuk yang paling bermanfaat bagi hamba-Nya.

Sering kali apa yang diminta seorang hamba belum tentu pantas baginya. Bisa jadi jika dikabulkan segera, hal itu justru akan membawa keburukan, kesombongan, atau menjauhkannya dari Allah. Karena itu, apa yang Allah tentukan lebih baik daripada apa yang diinginkan oleh hamba.

Ibnu ‘Atha’illah menegaskan bahwa hakikat doa bukan untuk mengubah ketentuan Allah, melainkan:

  • Menampakkan kelemahan diri,
  • Mengakui ketergantungan kepada Allah,
  • Menjalankan adab seorang hamba di hadapan Rabb-nya.

Maka, seorang hamba yang berdoa dengan benar adalah hamba yang ridha terhadap pilihan Allah, meskipun jawabannya datang lambat atau dalam bentuk yang tidak ia sangka.


Inti Nasihat Ibnu ‘Atha’illah

  • Doa bukan alat menekan Allah.
  • Penundaan doa adalah bentuk kasih sayang.
  • Pilihan Allah selalu lebih tepat daripada keinginan hamba.
Wassalamualaykum wr wb

Doa sejati adalah adab dan kehambaan.

JANGAN LUPA BERPRASANGKA BAIK

Kisah Nabi Isa ‘Alaihis Salam dan Hidangan dari Langit (Al-Mā’idah)



Nikmat yang tidak dijaga berubah menjadi ujian.

Assalamualaykum wr.wb
Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā mengisahkan tentang Nabi Isa ‘alaihis salam ketika beliau berdoa kepada Allah atas permintaan para pengikutnya (Al-Ḥawāriyyūn). Mereka meminta agar Allah menurunkan hidangan dari langit sebagai tanda kekuasaan-Nya dan sebagai penenang hati mereka.

Maka Nabi Isa pun berdoa dengan penuh adab dan ketundukan:

“Allāhumma rabbana anzil ‘alainā mā’idatan minas-samā’, takūnu lanā ‘īdan li-awwalinā wa ākhirinā…”

“Ya Allah, Tuhan kami, turunkanlah kepada kami hidangan dari langit, agar menjadi hari raya bagi kami, bagi orang-orang sebelum dan sesudah kami.”

Allah pun mengabulkan doa Nabi Isa. Inilah bukti bahwa Allah Maha Mendengar doa hamba-Nya yang ikhlas dan bertawakal. Namun, bersama pengabulan itu Allah memberikan peringatan yang sangat keras:

“Sesungguhnya Aku akan menurunkannya kepada kalian. Namun barang siapa yang kufur setelah itu, Aku akan mengazabnya dengan azab yang belum pernah Aku timpakan kepada siapa pun dari seluruh alam.”

Hidangan itu pun diturunkan oleh Allah melalui para malaikat. Di dalamnya terdapat makanan sebagai rezeki langsung dari langit. Namun Allah memberi syarat dan amanah kepada mereka:
makanan itu tidak boleh disimpan untuk hari esok, harus dimakan sesuai perintah-Nya, dan tidak boleh dikhianati.

Sebagian dari mereka tidak menaati perintah tersebut. Mereka menyimpan makanan itu, melanggar amanah Allah. Akibatnya, Allah menurunkan hukuman yang berat sebagai pelajaran besar bagi umat manusia, agar tidak meremehkan perintah Allah setelah mendapatkan nikmat dan bukti kekuasaan-Nya.


Pertanggungjawaban Nabi Isa di Hari Kiamat

Pada hari kiamat kelak, Allah memanggil Nabi Isa ‘alaihis salam dan menanyakan tentang umatnya. Pertanyaan itu bukan karena Allah tidak tahu, melainkan sebagai peringatan dan pelajaran bagi manusia.

Nabi Isa menjawab dengan penuh ketakutan, adab, dan ketundukan:

“Mahasuci Engkau ya Allah. Tidak pantas bagiku mengatakan sesuatu yang bukan hakku. Jika aku pernah mengatakannya, tentu Engkau Maha Mengetahuinya.”

Jawaban Nabi Isa menunjukkan:

  • Kejujuran seorang nabi
  • Tanggung jawab seorang pemimpin
  • Ketakutan kepada Allah meskipun beliau seorang rasul

Beliau tidak berani mengklaim atau membela diri dengan kebatilan. Semua diserahkan kepada ilmu dan keadilan Allah.


Pelajaran Besar dari Kisah Ini

  1. Doa tidak selalu berarti harus segera dikabulkan sesuai keinginan.
    Allah mengabulkan dengan cara dan waktu yang paling tepat.
  2. Nikmat besar disertai tanggung jawab besar.
    Semakin jelas bukti Allah, semakin berat amanahnya.
  3. Melanggar perintah setelah diberi nikmat adalah sebab kebinasaan.
  4. Setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban.
    Nabi, orang tua, guru, suami, pemimpin—semua akan ditanya.
Adab kepada Allah lebih utama daripada hasil.
Nabi Isa mengajarkan kerendahan hati, bukan pembelaan diri.

Wassalamualaykum wr.wb

Allah memberi bukan karena kita pantas,

tapi karena Dia Maha Pengasih.


JANGAN LUPA BERPRASANGKA BAIK