Minggu, 28 Desember 2025

Ketika Sayap Tak Lagi Dipercaya

“Mengikuti keramaian sering membuat kita lupa tujuan.”

Assalamualaykum wr wb
Ada sebuah kisah tentang seekor burung gagak yang terlalu sering berjalan di atas tanah. Karena kebiasaan itu, ia kehilangan kemampuannya untuk melangkah dengan baik, namun juga tidak lagi mampu terbang sebagaimana ia diciptakan. Ia tidak benar-benar menjadi pelari, tetapi juga kehilangan jati dirinya sebagai makhluk yang seharusnya terbang.

Kisah ini mengingatkan kita pada kehidupan manusia. Banyak dari kita yang mudah terombang-ambing oleh komentar orang lain—komentar yang sering kali datang dari mereka yang tidak sungguh-sungguh mengenal diri kita. Orang lain hanya melihat dari luar, sementara kitalah yang paling memahami diri kita secara mendalam: kekuatan, keterbatasan, tujuan, dan jalan hidup kita sendiri.

Namun sering kali, demi mendapatkan validasi, pujian, atau sekadar agar tidak ditolak, kita mengorbankan pemahaman kita terhadap diri sendiri. Kita mulai menyesuaikan diri dengan harapan orang lain, hingga perlahan-lahan menjauh dari jati diri kita. Akibatnya, seperti burung gagak tadi, kita tidak sungguh-sungguh menjadi apa pun: tidak optimal pada potensi asli, dan gagal dalam peran yang dipaksakan.

Karena itu, perjalanan hidup seharusnya diawali dengan pengenalan diri, lalu dilanjutkan dengan keberanian untuk menjadi diri sendiri. Ketika kita telah memahami siapa diri kita dan apa tujuan hidup kita, saat itulah kita perlu berdiri teguh di jalan yang kita yakini.

Al-Qur’an mengingatkan,
“Jika engkau mengikuti kebanyakan manusia di muka bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka hanya mengikuti persangkaan belaka dan tidak lain hanyalah berdusta.”

Pesannya jelas: tidak semua suara layak diikuti, dan tidak semua penilaian orang lain harus menjadi arah hidup kita.

Wassalamualaykum wr wb

“Kau diciptakan untuk terbang, bukan untuk memenuhi selera penonton.”

JANGAN LUPA BERPRASANGKA BAIK

Tidak ada komentar:

Posting Komentar